Diare bisa menyerang si Kecil kapan saja, dan wajar jika Bunda merasa cemas melihatnya tidak nyaman. Karena itu, penting bagi Bunda untuk tahu apa penyebab diare pada anak dan cara menanganinya agar si Kecil lekas pulih dan kembali ceria seperti biasa.
Apa Itu Diare?
Diare adalah kondisi ketika anak buang air besar lebih sering dari biasanya dengan tekstur feses encer atau berair.
Anak dapat dikatakan mengalami diare jika BAB-nya lebih dari 3 kali dalam sehari dan disertai gejala seperti sakit perut, mual, muntah, demam, tidak nafsu makan, serta lemas.
Penyebab Diare pada Anak
Penyebab diare anak yang paling umum adalah infeksi bakteri, virus, dan parasit. Semuanya ini dapat menyebar melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi, hingga kebiasaan jarang cuci tangan.
Beberapa kondisi kesehatan lain yang juga bisa menyebabkan anak diare adalah:
- Alergi makanan.
- Intoleransi makanan.
- Efek minum antibiotik.
- Kondisi medis lain, seperti penyakit Celiac, radang usus besar, dan sindrom iritasi usus besar.
Baca Juga: 9 Jenis Gangguan Pencernaan Anak yang Bisa Terjadi
Gejala Diare pada Anak
Tanda dan gejala diare bisa berbeda-beda pada si Kecil tergantung tingkat keparahannya. Umumnya, diare ditandai dengan gejala berikut:
- BAB cair lebih dari 3 kali sehari.
- Perut kram dan nyeri.
- Mual.
- Demam.
- Nafsu makan menurun.
- Kadang disertai BAB berdarah.
- Anak tampak lesu atau mudah lelah.
Jika disertai tanda dehidrasi, seperti mulut kering, menangis tanpa air mata, jarang buang air kecil, atau mata cekung, segera bawa anak ke dokter.
Jenis Diare pada Anak
|
Jenis Diare
|
Ciri-Ciri
|
Penanganan Awal
|
|
Ringan
|
BAB cair 3-5 kali per hari, anak masih aktif.
|
Perbanyak cairan, berikan oralit, dan makanan lembut seperti sup atau bubur.
|
|
Sedang
|
BAB cair 6-9 kali, anak mulai lemas, bibir dan mulut tampak kering.
|
Berikan oralit secara rutin, sajikan makanan berkuah, dan pantau tanda dehidrasi.
|
|
Berat
|
BAB cair lebih dari 10 kali, tidak pipis, sangat lemas, atau mengantuk terus.
|
Segera bawa ke dokter atau IGD untuk mendapatkan cairan infus dan perawatan medis.
|
Cara Mengatasi Diare pada Anak
Diare ringan biasanya tidak berlangsung lama dan dapat ditangani di rumah. Meski demikian, penting untuk melakukan pertolongan pertama untuk anak diare agar gejalanya tidak semakin memburuk, yaitu:
1. Penuhi Kebutuhan Cairan yang Hilang
Diare rentan menyebabkan akibat kehilangan cairan tubuh. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti kejang, kerusakan otak, bahkan kematian.
Dehidrasi ringan dan sedang biasanya ditandai dengan anak yang terlihat kehausan, sedangkan pada dehidrasi berat, anak justru tampak lemas dan enggan minum.
Cara mengatasi diare pada anak yang utama adalah mengganti cairan yang hilang dengan banyak minum air putih. Jika anak menolak minum air putih, Bunda bisa berikan:
- Kuah sup ayam hangat.
- Kuah kaldu.
- Air kelapa murni.
- Yogurt.
- Susu kedelai tanpa laktosa.
Baca Juga: 10 Cara Menurunkan Demam pada Anak Tanpa Obat
2. Berikan Cairan Oralit
Selain air putih, Bunda bisa berikan si Kecil cairan isotonik seperti oralit untuk membantu mengatasi diare dan mencegah dehidrasi.
Oralit efektif menggantikan elektrolit dan cairan yang hilang saat diare. Pemberian oralit yang tepat juga dapat membantu mengurangi frekuensi BAB dan rasa mual pada anak diare.
Oralit tersedia dalam bentuk serbuk yang dilarutkan atau cairan siap minum. Umumnya, satu bungkus dilarutkan dalam segelas air matang (200 cc). Untuk anak 1 tahun ke atas, berikan di 100–200 cc per hari.
Bunda juga bisa membuat oralit sendiri dengan mencampurkan dua sendok teh gula dan setengah sendok teh garam dalam segelas air matang. Berikan perlahan bila anak muntah, dan segera konsultasikan ke dokter jika anak tampak lemas.
3. Perhatikan Asupan Makanan Si Kecil
Bunda mungkin bertanya-tanya, anak diare bagusnya makan apa? Anak yang sedang diare boleh makan makanan tawar dan mudah dicerna, seperti:
- Daging ayam, ikan, atau sapi yang sudah dimasak dengan baik.
- Telur rebus matang.
- Pisang.
- Bubur apel (apel yang ditumbuk atau dijus kasar).
- Roti, pasta, dan nasi putih.
- Sereal.
- Kentang panggang/rebus.
- Sop ayam dan sayur
- Yogurt.
- Biskuit tawar
Pastikan seluruh jenis makanan yang disajikan telah dibersihkan dan dimasak sampai matang, ya. Hindari makanan berlemak, pedas, berempah kuat, dan mengandung banyak gula untuk sementara waktu.
4. Hindari Makanan dan Minuman Tertentu
Cara mengatasi diare pada anak lainnya juga bisa dengan menghindari makanan dan minuman tertentu sampai pulih dari diare. Berikut adalah beberapa makanan yang sebaiknya tidak diberikan saat si Kecil diare.
- Makanan yang digoreng (gorengan) dan makanan berminyak.
- Makanan cepat saji serta makanan olahan, seperti nugget dan sosis.
- Susu sapi (dapat semakin memperparah diare).
- Sayuran dan buah-buahan yang memicu gas, misalnya brokoli, kol, kubis, kacang-kacangan, dan jagung.
Hindari pula memberikan jus pada anak ya, Bun. Walaupun tergolong cukup sehat, jus buah juga mengandung sukrosa, fruktosa, dan sorbitol yang cenderung memicu sakit perut.
5. Berikan Makanan Sedikit Tapi Sering
Si Kecil kemungkinan jadi tidak nafsu makan karena mual atau juga muntah saat sedang diare, Bun. Tapi Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), asupan makanan yang masuk tetap harus diperhatikan.
Jadi, Bunda bisa berikan makanan dalam porsi lebih kecil yang lebih mudah diterima. Makanan dalam porsi kecil ini perlu diberikan lebih sering, misal tiap 3-4 jam, untuk memenuhi kebutuhan zat gizi si Kecil selama diare.
Kemudian setelah kondisinya agak membaik, Bunda dapat melanjutkan memberikan makanan yang tinggi kalori agar pertumbuhan si Kecil tetap terjaga saat masa penyembuhan.
6. Berikan Obat Diare
Jika berbagai cara penanganan mandiri di atas tidak juga berhasil mengatasi diare pada anak, jangan tunda untuk periksakan si Kecil ke dokter ya, Bun.
Apalagi jika anak sudah berhari-hari mengalami diare tanpa perubahan kondisi, sebaiknya jangan biarkan ia tanpa pengobatan.
Dokter dapat meresepkan obat diare yang aman untuk anak dan rencana perawatan lebih lanjut.
Baca Juga: Mengenal Gejala Difteri pada Anak, Penyebab, dan Cara Pencegahannya
Kapan Anak Diare Harus Dibawa ke Dokter?
Diare pada anak bisa berlangsung selama 1-2 hari dan hilang dengan sendirinya. Jika diare anak terjadi lebih dari 2 hari, si Kecil mungkin mengalami kondisi yang lebih serius.
Oleh karena itu, perhatikan tanda-tanda dan segera temui dokter apabila si Kecil menunjukkan gejala berikut ini.
- Anak sangat lemas dan tidak dapat beraktivitas atau bermain seperti biasanya (tidak bisa duduk atau memalingkan kepala).
- Mulut kering.
- Menangis tanpa air mata.
- Tidak buang air kecil selama 6 jam lebih.
- Perdarahan saat buang air besar (BAB).
- Demam berkepanjangan.
- Sakit perut.
- Sakit kepala.
- Mual dan muntah parah.
- Kencing berwarna gelap, sedikit, atau tidak buang air kecil sama sekali.
Segera bawa si Kecil ke dokter jika mencurigai tanda-tanda dehidrasi atau jika gejala diarenya tidak kunjung sembuh.
Semoga si Kecil cepat sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala, ya! Lalu jika Bunda masih punya pertanyaan seputar kesehatan dan tumbuh kembang si Kecil, Bunda bisa hubungi Sahabat Bunda Generasi Maju! Tim Careline kami siap membantu dengan pengetahuan dan informasi terpercaya tentang nutrisi dan perkembangan anak.
Jangan lupa juga daftar jadi member Klub Generasi Maju sekarang untuk dapatkan akses gratis ke ratusan artikel parenting yang terverifikasi ahli, fitur pendukung tumbuh kembang anak, hingga konsultasi 24 jam bersama para ahli. Dengan jadi member, Bunda juga berkesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk SGM!