Berbagi adalah salah satu keterampilan sosial yang perlu anak miliki sejak dini. Penting bagi Bunda untuk memberi contoh berbagi kepada anak sejak dini agar kebiasaan baik ini tertanam hingga ia dewasa.
Mengapa Berbagi Penting untuk Anak?
Berbagi (sharing) adalah tindakan sukarela yang mengajarkan anak untuk peduli dan memberi manfaat bagi orang lain. Bagi anak, berbagi adalah cara belajar:
- menumbuhkan rasa empati dan kepedulian pada orang lain,
- memahami arti keadilan dan kompromi,
- cara bergiliran dan bekerja sama dalam permainan, serta
- menjalin pertemanan yang sehat dan mempertahankan hubungan positif dengan teman sebaya.
Berbagi mengajarkan anak untuk peduli, adil, dan bekerja sama dengan orang lain yang akan membantu si Kecil tumbuh menjadi pribadi ramah dan mudah bergaul.
Melalui berbagi, anak belajar bahwa kebahagiaan tak hanya dari menerima, tapi juga dari memberi. Ia pun menyadari bahwa berbagi justru membuat hatinya lebih bahagia.
Contoh Sikap Berbagi Sehari-hari
Bunda bisa mengajarkan sikap memberi lewat hal kecil yang mudah dilakukan di rumah atau luar rumah. Berikut beberapa contoh berbagi yang bisa diajarkan pada anak usia dini.
- Meminjamkan mainan, seperti puzzle atau balok susun, serta memberikan giliran bermain kepada teman atau saudara sebagai cara belajar berbagi giliran.
- Berbagi makanan atau snack dengan anggota keluarga, saudara, atau teman sebagai bentuk kepedulian terhadap orang lain.
- Membantu orang tua atau melakukan pekerjaan rumah bersama-sama, misal menyiram tanaman atau merapikan mainan sebagai contoh saling berbagi di rumah.
- Ikut kegiatan berbagi rezeki, seperti sedekah kecil atau donasi pakaian, kepada yang membutuhkan.
- Sharing alat tulis atau perlengkapan kesenian lainnya saat si Kecil menggambar atau membuat kerajinan tangan bersama teman atau saudara.
- Memberi makan hewan, baik itu hewan peliharaan maupun kucing liar, sebagai bentuk kepedulian terhadap makhluk lain.
Biarkan si Kecil melihat Bunda memberi dan berkompromi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Lalu, bantu si Kecil untuk menerapkan contoh sikap berbagi serupa.
Baca Juga: Macam-Macam Emosi Anak 3 Tahun yang Perlu Bunda Ketahui
Kapan Anak Siap Belajar Berbagi?
Tidak semua anak bisa langsung paham pentingnya sharing dan menerapkan contoh berbagi. Orang tua perlu mengenalkan konsep ini sesuai tahap perkembangan usia.
|
Usia Anak
|
Contoh Berbagi
|
Catatan
|
|
1–3 tahun
|
Berbagi makanan kecil dengan orang tua
|
Belum paham konsep, masih egosentris
|
|
3–5 tahun
|
Meminjamkan mainan, berbagi snack dengan teman
|
Mulai memahami tentang sharing dan giliran. Bisa diajarkan sharing secara konsisten
|
|
6+ tahun
|
Sharing alat tulis atau bermain bergiliran dengan teman di sekolah
|
Sudah lebih paham empati dan tanggung jawab
|
Anak-anak usia 1 - 3 tahun tidak bisa mengerti mengapa mereka harus berbagi dengan orang lain. Jadi, usia anak 3–5 tahun adalah waktu yang tepat untuk mulai pelan-pelan mengajarkan contoh berbagi secara rutin.
Manfaat Mengajarkan Anak Berbagi
Dengan menerapkan contoh berbagi, banyak hal baik yang bisa si Kecil rasakan hingga dewasa nanti. Berikut beberapa manfaat berbagi yang bisa si Kecil peroleh.
- Bersikap empati: Anak belajar lebih peduli pada orang lain dan memahami perasaan orang di sekitarnya.
- Memahami nilai keadilan: Anak memahami arti adil, bergiliran, dan belajar kompromi dalam berbagai situasi.
- Aktif bersosialisasi: Anak lebih mudah berteman, akur dengan saudara, serta membangun hubungan sosial yang sehat.
- Menumbuhkan kebaikan hati: Berbagi menumbuhkan kebiasaan menolong orang lain dan mengurangi sikap egois.
- Membangun hubungan positif: Membuat hubungan anak dengan keluarga, teman, atau orang lain menjadi lebih harmonis.
- Mengatur emosi dengan baik: Sharing membantu anak mengelola emosi yang mungkin muncul ketika ia tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
Cara Mengajarkan Anak Berbagi
Lalu, bagaimana agar si Kecil mau menerapkan contoh sharing di atas? Cara mengajarkan anak berbagi berikut bisa Bunda terapkan di rumah.
1. Jadi Contoh yang Baik
Anak paling cepat belajar lewat meniru. Maka, Bunda bisa mulai dari hal kecil, misalnya menawarkan camilan kesukaan pada si Kecil.
Sesekali, tunjukkan juga saat Bunda saling berbagi makanan dengan pasangan di meja makan agar anak terbiasa melihat kebiasaan baik.
Ketika berbagi dilakukan wajar dan menyenangkan, anak akan menganggapnya sebagai sesuatu yang alami.
2. Ceritakan Indahnya Berbagi
Jelaskan bahwa sharing tidak hanya membuat orang lain senang, tapi juga membawa kebahagiaan untuk diri sendiri.
Bunda bisa memberi contoh berbagi lewat mainan. Dengan meminjamkan mainan kepada teman, si Kecil juga bisa meminjam mainan temannya yang mungkin belum ia punya di rumah.
Lewat cara ini, si Kecil memahami bahwa berbagi tidak merugikan, bahkan membuat permainan anak lebih seru.
3. Ajarkan Pentingnya Izin Terlebih Dulu
Sharing bukan berarti mengambil tanpa izin. Bunda bisa memberi contoh berbagi dengan izin terlebih dahulu saat meminjam barang milik anak.
Misalnya dengan berkata, “Kakak, spidol yang warna merah itu boleh Bunda pinjam sebentar nggak?”
Ketika orang tua menunjukkan sikap menghargai, anak akan melakukan hal yang sama. Dengan begitu, ia memahami bahwa sharing merupakan bagian dari saling menghormati, bukan sekadar memberi.
4. Jangan Memaksa
Sangat wajar jika anak berebut mainan dengan saudara atau temannya. Nah, ketika ini terjadi, sebaiknya jangan langsung memaksa si Kecil untuk mengalah, Bun.
Cara tersebut hanya akan semakin menyulut emosi si Kecil dan membuatnya tantrum sehingga nantinya menganggap sharing sebagai hal yang tidak menyenangkan.
Lebih baik, ajari ia konsep bergiliran. Dengan cara ini, si Kecil bisa mendapat manfaat berbagi, seperti belajar bersabar, memahami giliran, dan melihat sharing sebagai pengalaman yang adil.
Baca Juga: 13 Ide Mainan Edukatif Anak 3 Tahun yang Seru di Rumah
5. Buat Permainan Seru
Permainan yang seru bisa menarik perhatian anak dengan mudah, tak terkecuali saat mengajarkannya berbagi.
Anak-anak pun cenderung lebih mudah mengingat dan menerapkan apa yang mereka pelajari melalui permainan daripada sekadar teori.
Bunda bisa mengajaknya bermain “Belanja untuk Berbagi”. Ajak ia memainkan peran seolah-olah sedang berbelanja makanan dan pakaian, lalu minta si Kecil untuk membagikannya kepada orang-orang yang berada di rumah Bunda.
6. Tanyakan Alasan jika Tidak Mau Berbagi
Jika anak menolak sharing, sebaiknya jangan dimarahi. Cobalah tenangkan dulu si Kecil, lalu tanya alasan mengapa ia enggan berbagi.
Bunda perlu memahami perasaan si Kecil, karena sikap ini juga merupakan bagian dari cara mengajarkan anak berbagi.
Boleh jadi, ia tak mau sharing karena belum puas bermain atau mainannya diambil begitu saja. Lalu, berikan solusi agar anak tidak berebut mainan, misal dengan memberikan mainan lain untuk temannya.
7. Tunjukkan Apresiasi
Saat si Kecil mau berbagi, tunjukkan apresiasi Bunda untuk meningkatkan kepercayaan diri anak serta menciptakan hubungan yang harmonis antara anak dengan orang tua.
Bunda bisa menunjukkan apresiasi tersebut dengan memujinya, “Kakak baik banget ya, udah mau pinjamin Bunda spidol kesayangan Kakak!”
Katakan kalau Bunda bangga terhadap apa yang dilakukan si Kecil, kemudian berikan juga pelukan hangat agar ia semakin merasa diperhatikan.
8. Jangan Bosan Mengingatkan
Selagi mengajarkan dan menunjukkan contoh saling berbagi di rumah, usahakan untuk tetap konsisten. Sikap konsisten orang tua juga akan memengaruhi kedisiplinan anak nantinya.
Jangan bosan pula untuk mengingatkan si Kecil ya, Bun. Anak memang butuh pengulangan untuk memahami sesuatu, termasuk dalam menerapkan contoh berbagi.
Dengan pengulangan positif, anak akan terbiasa menganggap sharing sebagai bagian dari hidupnya.
9. Ceritakan Kisah atau Dongeng tentang Berbagi
Dongeng bisa jadi cara sederhana untuk menanamkan nilai baik pada anak. Jadi, untuk mengajarkan sikap sharing pada anak, Bunda bisa menceritakan dongeng.
Pilih cerita tentang tokoh yang suka saling memberi. Setelah membaca, coba Bunda ajak si Kecil berdiskusi tentang apa yang bisa ia pelajari dari cerita itu.
Dengan begitu, pesan moral tentang saling memberi akan lebih mudah tertanam pada si Kecil tanpa terasa menggurui.
10. Libatkan Anak dalam Kegiatan Sosial
Jangan cuma memberi contoh berbagi lewat donasi berupa uang. Coba Bunda ajak si Kecil untuk ikut berdonasi pakaian atau membagi makanan langsung kepada yang membutuhkan.
Penelitian internasional dari 22 negara menemukan bahwa pengalaman dan lingkungan masa kecil, seperti keterlibatan dalam amal, berhubungan dengan kemungkinan seseorang melakukan donasi sosial di masa dewasa.
Ini artinya, melibatkan si Kecil dalam kegiatan sosial sejak dini membangun kebiasaan sharing yang positif hingga dewasa kelak.
Baca Juga: 7 Contoh Permainan Sosial Emosional untuk Anak Usia Dini
Jika saat ini si Kecil masih sulit untuk diajarkan berbagi atau masih bersikeras mempertahankan apa yang dimiliki, bersabar ya, Bunda! Mengajarkan hal-hal baik kepada anak tidaklah instan dan butuh kesabaran.
Bila perlu, lengkapi juga asupan gizi si Kecil dengan susu pertumbuhan terfortifikasi kombinasi unik Zat Besi & Vitamin C, DHA 100% Berkualitas, Minyak Ikan Tuna, Omega 3 & 6, serta nutrisi penting lainnya.
Daftar jadi member Klub Generasi Maju sekarang untuk dapatkan akses gratis ke ratusan artikel parenting yang terverifikasi ahli, fitur pendukung tumbuh kembang anak, hingga konsultasi 24 jam bersama para ahli. Dengan jadi member, Bunda juga berkesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk SGM.