Alergi makanan pada anak adalah masalah kesehatan yang umum terjadi. Cara terbaik mencegah alergi kambuh adalah dengan menghindari makanan pemicu alergi anak.
Apa Penyebab Alergi Makanan?
Alergi makanan pada anak terjadi ketika sistem imun yang seharusnya melawan penyakit justru bereaksi berlebihan terhadap protein dalam makanan.
Tubuh menganggap zat ini sebagai ancaman, lalu melepaskan histamin dan senyawa kimia lain yang memicu gejala alergi.
Faktor genetik juga berperan besar dalam munculnya alergi. Anak dengan riwayat keluarga yang memiliki alergi lebih berisiko mengalami alergi makanan.
Apa Ciri-Ciri Anak Alergi Makanan?
Alergi makanan pada anak bisa muncul dalam hitungan menit hingga jam setelah makan pemicunya, dengan reaksi yang ringan hingga berat.
Ciri-ciri anak alergi makanan di antaranya:
- Mual atau muntah,
- Diare,
- Sakit atau kram perut,
- Ruam atau bentol-bentol di kulit,
- Wajah bengkak,
- Eksim (kulit kering, merah, dan gatal),
- Bibir, lidah, atau mulut terasa gatal atau bengkak,
- Tenggorokan terasa gatal atau seperti tercekik,
- Sulit bernapas atau mengi,
- Tekanan darah menurun disertai rasa pusing atau mau pingsan.
Daftar Makanan Pemicu Alergi Anak
Berikut adalah beberapa makanan yang bisa memicu reaksi alergi:
1. Susu Sapi
Alergi susu sapi adalah salah satu jenis alergi makanan pada anak di bawah usia 16 tahun yang paling umum terjadi.
Protein susu sapi dapat menimbulkan alergi baik dalam bentuk susu murni atau makanan olahan yang terbuat dari susu seperti es krim, keju, yogurt, krim, dan kue.
2. Kuning Telur
Telur juga termasuk salah satu makanan pemicu alergi anak yang paling umum. Beberapa anak mungkin tidak sepenuhnya alergi pada telur utuh, tapi bisa hanya terhadap bagian kuningnya saja.
Anak mungkin alergi terhadap beberapa jenis protein dalam telur, seperti albumin, globulin, lesitin, isozim, dan itellin.
Baca Juga: 10 Ciri Anak Alergi Susu Sapi dan Pengobatannya
3. Putih Telur
Dibanding kuning telur, bagian putih telur lebih sering menyebabkan alergi makanan pada anak.
Gejalanya tidak jauh berbeda dengan alergi kuning telur, yakni menyebabkan alergi kulit seperti ruam dan gatal serta pembengkakan pada wajah.
Selain tidak mengonsumsi telur, si Kecil juga perlu menghindari kue, puding, dan mayonaise yang ditambahkan putih telur.
4. Ikan
Ikan adalah sumber protein yang populer selain telur, tetapi sering menjadi makanan pemicu alergi anak. Jenis ikan yang umumnya menyebabkan alergi meliputi tuna, tongkol, dan salmon.
Beberapa anak mungkin hanya alergi terhadap jenis ikan tertentu, sementara lainnya tidak dapat makan ikan sama sekali.
5. Kerang
Anak yang alergi ikan juga bisa alergi terhadap kerang. Sama seperti alergi ikan, reaksi alergi terhadap makanan laut ini dapat menyebabkan gatal-gatal, muntah, dan diare.
Alergi makanan laut biasanya disebabkan oleh zat tropomiosin, yang salah dikenali sistem imun sebagai zat berbahaya. Ini memicu produksi antibodi dan pelepasan histamin, yang menyebabkan reaksi alergi.
6. Udang, Kepiting, dan Lobster
Dibanding kerang, kepiting, lobster, dan udang lebih sering menjadi pemicu alergi makanan pada anak. Namun bila si Kecil memiliki alergi udang, belum tentu ia alergi terhadap makanan laut lainnya.
Sebab ada anak yang memiliki alergi udang saja, ada anak yang alergi ikan dan udang, ada yang hanya alergi terhadap kepiting saja, dan ada pula yang alergi udang dan kerang.
Untuk memastikan si Kecil alergi apa, Bunda perlu mengamati kondisi si Kecil setelah mengonsumsi makanan laut selain udang dan lobster.
Baca Juga: Alternatif Makanan untuk Anak 1 Tahun ke Atas yang Alergi Protein
7. Kacang Tanah
Kacang tanah adalah kacang-kacangan yang termasuk dalam famili yang sama dengan kedelai, kacang polong, dan lentil, bukan kacang yang tumbuh dari pohon seperti hazelnut, pistachio, atau almond.
Setidaknya ada 11 jenis protein dalam kacang tanah yang teridentifikasi dapat menyebabkan alergi.
Kacang tanah adalah salah satu makanan pemicu alergi anak yang bisa menyebabkan syok anafilaksis, yaitu reaksi alergi parah yang berpotensi mematikan dan memerlukan penanganan cepat.
8. Biji Wijen
Protein yang ada pada biji wijen bisa memicu reaksi alergi pada anak. Tak cuma dalam bentuk biji-bijian, wijen juga tersedia dalam bentuk minyak.
Bila anak memiliki alergi wijen, pastikan menu makanannya bebas dari bahan ini. Sebagai gantinya, Bunda bisa mengganti minyak biji wijen dengan minyak kanola atau minyak zaitun.
9. Daging Merah
Jika si Kecil mengalami kembung, mual, sakit perut, atau gatal-gatal setelah mengonsumsi daging merah (daging sapi, daging kambing, daging domba, babi) ini tandanya si Kecil memiliki alergi.
Jika anak alergi terhadap daging merah, ia tetap bisa mendapatkan protein hewani dari daging ayam maupun telur.
10. Tomat
Bunda mungkin tidak tahu, jika tomat masuk dalam deretan makanan pemicu alergi anak. Tomat mengandung protein profilin yang dapat memicu sistem imun tubuh menghasilkan zat bernama IgE.
Kemunculan IgE dapat memicu pelepasan histamin yang menyebabkan gejala alergi, seperti kulit gatal atau bengkak.
11. Cokelat
Meski disukai, cokelat bisa menimbulkan alergi pada sebagian anak karena mengandung alergen seperti tiramin, feniletilamin, theobromine, kafein, perasa tambahan, dan pengemulsi.
Bunda perlu berhati-hati karena variasi makanan anak yang mengandung cokelat sangat banyak.
Selalu perhatikan komposisi permen, kue, atau camilan lainnya sebelum diberikan kepada si Kecil.
12. Tepung Gandum
Tepung gandum termasuk makanan pemicu alergi anak yang perlu Bunda hindari. Kandungan protein gandum, seperti albumin, globulin, gliadin, dan gluten sering kali jadi biang keladi munculnya alergi.
Tepung gandum biasanya ada pada roti, kue, pasta, dan biskuit. Selain pada makanan, protein gluten kadang juga ditemukan pada mainan lilin dan produk mandi anak.
13. Daging Ayam
Alergi daging ayam tidak umum terjadi, tetapi dapat menyebabkan ketidaknyamanan atau bahkan berbahaya pada sebagian orang.
Pada beberapa kasus, si Kecil mungkin tidak memiliki alergi daging ayam saat bayi. Namun ketika bertambah dewasa, ia bisa saja memiliki kondisi ini.
Salah satu zat pemicu alergi yang ada pada daging ayam adalah albumin.
Cara Mendiagnosis Alergi Makanan pada Anak
Diagnosis alergi pada anak dengan tepat membantu mencegah reaksi alergi berulang dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Berikut beberapa cara mendiagnosis alergi makanan pada anak:
1. Pemeriksaan Riwayat Klinis dan Observasi
Dokter akan menggali riwayat kesehatan anak, termasuk riwayat alergi keluarga. Langkah ini penting untuk mengidentifikasi potensi faktor genetik pemicu alergi.
Selain itu, dokter akan mengamati kapan dan bagaimana gejala muncul setelah makan. Observasi ini membantu mempersempit kemungkinan makanan penyebab alergi.
2. Tes Kulit (Skin Prick Test) dan Tes Darah (IgE)
Tes kulit dilakukan untuk mendeteksi reaksi alergi langsung terhadap 50 jenis alergen sekaligus. Pada anak, tes ini biasanya dilakukan di area punggung bagian atas.
Sementara itu, tes darah bertujuan mengukur kadar antibodi IgE dalam tubuh. Kadar IgE yang tinggi menandakan adanya respons imun terhadap alergen tertentu.
3. Uji Eliminasi dan Provokasi Makanan
Langkah ini dimulai dengan menghilangkan makanan yang dicurigai memicu alergi dari menu si Kecil selama beberapa minggu. Tujuannya untuk melihat apakah gejala membaik saat makanan tersebut dihindari.
Setelah itu, makanan dicoba kembali secara perlahan dalam pengawasan medis. Jika muncul reaksi, maka makanan tersebut kemungkinan besar adalah penyebab alergi makanan pada anak.
Cara Mengatasi Alergi Makanan pada Anak
Menangani alergi makanan pada anak perlu pendekatan yang tepat dan konsisten. Berikut beberapa cara yang bisa Bunda lakukan untuk mengatasinya:
1. Menghindari Alergen
Orang tua perlu diedukasi untuk cermat membaca label makanan dan memahami istilah bahan tersembunyi yang bisa memicu alergi. Selain itu, pengaturan menu harian anak perlu dilakukan agar tetap bergizi meski tanpa alergen pemicu.
2. Terapi Medis dan Penggunaan Antihistamin
Orang tua bisa memberikan antihistamin saat anak mengalami reaksi alergi ringan seperti gatal atau ruam. Untuk kasus yang lebih serius, dokter anak atau dokter spesialis alergi akan meresepkan penanganan yang sesuai.
3. Imunoterapi Alergen (Desensitisasi)
Ini adalah terapi jangka panjang untuk mengurangi sensitivitas terhadap alergen tertentu. Biasanya terapi dilakukan dengan pemberian dosis kecil alergen secara bertahap di bawah pengawasan dokter.
Baca Juga: 8 Kebutuhan Nutrisi untuk Anak yang Alergi Susu Sapi
Lalu jika si Kecil tidak cocok dengan susu sapi, dokter mungkin bisa merekomendasikan mengganti susu sapi dengan alternatif susu nabati untuk anak yang tidak cocok susu sapi, seperti SGM Eksplor ISOPRO SOY.
SGM Eksplor ISOPRO SOY dilengkapi dengan nutrisi sebaik susu sapi yang mengandung IronC, DHA 100% berkualitas dari minyak ikan tuna, tinggi vitamin D & kalsium, serta bebas laktosa dari isolat protein soya. Lebih Cepat Atasi Gejalanya, Lebih Baik Eksplorasinya!
Jangan lupa untuk mendaftarkan diri sebagai anggota , Bun! Bunda bisa mendapatkan beragam informasi seputar anak, mulai dari nutrisi, kesehatan, hingga tumbuh kembang.