Ciri feses bayi alergi susu sapi akan terlihat apabila si Kecil mengalami ketidakcocokan setelah dikenalkan susu selain ASI. Seperti apa ciri dan bagaimana cara mengatasinya?
Ciri-Ciri Feses Bayi Alergi Susu Sapi
Salah satu reaksi yang ditunjukkan bayi saat alami alergi terhadap susu sapi adalah gangguan pencernaan, termasuk perubahan pola BAB dan bentuk pupnya. Berikut ciri-ciri selengkapnya:
- Lebih sering BAB.
- Feses terlihat lebih cair dari biasanya.
- Ada lendir di dalam feses bayi.
- Feses bayi berdarah dan berwarna kemerahan, pada beberapa kasus.
- Feses bayi berwarna kehijauan.
Selain dari feses, bayi yang alergi tidak cocok susu sapi juga bisa menunjukkan gejala seperti:
- Mengi (nafas berbunyi ngik-ngik atau seperti mendengkur).
- Kesulitan bernapas.
- Pilek.
- Batuk-batuk.
- Suara serak.
- Penyempitan tenggorokan.
- Mata gatal.
- Mata berair.
- Mata bengkak.
- Gatal-gatal biduran atau ruam kulit.
- Pembengkakan pada mata dan telinga.
- Penurunan tekanan darah.
- Sakit perut.
- Muntah-muntah.
- Diare.
- Konstipasi.
- Kolik persisten.
Baca Juga: Gejala Alergi Makanan pada Bayi dan Pemicunya
Kapan Gejala Alergi Susu Sapi Muncul?
Gejala akan muncul langsung setelah si Kecil mengonsumsi susu sapi hingga 1 jam setelahnya. Meski begitu, ada kasus khusus gejala baru muncul 48-72 jam hingga beberapa hari kemudian.
Keparahan alergi yang dialami si Kecil juga tidak selalu sama. Hari ini mungkin si Kecil hanya alami gejala ringan, tapi esok hari mungkin ia akan menunjukkan gejala lebih serius.
Namun, jangan langsung memutuskan untuk menghentikan pemberian susu si Kecil jika memang ia tidak bisa mendapatkan ASI.
Selalu konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mengganti atau menghentikan asupan susu si Kecil.
Baca Juga: Tanda-Tanda Bayi Alergi MPASI yang Wajib Bunda Ketahui
Perbedaan Feses Normal vs Feses Bayi Alergi Susu Sapi
Berikut perbedaan feses normal dan feses bayi alergi susu sapi yang perlu Bunda ketahui:
|
Kriteria
|
Feses Bayi Normal
|
Feses Bayi Alergi Susu Sapi
|
|
Warna
|
Kuning keemasan (ASI) atau kuning kecokelatan (susu formula).
|
Kehijauan, kemerahan (ada darah), atau kehitaman.
|
|
Tekstur
|
Lembek, agak kental, tidak berlendir.
|
Lebih cair, berlendir, atau berbusa.
|
|
Frekuensi
|
1–3 kali sehari (bisa lebih pada bayi ASI eksklusif).
|
Lebih sering dari biasanya atau sangat jarang.
|
|
Bau
|
Tidak terlalu menyengat.
|
Lebih menyengat atau berbau asam tajam.
|
|
Kondisi tambahan
|
Tidak ada keluhan lain.
|
Bisa disertai ruam kulit, kembung, atau rewel setelah minum susu.
|
Penyebab Bayi Tidak Cocok Susu Sapi
Banyak faktor penyebab bayi alergi terhadap protein dalam susu hewani selain ASI, baik faktor dari dalam tubuh si Kecil maupun faktor luar tubuh si Kecil. Berikut penjelasannya:
1. Faktor Genetik
Menurut hasil penelitian, 40% masalah ketidakcocokan terhadap makanan atau susu hewani selain ASI merupakan kondisi genetik yang diturunkan dari orang tua.
2. Terpapar Bahan Alergi
Jika Bunda mengonsumsi susu sapi atau produk olahan susu sapi, si Kecil akan memperoleh asupan protein susu sapi melalui ASI sehingga muncul berbagai gejala alergi.
Maka itu, jika si Kecil tidak cocok dengan susu sapi, Bunda perlu berhenti konsumsi susu sapi hingga produk olahan susu sapi lainnya seperti keju, yogurt, dan butter.
Nah, selama melakukan eliminasi susu sapi ini, Bunda juga disarankan untuk mengonsumsi suplemen guna memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D.
3. Paparan Polusi Udara
Sejumlah penelitian menunjukkan paparan polusi udara yang berlebihan dapat meningkatkan risiko bayi alami alergi makanan. Beberapa polusi yang rentan memicu alergi adalah:
- Uap zat kimia dari perabotan baru.
- Jamur di tembok atau plafon.
- Pengembunan di jendela bagian dalam rumah.
- Debu rumah tangga.
- Asap rokok.
- Asap kendaraan bermotor.
Baca Juga: 5 Cara Alami Mengatasi Alergi Susu Sapi pada si Kecil
Cara Mengatasi Feses Bayi Alergi Susu Sapi
Jangan panik dulu bila Bunda mendapati gejala feses bayi alergi terhadap susu sapi. Berikut pertolongan pertama untuk mengatasinya:
1. Pahami Faktor yang Memengaruhi Bentuk dan Warna Feses
Pola, tekstur, dan warna BAB sangat dipengaruhi konsumsi makanan atau susu.
Selama si Kecil masih minum susu selain ASI karena alergi, fesesnya mungkin akan tetap berbeda dari bayi ASI eksklusif.
2. Kendalikan Gejala Alergi
Alergi susu sapi tidak bisa sepenuhnya sembuh, tapi gejalanya dapat dikendalikan.
Pada sebagian bayi, gejala bisa berangsur hilang seiring bertambahnya usia, yakni biasanya saat menginjak 3–5 tahun.
3. Utamakan Pemberian ASI
Jika memungkinkan, tetap berikan ASI kepada si Kecil. ASI adalah sumber nutrisi terbaik dan dapat membantu mengurangi risiko kekambuhan gejala alergi susu sapi.
Bunda masih punya pertanyaan lebih lanjut seputar kesehatan si Kecil? Yuk, hubungi Sahabat Bunda Generasi Maju sekarang!
Tim Careline kami siap bantu dengan pengetahuan dan informasi terpercaya tentang kesehatan, nutrisi, dan perkembangan anak.