Facebook Pixel Code Panduan Mengatasi Anak Kurang Gizi

Panduan Mengatasi Anak Kurang Gizi

Foto Reviewer Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH

Disusun oleh: Tim Penulis

Ditinjau oleh: Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH

Diterbitkan: 05 Maret 2024

Diperbarui: 06 Agustus 2025

3 Tahun
Tumbuh Kembang
Cover Image of Panduan Mengatasi Anak Kurang Gizi

 

Mengatasi anak kurang gizi perlu menggunakan berbagai cara. Dengan penanganan tepat, kesehatan serta tumbuh kembangnya bisa terselamatkan. Simak info lengkapnya di sini!

Kapan Anak Dikatakan Gizi Kurang? 

Menurut standar WHO dan IDAI, anak dikatakan kurang gizi jika berat dan tinggi badannya berada jauh di bawah normal (di bawah -2 SD) dibandingkan dengan standar pertumbuhan anak.

Berat badan dikatakan kurang bila lebih rendah dari 95% anak lain yang seusia atau setinggi dirinya. 

Anak yang bertubuh kurus tidak selalu kurang gizi. Beberapa faktor yang membuat badan anak kurus, di antaranya genetik dan metabolisme yang tinggi.

Baca Juga: Benarkah Anak Kurus Pasti Tidak Sehat?

Penyebab Anak Kurang Gizi

Mengatasi anak kurang gizi perlu mengetahui penyebabnya. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab asupan nutrisi anak kurang, berikut penjelasannya: 

1. Anak Picky Eater

Kurang gizi bisa terjadi karena si Kecil suka pilih-pilih makanan. Jadi, yang masuk ke mulutnya hanya makanan yang itu-itu saja. 

Jenis makanan yang sama membuat asupan nutrisinya tidak variatif. Padahal, kekurangan salah satu jenis nutrisi saja dapat memengaruhi keoptimalan tumbuh kembang si Kecil. 

Jika hal ini terjadi dalam jangka waktu panjang, anak dapat mengalami kurang gizi bahkan hingga gizi buruk. 

2. Kebutuhan Kalori Tidak Tercukupi

Asupan kalori harian yang tidak terpenuhi dengan baik juga bisa menjadi penyebab anak kurang gizi.

Hal ini bisa terjadi ketika porsi makannya selalu banyak tapi kandungan gizinya “kosong”. Misalnya, karena sering jajan makanan kemasan.

Kebiasaan makan yang tidak seimbang dengan aktivitas fisik juga berpengaruh. Contoh, anak aktif bergerak tapi malas makan sehingga berat badannya stagnan.

3. Punya Masalah Pencernaan

Mengatasi anak kurang gizi juga harus fokus pada pencernaan. Pencernaan berperan sangat penting dalam proses penyerapan nutrisi. 

Penyakit atau infeksi di saluran pencernaan dapat menyebabkan buruknya penyerapan nutrisi dan defisiensi.

Sebagai contoh, berat badan anak yang sering mengalami masalah asam lambung (GERD) atau diare biasanya sulit naik karena tubuhnya tidak bisa menyerap nutrisi dengan baik.

4. Intoleransi Terhadap Makanan

Beberapa anak mungkin tidak cocok dengan susu sapi karena alergi susu atau intoleransi laktosa dalam produk susu.

Tubuh yang tidak bisa menyerap protein susu dan gula pada susu, menyebabkan gangguan pencernaan.

Dalam jangka panjang, asupan nutrisi anak mungkin tidak tercukupi dengan baik. Hal ini bisa membuat anak bertubuh kurus.

5. Kualitas Makanan yang Tidak Sehat

Penyebab anak kurang gizi bukan hanya dipicu oleh masalah nafsu makan atau preferensi makanannya. 

Kualitas makanan buruk dan tidak adanya akses mendapatkan makanan bergizi juga jadi faktor malnutrisi pada anak. 

Oleh karena itu, Ayah Bunda jangan keseringan memberi si Kecil makanan seperti soda, permen, atau makanan manis lainnya.

Baca Juga: Kebutuhan Gizi Anak Usia 3-5 Tahun

6. Memiliki Penyakit Kronis

Mengatasi anak kurang gizi harus secara menyeluruh, seperti menelisik penyakit yang sedang atau pernah diidap. Misalnya, bila ia punya penyakit jantung atau masalah paru-paru. 

Anak dengan kondisi ini butuh kalori lebih banyak dari anak-anak lain. Akan tetapi, kesulitan untuk mengonsumsi makanannya.

Cara menaikkan berat badan anak dengan kondisi ini tentu tidak mudah. Bunda perlu bantuan dokter atau ahli gizi anak.

7. Kelainan Metabolisme

Kelainan metabolisme membuat tubuh kesulitan menguraikan dan memproses energi dari makanan. 

Anak dengan kondisi ini juga susah makan dan mudah muntah. Begitu pun pada anak dengan kelenjar tiroid yang terlalu aktif.

Tubuhnya membakar kalori lebih banyak dari biasanya. Hal ini tentu bisa memengaruhi berat badan anak.

8. Memiliki Keterlambatan Perkembangan

Kurangnya asupan makanan juga bisa dialami oleh anak dengan keterlambatan perkembangan. 

Anak dengan kondisi cerebral palsy dan bibir sumbing biasanya kesulitan untuk menelan makanan. 

Autisme juga bisa menyebabkan anak kurus kurang gizi. Sebab, anak autis sangat sensitif dengan tekstur dan rasa makanan.

Apa Ciri-Ciri Anak yang Kekurangan Gizi?

Untuk mengatasi anak kurang gizi, Ayah Bunda perlu memahami ciri-cirinya. Apa saja? 

  • Tulang-tulang di tubuhnya terlihat jelas.
  • Bajunya saat kecil (1–2 tahun lalu) masih muat sampai sekarang. 
  • Kulit badan dan kulit kepalanya kering.
  • Rambut rontok. 
  • Mengalami atrofi otot atau penyusutan otot.
  • Berat badannya terus turun.
  • Gampang sakit dan lama sembuhnya, karena sistem imunnya terganggu.
  • Performa di sekolah menurun.
  • Kenaikan atau penurunan berat badan dan tinggi badan anak tidak sesuai kurva pertumbuhan WHO.
  • Badannya tampak lebih lemah, tidak aktif, dan lebih pendek dibanding teman sebayanya. 

Apa Akibat Kurang Gizi pada Anak?

Bila tidak mengatasi anak kurang gizi, ada efek yang terjadi pada anak, mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang. Apa saja?

1. Underweight

Bila tidak mengatasi anak kurang gizi, si Kecil akan mengalami underweight atau berat badan terlalu rendah untuk seukuran usianya.

Kondisi ini terjadi akibat anak kekurangan asupan kalori dari protein, lemak, dan karbohidrat. Idealnya, anak usia 1–3 tahun mendapatkan asupan kalori sebanyak 1350 kkal per hari.

2. Wasting

Wasting adalah berat badan terlalu rendah untuk seukuran tinggi badannya. 

Dalam hal ini, penurunan berat badan terjadi baru saja dan langsung parah, biasanya diakibatkan oleh kekurangan makanan dan/atau baru mengalami penyakit akibat infeksi.

3. Stunting

Apa bedanya stunting dan kurang gizi? Stunting adalah tubuh pendek untuk usianya karena kekurangan gizi terus-menerus, tepatnya pada 1000 hari pertama kehidupannya sejak dalam kandungan.

Sementara, kurang gizi bisa terjadi dalam jangka pendek dan biasanya tubuhnya kurus untuk usia dan/atau tingginya. 

Kurang gizi bisa diperbaiki dengan mencukupi kebutuhan gizinya, sedangkan stunting tidak bisa diperbaiki bila melewati 1000 hari pertama kehidupan. 

4. Kwashiorkor

Kwashiorkor adalah kekurangan gizi parah akibat kekurangan asupan protein dalam jumlah yang besar. Kondisi ini menyebabkan penumpukan cairan atau edema.

Ciri-cirinya, yaitu lengan dan betis tampak kecil, tetapi perutnya sangat buncit, serta bagian wajah serta telapak tangan-kaki yang bengkak.

5. Marasmus

Mirip kwashiorkor, marasmus adalah kekurangan gizi parah akibat anak kekurangan makronutrien, yaitu asupan protein, lemak, dan karbohidrat.

Kondisi ini membuat tubuh anak kehilangan massa otot dan lemak. Oleh karena itu, anak tampak sangat kurus dan tulang-belulangnya menonjol.

6. Masalah Kecerdasan

Mengatasi anak kurang gizi perlu dilakukan untuk mencegah gangguan perkembangan otak. Berbagai jenis zat gizi berguna untuk membentuk dan menghubungkan saraf-saraf di otak.

Jika kekurangan zat gizi, anak akan kesulitan belajar, mengingat, fokus, mengatur kecepatan belajar, mengontrol mood, hingga mengerjakan berbagai kegiatan dalam 1 waktu (multitasking).

7. Rentan Terkena Penyakit Infeksi

Kekurangan gizi membuat sistem imun melemah. Akibatnya, tubuh kesulitan melawan serangan virus, bakteri, dan parasit.

Sebagai contoh, infeksi yang paling sering dijumpai pada anak kurang gizi adalah diare. Diare mengurangi zat gizi tubuh sehingga tumbuh kembangnya terhambat.

Baca Juga: Pahami Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk pada Anak

Cara Mengatasi Anak Kurang Gizi

Jika anak mengalami kurang gizi, ia perlu mendapatkan pemeriksaan medis dan penyesuaian pola makan dari ahli gizi. Berikut beberapa cara mengatasi anak kurang gizi: 

1. Menerapkan Pola Makan Seimbang

Anak gizi kurang cenderung defisit vitamin dan mineral, terutama zat besi. Oleh karena itu, Bunda perlu memperbaikinya dengan memberikan suplemen sesuai yang diresepkan dokter. 

Selain itu, Bunda perlu memberikan menu makanan bergizi seimbang pada si Kecil. Namun, utamakan asupan protein hewani, kalori, dan lemak sehat supaya berat badannya segera naik. 

2. Berikan Makanan Terfortifikasi

Makanan terfortifikasi adalah makanan yang telah diperkaya dengan nutrisi penting agar kebutuhan gizi harian anak lebih mudah dan lebih cepat terpenuhi.

Pemberian makanan terfortifikasi termasuk dalam program bantuan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang digalakkan oleh puskesmas di setiap daerah untuk anak kurang gizi.

Selain itu, Ayah Bunda juga bisa berikan susu pertumbuhan yang telah difortifikasi dengan zat besi, vitamin C, dan minyak ikan tuna. 

Baca Juga: Cari Tahu 5 Manfaat Minum Susu untuk Anak 3 Tahun di Sini!

3. Sediakan Cemilan Tinggi Kalori

Cara mengatasi anak kurang gizi bisa dilakukan dengan memberikan makanan tinggi kalori, seperti kacang-kacangan, susu, keju, mentega, yogurt plain (tanpa rasa), telur, santan, dan margarin.

Buah-buahan juga banyak yang tinggi kalori seperti alpukat, pisang, daging buah kelapa, mangga, durian, kurma, dan kismis. Berikan secara konsisten di antara waktu makan utama.

4. Berikan Minuman Tinggi Kalori

Anak usia 1–3 tahun membutuhkan cairan sebanyak 1.150 ml dalam satu hari. Sementara anak usia 4–5 tahun membutuhkan 1.450 ml asupan cairan sehari. 

Selain memberikan air putih, Bunda dapat penuhi kebutuhan cairan anak yang kurang gizi dengan minuman tinggi kalori. 

Contoh minuman tinggi kalori adalah milkshake alpukat. Untuk membuatnya, Bunda hanya perlu memblender alpukat, kurma, full-fat yogurt plain, dan susu. 

5. Telaten Mengenalkan Makanan Baru

Untuk mengatasi anak kurang gizi karena kebiasaan pilih-pilih makanan, Bunda perlu lebih sabar dalam proses mengenalkan makanan. 

Anak mungkin membutuhkan proses pengenalan 10–15 kali hingga ia mau menerima makanan baru. Pengenalannya pun harus dilakukan dalam berbagai kesempatan yang berbeda. 

Hindari memaksa si Kecil jika ia memang tidak bisa menerima makanan tersebut dan segera cari makanan pengganti yang memiliki nilai nutrisi serupa. 

6. Sajikan dalam Porsi Kecil

Bunda lebih baik menyajikan makanan dalam porsi kecil dengan sering. Bisa juga menawarkan si Kecil untuk tambah (tanpa memaksa) setelah isi piringnya habis. 

Sebab, menyajikan makanan dalam porsi besar dapat membuat si Kecil merasa ketakutan tidak dapat menghabiskan isi piringnya. 

Dengan demikian, ia semakin menolak makan dan kebutuhan nutrisinya tidak segera terpenuhi. 

7. Bentuk Kebiasaan Makan yang Baik

Anak perlu jadwal makan yang dijalankan secara konsisten agar ia bisa lebih lahap makan. Batasi juga waktu makannya jangan sampai lebih dari 30 menit. 

Jadi, jadwal makan selanjutnya tidak tergeser dengan jadwal makan yang sekarang. Singkirkan juga benda yang bisa mengganggu fokus makan anak seperti TV dan smartphone.

Itulah sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi anak kurang gizi. Jangan lupa juga untuk rutin skrining tumbuh kembang anak di puskesmas atau posyandu terdekat, ya.

Daftar jadi member Klub Generasi Maju sekarang untuk dapatkan akses gratis ke ratusan artikel parenting yang terverifikasi ahli, fitur pendukung tumbuh kembang anak, hingga konsultasi 24 jam bersama para ahli. Dengan jadi member, Bunda juga berkesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk SGM!

Informasi yang Wajib Bunda Ketahui

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Bunda

Temukan Topik Lainnya

SGM 3+

Image Banner SGM 3+