Speech delay adalah keterlambatan kemampuan bicara dan bahasa yang tidak sesuai dengan usia anak. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari masalah pendengaran, gangguan motorik oral, hingga kurangnya stimulasi dari lingkungan.
Memahami penyebab, ciri, dan cara mengatasinya penting karena keterlambatan bicara dapat memengaruhi kecerdasan anak.
Apa Itu Speech Delay?
Speech delay adalah keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa anak berkembang lebih lambat dari rata-rata usianya.
Anak yang mengalami kondisi ini biasanya mengalami kesulitan dalam mengeluarkan suara, menyusun kata, maupun menyampaikan apa yang ingin ia katakan dengan jelas.
Jadi, anak punya pemahaman atau niat untuk berkomunikasi, tetapi kata-kata yang keluar belum sesuai tahap perkembangan meski usianya sudah cukup.
Pada Usia Berapa Anak Dianggap Terlambat Bicara?
Menurut IDAI, anak bisa disebut mengalami keterlambatan bicara ketika di usia 2 tahun masih belum berbicara, atau kosakatanya masih sangat minim (kurang dari 50 kata) serta belum mampu merangkai kalimat sederhana.
Perbedaan Speech Delay vs Terlambat Bicara Biasa
Perbedaan sederhana antara keduanya ada pada sisi kemampuan anak. Speech delay terjadi ketika anak sudah ingin bicara, tetapi kesulitan mengucapkan kata atau suara dengan jelas. Ia memahami apa yang disampaikan orang lain, namun sulit mengekspresikannya.
Sementara itu, language delay berhubungan dengan pemahaman bahasa. Anak bukan hanya terlambat bicara, tetapi juga sulit menangkap instruksi sederhana, menyebut nama benda, atau memahami kosakata.
Keduanya bisa terjadi bersamaan atau hanya salah satu. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan apakah anak hanya kesulitan mengucapkan kata, atau juga tidak memahami apa yang ia dengar.
Ciri-Ciri Speech Delay pada Anak
Jika si Kecil tidak bicara seperti kebanyakan anak pada usia yang sama, ini mungkin pertanda anak mengalami speech delay. Menurut University of Utah (2025), berikut ciri-ciri anak terlambat bicara:
- Usia 12 bulan: tidak berceloteh atau memakai gerakan tubuh (seperti menunjuk atau melambaikan tangan) untuk menyampaikan maksudnya.
- Usia 12-16 bulan: Belum bisa mengucapkan kata sederhana seperti “mama” atau “dada” dengan jelas.
- Usia 18 bulan: Belum bisa mengucapkan kata-kata sederhana seperti "mama" atau "papa".
- Usia 24 bulan (2 tahun): belum bisa menggunakan setidaknya 25 kata, dan tidak mampu merangkai frase yang terdiri dari dua kata.
- Usia 30 bulan: Belum bisa menyusun kalimat yang terdiri 2 kata, orang tua masih tidak mengerti perkataan anak, masih sering menirukan kata-kata orang lain.
- Usia 3 tahun: bicaranya sulit dipahami orang lain selain keluarga dekat, dan kosakatanya kurang dari 200 kata.
Gejala lainnya adalah anak sulit memahami instruksi sederhana (seperti “ambil bola” atau “tidak boleh”), reaksi terhadap suara atau bunyi kadang ada kadang tidak, dan kemampuan bicara yang dulu sudah muncul tiba-tiba menghilang.
Tanda-tanda Speech Delay Sesuai Tahapan Usia
Sebagai panduan, berikut perbandingan perkembangan bahasa anak normal dan tanda speech delay berdasarkan usia:
|
Usia Anak
|
Milestone Normal
|
Tanda Speech Delay
|
|
1 tahun
|
Mulai mengucapkan 1–2 kata bermakna
|
Belum ada kata bermakna sama sekali.
|
|
2 tahun
|
Bisa menyusun 2 kata (“mau makan”)
|
Hanya babbling atau 1 kata.
|
|
3 tahun
|
Bisa membuat kalimat dari 3–4 kata dan mudah dimengerti
|
Ucapan sulit dipahami, kosa kata <200.
|
Penyebab Speech Delay pada Anak
Menurut IDAI, anak yang terlambat bicara bisa disebabkan gangguan pendengaran, gangguan otak, atau gangguan organ mulut. Berikut penyebab umum speech delay pada anak yang perlu Bunda ketahui.
1. Kurang Stimulasi Interaksi dengan Orang Tua
Salah satu penyebab speech delay adalah kurangnya stimulasi yang baik. Ini bisa jadi karena orang tua tidak pernah interaksi dengan mengajak anak bicara, atau melibatkannya dalam pembicaraan.
Padahal, melakukan stimulasi dengan mengajak anak bicara berperan penting dalam perkembangan bicara atau bahasa anak.
2. Masalah Pendengaran
Masalah pendengaran juga jadi penyebab anak terlambat bicara yang paling umum. Ini karena anak biasanya menirukan perkataan yang ia dengar dari Bunda atau Ayah.
Bila pendengarannya bermasalah, anak akan sulit memahami dan menguasai kata-kata spesifik, sehingga membatasinya dalam meniru kata-kata dan menggunakan bahasa dengan lancar atau benar.
3. Gangguan pada Organ Mulut
Bibir sumbing adalah salah satu contoh dari gangguan organ mulut yang dapat memengaruhi kemampuan bicara anak.
Lipatan bawah lidah (frenulum) yang pendek juga menyebabkan anak sulit melafalkan kata-kata yang dikenal sebagai gangguan artikulasi. Gangguan ini membuat koordinasi antara bibir, lidah, dan rahang untuk membuat suara menjadi lebih sulit.
Baca Juga: Normalkah Anak Usia 2 Tahun Belum Bisa Jalan?
4. Gangguan Oral-Motorik
Sebagian besar kasus terlambat bicara pada anak mungkin memiliki masalah oral-motorik, seperti apraksia, yang dapat merusak kemampuan motorik anak.
Gangguan ini terjadi ketika ada masalah di area otak yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan kata-kata tertentu.
Penyebab anak terlambat bicara ini membuat mereka sulit dalam mengoordinasikan bibir, lidah, dan rahang yang digunakan untuk bicara.
5. Infeksi Telinga Kronis
Infeksi telinga kronis dapat menjadi penyebab terlambat bicara pada anak. Jenis infeksi ini ditandai dengan peradangan dan infeksi di telinga bagian tengah.
Jika Bunda mencurigai si Kecil mengalami kondisi ini, ada baiknya untuk segera memeriksakannya dengan dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT).
6. Autisme
Speech delay sering kali terlihat pada anak dengan gangguan spektrum autisme. Autisme adalah kelainan perkembangan saraf yang memengaruhi perilaku dan komunikasi anak.
Namun, tidak semua anak speech delay mengalami autisme. Keterlambatan bicara pada anak akibat autisme dapat disertai gejala lain.
Misalnya mengucapkan suatu frasa berulang, menunjukkan perilaku berulang (seperti, menghentak-hentakkan kepala), sulit berkomunikasi verbal dan nonverbal, bahkan mengalami gangguan interaksi sosial.
7. Gangguan Saraf
Penyebab anak terlambat bicara berikutnya adalah gangguan saraf tertentu sehingga memengaruhi otot yang diperlukan untuk bicara. Kondisi ini meliputi cerebral palsy, distrofi otot, dan cedera otak traumatis.
Pada kasus cerebral palsy, gangguan perkembangan atau kecacatan lainnya juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam bicara.
Kondisi disartria atau apraxia juga dapat menyebabkan gangguan bicara permanen, karena dipicu oleh masalah saraf atau otot yang memengaruhi kemampuan berbicara secara fisik.
Baca Juga: Apakah Anak Usia 2 Tahun Sudah Siap Bersekolah?
Apakah Speech Delay itu Keturunan?
Ya, faktor keturunan dapat memainkan peran dalam perkembangan speech delay.
Beberapa penelitian menemukan faktor keturunan bisa memengaruhi hingga 73% risiko keterlambatan bicara pada anak. Contohnya, studi pada anak kembar menunjukkan bahwa kemampuan bahasa bisa dipengaruhi oleh gen dari orang tua.
Namun, faktor genetik bukan satu-satunya penyebab. Lingkungan juga sangat berperan, seperti seberapa sering anak diajak berbicara, kemampuan mendengar, serta interaksi dengan orang sekitar.
Jadi, meskipun ada riwayat keluarga yang terlambat bicara, belum tentu anak akan mengalaminya. Anak tanpa riwayat genetik terkait bisa mengalami speech delay jika tidak pernah mendapatkan pendampingan dan stimulasi.
Apakah Speech Delay Mempengaruhi Kecerdasan Anak?
Hingga sekarang, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa anak dengan speech delay otomatis memiliki kecerdasan rendah. Banyak anak yang terlambat bicara tetap memiliki kemampuan berpikir normal seperti teman sebayanya.
Namun, beberapa penelitian jangka panjang menemukan bahwa jika keterlambatan bahasa terus berlanjut, ada risiko anak memiliki nilai IQ atau kemampuan membaca yang lebih rendah jika tidak ada pendampingan atau terapi.
IDAI juga menegaskan bahwa keterlambatan bicara yang dibiarkan bisa berdampak pada kemampuan belajar dan perilaku anak. Artinya, bukan hanya bicara yang terganggu, tetapi juga perkembangan sosial dan akademiknya.
Kesimpulannya, speech delay tidak selalu berarti anak kurang cerdas. Tetapi jika tidak ditangani, keterlambatan ini bisa mempengaruhi bahasa, belajar, dan prestasi sekolah, sehingga deteksi dan intervensi sejak dini sangat disarankan.
Kapan Harus ke Dokter atau Terapis Wicara?
Penting diketahui bahwa speech delay adalah kondisi umum yang bisa diatasi dengan deteksi dan stimulasi dini. Maka itu, segera konsultasi ke dokter anak atau terapis wicara bila:
- Anak usia 2 tahun belum bisa mengucapkan 50 kata.
- Ucapannya sulit dimengerti pada usia 3 tahun.
- Tidak merespons suara keras atau panggilan.
- Kehilangan kemampuan bicara yang sebelumnya sudah dikuasai.
- Ada kecurigaan gangguan pendengaran atau autisme.
Terlambat bicara pada anak biasanya bersifat sementara dan bisa ditangani melalui stimulasi atau terapi wicara. Semakin dini terapi dimulai, semakin besar kemungkinan anak mencapai kemampuan bahasa sesuai usianya, Bun.
Cara Mengatasi Anak Terlambat Bicara di Rumah
Selain konsultasi ke dokter anak, Bunda dapat lakukan stimulasi sederhana di rumah untuk bantu mendorong perkembangan bicara dan bahasa anak. Misalnya:
1. Sering Ajak Anak Ngobrol
Mengajak anak ngobrol bisa dilakukan secara rutin, bahkan sejak ia baru lahir. Mengajak anak bicara sesering mungkin bantu memperkaya kosakata dan membiasakannya mendengar intonasi bahasa.
Maka, Bunda bisa mengajaknya bicara kapan pun dan di mana pun, seperti setiap kali memberi makan, memandikan, memakaikan pakaian, menyiapkan makanan, sampai sebelum tidur.
2. Gunakan Bahasa Sederhana dan Ekspresif
Gunakan kalimat pendek dan mudah dimengerti. Sambil bicara, tunjukkan ekspresi wajah dan gerakan tangan agar anak lebih mudah memahami arti katanya. Bahasa tubuh bantu si Kecil mengaitkan kata dengan tindakan.
3. Gunakan Bahasa Isyarat Dasar
Bahasa isyarat bisa bantu anak memahami makna kata sebelum bisa melafalkannya. Misalnya, saat Bunda ingin mengenalkan kata ‘susu’, bisa tunjukkan bahasa isyarat susu agar si Kecil bisa mengingat kata-katanya lebih baik.
Dengan begitu, si Kecil tidak hanya pandai bicara, tetapi juga mampu mengekspresikan diri dengan gerakan tubuhnya.
Cara ini juga bantu anak berkomunikasi lebih dini dan meningkatkan kepercayaan dirinya.
Baca Juga: Cara Mendidik Anak Usia 2 Tahun agar Makin Cerdas
4. Respon Ocehan Anak
Jika si Kecil mengeluarkan suara atau ocehan, Bunda bisa menanggapinya. Bila perlu, gunakan gestur atau mimik muka seekspresif mungkin untuk memancing respon gelak tawanya.
Respons positif ini membuat anak merasa didengar dan mendorongnya untuk lebih sering “berbicara”.
5. Ajak Anak Menyebut Nama Benda di Sekitar
Jika si Kecil menunjuk sesuatu, bantu sebutkan nama benda tersebut agar ia bisa meniru dan menyebut nama bendanya dengan sempurna. Misalnya “Itu bola, warna merah!”.
Ajak ia mengulangi kata tersebut untuk membantunya mengingat dan menirukan.
Bunda juga bisa sering-sering menyebutkan nama-nama anggota tubuh, warna benda, atau menunjuk hewan dan anggota keluarga lain di rumah.
6. Bacakan Buku Cerita Setiap Hari
Membacakan cerita bergambar adalah cara mengatasi anak terlambat bicara yang menyenangkan untuk memperkaya kosakata anak dan mendorong perkembangan bahasanya.
Menurut Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics, membacakan satu buku tiap hari bisa membuat anak terpapar 1,4 juta kata lebih banyak dibandingkan anak-anak yang semasa kecilnya tidak pernah dibacakan cerita.
Pastikan Bunda menggunakan intonasi dan ekspresi berbeda untuk tiap karakter agar si Kecil lebih tertarik saat membacakan buku cerita, ya.
7. Ajak Nyanyi Bersama
Ada banyak sekali lagu anak-anak yang bisa dinyanyikan bersama si Kecil. Misalnya, Cicak-Cicak di Dinding, Bintang Kecil, hingga Balonku. Lirik pada lagu anak-anak bisa membantu anak melatih pelafalan dan ritme kata.
Ajak si Kecil bernyanyi sambil melakukan beberapa gerakan ekspresif agar ia meniru dan mengingat kata-kata apa yang dilantunkan.
8. Batasi Waktu Main Gadget
Terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menatap layar bisa menghambat kemampuan anak berinteraksi.
Maka itu, batasi screen time maksimal 1 jam per hari untuk anak usia 2–5 tahun, seperti yang direkomendasikan American Academy of Pediatrics (2016).
Gunakan waktu selebihnya untuk bermain, membaca, atau mengobrol langsung dengan si Kecil.
Baca Juga: Dampak Negatif Akibat Anak Sering Main Handphone
Itu dia penjelasan speech delay pada anak dan cara mengatasinya yang bisa dilakukan di rumah. Lakukan dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, serta ajak anggota keluarga lainnya untuk bantu anak lebih cepat bicara.
Jangan lupa daftarkan diri Bunda jadi member Klub Generasi Maju sekarang untuk mendapat akses gratis ke ratusan artikel parenting yang terverifikasi ahli, fitur pendukung tumbuh kembang anak, hingga konsultasi 24 jam bersama para ahli.