Perkembangan otak anak dapat memengaruhi kemampuan belajar, sosial, emosi, dan motorik si Kecil. Ketahui tahapan perkembangan otak sesuai usia anak dan cara stimulasinya.
Tahapan Perkembangan Otak Anak Sesuai Usia
Berikut tahapan perkembangan otak berdasarkan usia anak yang perlu Bunda ketahui:
1. 1-3 Tahun
Di usia 1 sampai 3 tahun, perkembangan otak anak mengalami percepatan yang sangat signifikan. Balita sudah dapat memahami beberapa konsep seperti konsep kebalikan.
Misalnya, siang dan malam serta besar dan kecil, juga mengingat, mencocokkan bentuk dan warna, serta mengurutkan benda.
Anak juga kerap bermain peran, seperti main masak-masakan, dokter-dokteran, atau bermain dengan boneka favoritnya.
Selain itu, si Kecil sudah bisa mengikuti perintah sederhana yang diminta oleh Bunda dan Ayahnya. Sebagai contoh, mengambil buku, menyimpan di tempatnya, dan melepas sepatu.
Baca Juga: Mengapa Bermain Bisa Membuat Anak Mandiri dan Berani? Ini Alasannya!
2. 4-6 Tahun
Di usia 4 tahun, perkembangan otak anak akan semakin lebih baik yang ditandai dengan kemampuan bahasanya yang meningkat. Mereka sudah dapat melafalkan alfabet dan mengajukan pertanyaan.
Kemudian di masa 5 tahun kehidupan anak, ia sudah mulai memahami perbedaan antara benar dan salah, aturan yang Bunda tetapkan serta berusaha mengikutinya.
Anak 6 tahun sudah memahami konsep angka serta tahu perbedaan tangan kanan dan kiri. Untuk sosialnya, si Kecil mulai bisa bekerja sama, merasa cemburu pada adik atau kakaknya, dan sudah merasakan pentingnya peran teman.
3. 7-12 Tahun
Bun, usia 7-12 tahun adalah masa penting si Kecil. Di usia ini, kemampuan motorik dan sosial semakin berkembang, termasuk kemampuan untuk bekerja sama dan berkomunikasi.
Mereka juga mulai merasakan emosi yang lebih dalam, seperti menang dan kalah, serta makin suka melakukan olahraga yang belum pernah dicoba. Kreativitas dan rasa percaya diri si Kecil pun meningkat pesat.
Di tahun awal masuk SD, anak fokus pada belajar membaca, menulis, dan memahami teks. Mendekati akhir SD, kemampuan berbahasa semakin berkembang, sehingga lebih lancar membaca.
4. Masa Remaja
Masa remaja adalah masa perkembangan sosial dan emosional yang signifikan bagi anak.
Perubahan hormonal dan perkembangan otak pada anak akan memengaruhi cara mereka berpikir, bertindak, dan merasakan emosi. Ia pun mulai mandiri dan identitas mulai terbentuk.
Kontak mereka terhadap orang dan lingkungan baru juga akan mengakibatkan perubahan pada persahabatan dan hubungan lain di hidupnya.

Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Otak Anak
Perkembangan otak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Berikut adalah beberapa faktor utama yang memengaruhi perkembangan otak si Kecil:
1. Faktor Genetik
Faktor genetik berperan dalam menentukan perkembangan otak anak. Anak mewarisi gen dari orang tua yang dapat memengaruhi kemampuan kognitif mereka.
Namun, selain faktor genetik, lingkungan dan pengalaman juga berpengaruh terhadap pembentukkan gen tersebut.
Studi menunjukkan bahwa volume materi putih dan abu-abu pada otak bayi berhubungan erat dengan faktor keturunan.
Selain itu, jaringan otak tertentu menunjukkan pengaruh genetik yang kuat pada usia 1-2 tahun.
2. Nutrisi
Pertumbuhan dan perkembangan otak akan menjadi optimal jika anak juga mendapatkan gizi yang cukup dari makanan sehari-harinya.
Beberapa studi menunjukkan bahwa kekurangan gizi di masa kanak-kanak dapat berdampak pada kemampuan berpikir, perilaku, serta tingkat produktivitas anak selama masa sekolah.
Anak yang asupan nutrisinya tidak mencukupi berisiko mengalami gangguan dalam pembentukan sel otak, fungsi otak yang kurang optimal, serta keterlambatan dalam perkembangan kognitifnya.
Selain itu, nutrisi yang baik dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang artinya anak akan lebih jarang izin tidak masuk sekolah karena sakit.
3. Stimulasi dan Interaksi Sosial
Lingkungan yang kaya stimulasi dapat meningkatkan perkembangan otak pada anak. Mainan edukatif, buku, dan aktivitas interaktif membantu meningkatkan daya pikir dan kreativitas anak.
Interaksi positif dengan orang dewasa, terutama orang tua dan pengasuh, dapat memberikan dukungan emosional dan pembelajaran yang optimal.
Sebaliknya, stres dan kecemasan berlebihan dapat menghambat proses belajar dan perkembangan kognitif anak.
4. Pola Asuh
Pola asuh yang diberikan Ayah dan Bunda sangat memengaruhi perkembangan otak si Kecil.
Pola asuh yang positif membantu anak mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Interaksi yang penuh kasih sayang dapat meningkatkan regulasi emosi dan keseimbangan psikologis anak.
Sebaliknya, pola asuh yang keras dan penuh tekanan dapat meningkatkan risiko stres serta gangguan perkembangan sosial dan kognitif.
Baca Juga: Bunda, Ini Manfaatnya Perkenalkan Musik Sejak Dini pada Si Kecil!
Cara Optimal untuk Mendukung Perkembangan Otak Anak
Untuk mengoptimalkan perkembangan otak selama periode emas kehidupan anak, ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan yaitu:
1. Memenuhi Kebutuhan Nutrisi
Sejumlah nutrisi yang penting untuk perkembangan otak anak di antaranya adalah sebagai berikut:
- Zat besi: hati ayam, hati sapi, daging sapi, bayam, tahu, kacang-kacangan, dan susu pertumbuhan terfortifikasi.
- Vitamin C: jeruk, kentang, brokoli, susu pertumbuhan terfortifikasi.
- Kalsium: kacang tanah, biji wijen, sarden, brokoli, bayam, pakcoy, tahu.
- Zinc: daging ayam atau sapi, udang, susu terfortifikasi.
- Vitamin D: hati ayam dan hati sapi, daging merah, kuning telur, susu yang terfortifikasi, jamur.
- Selenium: jeroan sapi, daging merah, telur, daging ayam, susu yang terfortifikasi.
- Kolin: hati sapi dan hati ayam, kuning telur, daging merah, dada ayam, kembang kol, brokoli, susu yang terfortifikasi.
- Asam lemak omega-3 dan omega-6: kerang, bayam, mangga, daun selada, minyak ikan, dan kacang merah.
2. Menyanyikan Lagu Anak
Mendengarkan dan menyanyikan lagu anak-anak secara rutin ternyata dapat membantu merangsang kognitif, emosional, sosial, dan bahasa anak, Bun.
Aktivitas ini dapat membantu memperkuat kerja otak untuk menyimpan ingatan, memperbanyak kosakata anak, dan melatih anak bicara.
Contohnya, ‘Balonku’ untuk mengajarkan macam-macam warna, ‘Kepala Pundak Lutut Kaki’ untuk mengenalkan anak nama-nama anggota tubuhnya.
Ada juga ‘Satu-Satu Sayang Ibu’ untuk memperkenalkan anggota keluarga sekaligus mengajarkannya berhitung, ‘ABC’ untuk mengenalkannya abjad, hingga lagu ‘Pok Ame Ame’ dan ‘Bangun Tidur’ untuk mengajarkan rutinitas sehari-hari.
3. Sering-Sering Ajak Si Kecil Bicara
Dengan mengajak si Kecil berbicara akan membantu menstimulasi perkembangan otak anak, khususnya kemampuan berbahasa.
Selain itu, kata-kata yang didengarnya akan menjadi bekal dalam perkembangan bicara dan bahasanya kelak di kemudian hari.
Misalkan, ceritakan kegiatan hari itu setiap kali memberikan makan, memandikannya, memakaikan pakaian, menyiapkan makanan dan susu sampai sebelum tidur.
Jangan lupa saat berbicara pada si Kecil, selalu lakukan kontak mata dengan anak ya, Bun.
4. Bacakan Buku Cerita dan Ajak Diskusi
Bunda dan Ayah bisa membacakan buku cerita bergambar ukuran besar yang berwarna-warni, buku pop up atau gambar 3 dimensi, serta buku dengan gambar ilustrasi yang bertekstur.
Libatkan si Kecil dengan membiarkannya membolak-balikkan halaman buku yang sudah dibaca, atau menyentuh gambar timbul yang berilustrasi dalam buku.
Mengajukan pertanyaan atau mengajaknya diskusi sambil membaca buku dapat membantunya belajar bagaimana memecahkan masalah dan lebih memahami bagaimana dunia bekerja.
Misalnya, di dalam cerita ada objek kucing, Bunda bisa meminta si Kecil menunjukkan gambar kucing dengan cepat. “Coba tunjuk mana ya yang namanya kucing? Suara kucing gimana, dik?”
Baca Juga: 15 Ciri Anak Pintar Sejak Dini dan Cara Stimulasinya
5. Ajak Bermain di Luar
Bermain adalah salah satu stimulasi yang penting untuk perkembangan otak pada anak, tak terkecuali di 3 tahun pertama usia kehidupannya.
Bermain di luar rumah bersama Bunda, Ayah, saudara, atau teman-teman sebayanya dapat meningkatkan kemampuan kerja sama, komunikasi, dan empatinya.
Misalkan, Bunda mengenalkan anak dengan permainan tradisional untuk mengasah keterampilan motorik anak, seperti petak umpet atau ular naga.
Asyiknya lagi, permainan-permainan ini juga bisa ikut membiasakan si Kecil aktif bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.
6. Bermain Mainan Sensorik
Dengan bermain sensorik, anak akan didorong untuk menelaah situasi yang ia jalani sehingga melatih berpikir kritis dan analitis, bahkan dapat membantu memecahkan masalah.
Sebagai contoh, ketika anak menyusun banyak balok untuk dijadikan menara, ia akan berpikir bagaimana caranya agar balok tersebut tidak runtuh.
Contoh permainan sensorik lainnya adalah coba Bunda kumpulkan potongan kain yang memiliki tekstur berbeda.
Kemudian, kenalkan pada anak dengan memintanya merasakan tekstur. Bunda bisa coba jelaskan masing-masing nama kain dan perbedaan teksturnya.
7. Bermain Peran
Di usia ini, Bunda bisa mengajak anak untuk bermain sandiwara atau bermain peran.
Misalnya, anak pura-pura menjadi dokter dan Bunda menjadi pasien, anak pura-pura menjadi koki dan Bunda menjadi penikmat makanannya.
Mereka akan belajar tentang bagaimana seseorang berprofesi bisa melakukan pekerjaannya atau bagaimana cara membuat sesuatu yang mungkin tidak bisa dilakukan secara nyata oleh anak kecil.
Anak secara tidak langsung belajar memahami konsep peran manusia dalam kehidupan nyata mulai dari cara bicara, bahasa, gestur tubuh, ekspresi wajah, hingga emosi yang ditunjukkan.
Baca Juga: 7 Contoh Permainan Sosial Emosional untuk Anak Usia Dini
8. Berikan Susu Pertumbuhan
Selain stimulasi, Bunda tentu perlu memperhatikan kelengkapan nutrisi si Kecil, terutama nutrisi mengoptimalkan perkembangan otak anak.
Kelengkapan nutrisi ini bisa dibantu dipenuhi dengan memberikan si Kecil susu pertumbuhan kaya gizi. SGM Eksplor 1+ mengandung lebih banyak nutrisi dengan zat besi 3x lipat, DHA 100%, minyak ikan tuna, dan double protein. Dukung si Kecil lebih cepat tanggap dan tumbuh lebih tinggi.
Kesalahan Umum yang Bisa Menghambat Perkembangan Otak Anak
Ada beberapa kesalahan yang mungkin tidak Bunda sadari yang dapat menghambat perkembangan otak si Kecil:
1. Kurangnya Stimulasi Kognitif Sejak Dini
Lingkungan yang kurang merangsang dapat memperlambat perkembangan kognitif si Kecil.
Pastikan anak memiliki akses ke mainan edukatif, buku cerita, dan aktivitas yang melatih kemampuan berpikirnya.
Interaksi, seperti berbicara dan mendengarkan cerita anak, juga membantu meningkatkan keterampilan bahasa dan kognitif mereka.
2. Penggunaan Gadget yang Berlebihan
Terlalu banyak waktu di depan layar dapat mengganggu perkembangan otak anak, terutama dalam aspek bahasa dan interaksi sosial.
Batasi penggunaan gadget dan pilih konten yang edukatif serta sesuai dengan usia anak.
Sebaiknya, dorong anak untuk lebih banyak beraktivitas fisik dan bermain secara langsung dengan teman-temannya.
Baca Juga: 8 Cara Mengajak Anak Pemalu Jadi Aktif Bersosialisasi
3. Kurangnya Interaksi Sosial
Anak-anak belajar banyak melalui interaksi sosial dengan orang lain. Kurangnya kesempatan untuk bermain bersama teman sebaya dapat menghambat perkembangan keterampilan sosial dan emosional mereka.
Ajak anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok atau permainan interaktif agar mereka bisa belajar bekerja sama dan berkomunikasi dengan baik.
4. Asupan Nutrisi yang Tidak Optimal
Nutrisi yang seimbang sangat penting untuk otak anak. Kekurangan gizi akan berdampak pada fungsi otak dan perkembangan kognitif anak.
Pastikan anak mendapatkan makanan bergizi seperti ikan, sayuran hijau, telur, dan kacang-kacangan untuk mendukung pertumbuhan otaknya.
Daftar jadi member Klub Generasi Maju sekarang untuk dapatkan akses gratis ke ratusan artikel parenting yang terverifikasi ahli, fitur pendukung tumbuh kembang anak, hingga konsultasi 24 jam bersama para ahli. Dengan jadi member, Bunda juga berkesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk SGM!