Facebook Pixel Code 10 Ciri-Ciri DBD pada Bayi, Bahayanya, dan Pengobatannya

10 Ciri-Ciri DBD pada Bayi, Bahayanya, dan Pengobatannya

Disusun oleh: Tim Penulis

Diterbitkan: 04 Juli 2024

0 - 3 Bulan
Kesehatan
Cover Image of 10 Ciri-Ciri DBD pada Bayi, Bahayanya, dan Pengobatannya

 

DBD bisa terjadi kapan saja, tapi cenderung lebih banyak terjadi di musim hujan. Yuk, ketahui ciri-ciri DBD pada bayi dan pengobatannya agar si Kecil terhindar dari risiko komplikasi berbahaya!

Apa Gejala DBD Pada Bayi?

Gejala DBD pada bayi biasanya akan muncul 3-14 hari (namun paling sering 4-7 hari) setelah ia tergigit nyamuk Aedes aegypti. Berikut gejala yang umumnya muncul dan perlu diwaspadai:

1. Demam Tinggi

DBD dapat menyebabkan bayi demam tinggi selama 2-7 hari yang bisa mencapai 40°C. Pada 1-3 hari pertama, bayi mungkin mengalami demam hingga 40°C.

Pada hari ke 4-5, demam akan turun ke 37°C yang sering dianggap sudah sembuh. Namun, ini adalah fase kritis dan kadar trombositnya bisa turun drastis jika tidak segera diobati.

Setelah itu, bayi akan kembali demam pada hari ke 6-7. Fase ini dinamakan fase pemulihan karena trombosit akan perlahan naik dan kembali normal.

2. Wajah dan Dada Memerah

Ciri-ciri DBD pada bayi juga termasuk flushing, yaitu kemerahan pada wajah, leher, dan dada.

Kemerahan ini disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah, dan biasanya terjadi dalam 24-48 jam pertama setelah timbulnya demam.

Baca Juga: Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi Bayi di Masa Pandemi COVID-19

3. Bintik Merah di Kulit

Gejala DBD yang khas adalah munculnya bintik-bintik merah kecil di bawah kulit. Ruam dapat muncul di bagian tubuh mana pun dalam 2 hingga 5 hari setelah demam mulai. 

Ruam merah khas gejala DBD bisa terasa sedikit menonjol ketika Bunda raba dengan jari dan warna merahnya tidak pudar atau menghilang ketika ditekan.

4. Rewel yang Susah Ditenangkan

DBD dapat menyebabkan gejala sakit kepala dan pegal linu. Tapi, bayi belum bisa menyuarakan kesakitannya, sehingga biasanya jadi lebih rewel dan menangis terus-menerus. 

Saat sakit, bayi menjadi rewel dan menolak makan atau menyusu, sehingga bisa membuatnya lemas dan lelah.

5. Muntah-Muntah

Ciri-ciri DBD pada bayi di fase kritis adalah muntah-muntah lebih dari 3x dalam 24 jam. Mungkin juga terdapat darah di muntahannya akibat kebocoran pembuluh darah.

Jadi, waspada jika demam bayi tampak mulai turun setelah hari ke-3 karena ini tandanya bayi sudah mulai memasuki fase kritis DBD. 

Muntah-muntah biasanya dimulai pada hari pertama atau kedua setelah demam turun.

6. Perdarahan

Pada fase kritis, pendarahan rentan terjadi akibat kebocoran pembuluh darah.

Selain munculnya ruam bintik merah, perdarahan juga dapat menyebabkan bayi mudah memar, mimisan, diare berdarah, atau gusi berdarah.

Ini adalah gejala yang relatif umum bahkan pada demam berdarah stadium ringan dan sedang.

7. Pucat dan Badan Dingin

Pada hari ke 4-5, demam akan turun ke 37°C dan bahkan bisa mencapai 36°C.

Hal ini dapat menyebabkan si Kecil tampak pucat dan badannya terasa dingin, terutama di ujung-ujung lengan dan kaki. 

Napas bayi juga terdengar cepat karena ia kesulitan bernapas dan ini merupakan tanda fase kritis.

8. Dehidrasi

Gejala DBD pada bayi juga menyebabkan dehidrasi sehingga memerlukan penanganan berupa penggantian cairan tubuh.

Selain itu, dehidrasi ini dapat dicegah dengan rehidrasi oral si Kecil. Berikan mereka minuman cairan, baik berupa air maupun jus buah, bila sudah memungkinkan untuk mengonsumsinya.

Jika si Kecil tidak dapat minum atau menunjukkan tanda-tanda dehidrasi parah, mereka perlu dirawat inap untuk penggantian cairan intravena dan pemantauan ketat. 

9. Sakit Perut Parah

Nyeri perut adalah salah satu gejala umum demam berdarah. Nyeri perut yang parah sangat terkait dengan DBD. Hal ini juga mungkin terjadi pada bayi jika kasusnya cukup parah.

Sakit perut yang parah dapat menyerupai banyak keadaan darurat bedah seperti kolesistitis akut, radang usus buntu, dan pankreatitis.

Berdasarkan penelitian, sebagian besar pasien dengan nyeri abdomen berat nonspesifik merasakan gejala DBD datang pada hari ke-3 atau ke-4 setelah demam.

10. Kebocoran Plasma

Ciri-ciri DBD pada bayi berikutnya adalah kebocoran cairan plasma yang mengandung air, gula, dan elektrolit secara parah dari dalam pembuluh darah ke jaringan sekitarnya.

Hal ini menyebabkan syok atau penumpukan cairan disertai kesulitan bernapas, pendarahan, atau kerusakan organ yang parah. 

Hal ini juga dapat menyebabkan hepatitis, gangguan kesadaran, atau gangguan jantung.

Baca Juga: Suhu Normal Bayi Baru Lahir dan Cara Mengukurnya

DBD Pada Bayi Apakah Berbahaya?

Berapa lama DBD pada bayi? Umumnya, penderita demam berdarah memiliki gejala ringan atau tidak ada gejala sama sekali dan akan membaik dalam 1–2 minggu, termasuk pada bayi.

DBD yang tidak ditangani dapat mengakibatkan sindrom syok dengue. Kondisi ini ditandai dengan penurunan tekanan darah, kulit basah dan terasa dingin, napas tidak beraturan, urine dan denyut nadi lemah. 

Sindrom syok dengue berakibat fatal. Demam tinggi akibat DBD juga bisa memicu kejang pada bayi karena suhu tubuh yang naik terlalu tinggi.

Baca Juga: Berapa Banyak Susu Formula yang Diperlukan Bayi?

Fase Demam Berdarah Pada Bayi -> NEW ADDITION

Demam berdarah pada bayi biasanya berkembang melalui tiga tahap:

1. Fase Demam

Fase demam atau febrile phase ditandai dengan demam tinggi secara mendadak dan terus menerus. Bayi akan mengalami nyeri di kepala, otot, sendi, hingga kulit wajah yang memerah.

Gejala lainnya, nafsu makan berkurang, muntah, mual, hingga penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia). Fase ini dapat berlangsung antara 2–7 hari.

Penting dicatat, fase ini sulit dibedakan dengan penyakit bukan dengue. Bahkan, jumlah awal trombosit dan nilai kekentalan darah (hematokrit) umumnya masih dalam ambang normal.

2. Fase Kritis

Menurut IDAI, fase kritis terjadi pada hari ke-4 hingga ke-6. Bisa juga terjadi lebih awal, yaitu hari ke-3 hingga ke-7 sejak bayi mengalami demam pertama kali.

Fase ini menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler, sehingga terjadi plasma leakage yang membuat darah jadi kental. Bayi pun memerlukan terapi cairan untuk menghindari syok bahkan kematian.

Di fase kritis ini, suhu tubuh menurun dan menyebabkan ujung lengan dan kaki bayi jadi lebih dingin, tampak lemas, hingga penurunan kesadaran. Bunda tak bisa mengabaikan kondisi ini karena bayi memerlukan penanganan dokter.

3. Fase Pemulihan

Fase ini umumnya berlangsung dalam waktu 48–72 jam. Pemulihan ini ditandai perbaikan keadaan bayi secara umum.

Umumnya, perbaikan kondisi ini seperti memulihnya nafsu makan, diuresis atau pengeluaran air kemih cukup atau lebih banyak dari biasanya, serta anak terlihat lebih ceria.

Dalam fase ini, nilai hematokrit juga mengalami penurunan hingga ambang stabil dalam rentang normal. Jumlah trombosit pun bergerak cepat menuju batas normalnya.

Baca Juga: Berat Badan Bayi 3 Bulan yang Ideal dan Cara Menaikkannya

Apa yang Harus Dilakukan Jika Bayi Terkena DBD?

Apabila Bunda mencurigai ciri-ciri DBD pada bayi, terutama demam yang naik lebih dari 38°C, segera bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan darah.

Apabila si Kecil positif DBD, dokter akan merekomendasikan:

  • Rawat inap di rumah sakit supaya gejalanya tidak memburuk dan mencegah komplikasi berbahaya.
  • Mendapatkan obat penurun panas seperti parasetamol.
  • Jika si Kecil tidak muntah, berikan ASI sesering mungkin untuk mencegah dehidrasi
  • Pemberian cairan melalui infus. 
  • Terapi pemberian oksigen, mengendalikan tekanan darah, dan transfusi darah (jika diperlukan).

Agar Bunda bisa mengambil langkah yang tepat dalam menjaga kesehatan si Kecil, yuk bergabung sebagai member Klub Generasi Maju. Di sana Bunda mendapatkan akses informasi kesehatan bayi yang lengkap dan terpercaya.

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Bunda

Temukan Topik Lainnya