Facebook Pixel Code Manfaat Suplemen Zat Besi untuk Bayi, Dosis, dan Aturan Minum

Manfaat Suplemen Zat Besi untuk Bayi, Dosis, dan Aturan Minum

Disusun oleh: Tim Penulis

Diterbitkan: 23 Desember 2024

Diperbarui: 23 Februari 2026

7 - 9 Bulan
Nutrisi
Cover Image of Manfaat Suplemen Zat Besi untuk Bayi, Dosis, dan Aturan Minum

 

Zat besi merupakan zat penting untuk tumbuh kembang bayi di usia 2 tahun pertama. Namun, kekurangan zat besi masih sering terjadi. Suplemen zat besi untuk bayi diperlukan pada kondisi tertentu.

Mengapa Bayi Membutuhkan Zat Besi?

Zat besi dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin pada sel darah merah. Hemoglobin berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Zat besi berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh agar anak tidak mudah terkena infeksi. Zat besi juga diperlukan untuk meningkatkan kemampuan belajar dan daya ingat. 

Namun, sejak usia 6 bulan, cadangan zat besi berkurang dan ASI hanya memenuhi sekitar 10–20% kebutuhan hariannya. Untuk itu, bayi 6 bulan perlu MPASI untuk memenuhi kebutuhan zat besi harian. 

Namun, karena usia 6 bulan masih adaptasi dengan makanan padat, tak jarang pemberian MPASI pertama masih belum optimal.

Perlukah Bayi Diberi Suplemen Zat Besi?

Tidak semua bayi perlu suplemen zat besi untuk bayi. IDAI merekomendasikannya untuk mencegah kekurangan zat besi sebelum anemia, terutama pada bayi prematur dan/atau BB lahir rendah (BBLR).

Bayi BBLR bahkan berisiko 10 kali lipat lebih besar mengalami kekurangan zat besi atau defisiensi besi.

Pada bayi cukup bulan, suplemen disarankan jika prevalensi anemia defisiensi besi (ADB) tinggi atau bayi tidak bisa mendapat MPASI kaya zat besi. Namun, suplemen bayi tidak menggantikan peran MPASI.

Cek apakah kebutuhan zat besi (iron) anak sudah cukup atau belum di Kalkulator Zat Besi, gratis! Hanya dengan menjawab 7 pertanyaan singkat, Bunda bisa langsung tahu seberapa besar risiko kekurangan zat besi pada si Kecil.

Kapan Suplemen Zat Besi Diperlukan untuk Bayi?

Berdasarkan pedoman Satgas ADB IDAI, suplemen zat besi bisa diberikan untuk mencegah defisiensi besi tanpa pemeriksaan khusus, bahkan tanpa screening pada kondisi tertentu.

Namun, sebaiknya tetap konsultasi dulu dengan dokter sebelum memberikan suplemen zat besi. Dengan begitu, dosis dan cara pakainya sesuai dengan kondisi bayi.

Baca Juga: 10 Cemilan Bayi Kaya Zat Besi yang Mudah Dibuat

Aturan dan Dosis Suplemen Zat Besi untuk Bayi

Menurut pedoman Satgas ADB IDAI, berikut aturan dan dosis pemberian suplemen zat besi sesuai kondisi bayi.

1. Bayi Cukup Bulan dengan ASI

Suplemen dapat diberikan pada bayi lahir cukup bulan sejak usia 6–23 bulan, anjuran dosisnya 2 mg/kg berat badan per hari.

Pada bayi ASI eksklusif selama 6 bulan yang tidak mendapat zat besi dari MPASI, suplemen dapat diberikan dengan dosis 1 mg/kg/hari.

2. Bayi Prematur dan BBLR

WHO dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan suplemen zat besi untuk bayi prematur dan BBLR (< 2.500 g) dengan dosis 2–4 mg/kg/hari mulai usia 1 bulan hingga 12 bulan.

Pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (BBSLR), suplementasi besi dapat diberikan lebih awal. Dosis perlu dilanjutkan sampai bayi mendapat MPASI yang mengandung cukup zat besi.

Baca Juga: Dampak Bayi Kekurangan Zat Besi dan Cara Mengatasinya

Apakah Suplemen Zat Besi Aman untuk Bayi?

Suplemen zat besi aman untuk bayi, asal diberikan sesuai dosis yang telah ditentukan oleh dokter. Bila dosis berlebihan, hal ini akan meningkatkan risiko efek samping.

Untuk itu, selalu konsultasi sebelum pemberian zat besi dan berikan hanya sesuai dosisnya saja. Hindari memberikan zat besi untuk bayi tanpa arahan dokter.

Efek Samping Suplemen Zat Besi pada Bayi

Pemberian suplemen zat besi untuk bayi aman dan minim risiko, selama dosisnya sesuai dengan anjuran.

Seperti halnya suplemen lain, suplemen zat besi juga memiliki potensi efek samping, antara lain:

  • Gangguan pencernaan ringan, seperti diare atau konstipasi.
  • Feses kehitaman (normal).
  • Mual dan nafsu makan menurun sementara.

Segera ke dokter bila si Kecil muntah hebat atau disertai lendir berdarah.

Cara Memenuhi Kebutuhan Zat Besi Selain Suplemen

Suplemen zat besi untuk bayi penting untuk mencegah anemia pada 2 tahun pertama usianya. Namun, sebaiknya penuhi kebutuhan zat besi bayi dengan cara-cara berikut ini:

1. MPASI Kaya Zat Besi

Cara terbaik memenuhi kebutuhan zat besi adalah dengan memberikan makanan kaya zat besi minimal 2 kali per hari.

Saat bayi mulai MPASI di usia 6 bulan, pastikan ia mendapatkan makanan kaya zat besi seperti daging sapi, hati ayam, hati sapi, kuning telur, ikan, bayam, brokoli, dan kacang-kacangan.

Daging merah merupakan sumber zat besi tertinggi dan bisa diserap 23% lebih maksimal. Sayuran hijau juga mengandung zat besi, tapi hanya sekitar 3-8% zat besi yang dapat diserap.

Dapatkan buku resep eksklusif Inspirasi Resep MPASI Kaya Zat Besi yang berisi kumpulan resep lezat bergizi dan mudah dibuat di rumah ala Chef Devina Hermawan dan dr. Brenda Shahnaz, CB, CIMI. Gratis!

2. Kombinasi dengan Vitamin C

Untuk membantu penyerapan makanan atau suplemen zat besi, berikanlah makanan yang kaya vitamin C.

Sumber vitamin C yang baik, antara lain buah-buahan berwarna cerah, seperti jeruk, melon, stroberi, dan sayuran hijau tua seperti brokoli dan bayam.

Vitamin C bukan hanya membantu penyerapan zat besi, tetapi juga penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh si Kecil.

Baca Juga: 11 Manfaat Zat Besi dan Vitamin C untuk Anak + Tips Konsumsi

3. Sereal Difortifikasi

Sebelum konsultasi suplemen zat besi untuk bayi, Ayah Bunda bisa coba berikan sereal yang diperkaya zat besi.

Sereal jenis ini dapat diberikan mulai usia 6 bulan dan terus berlanjut hingga si Kecil berusia 18–24 bulan. 

Pastikan memilih sereal yang sesuai dengan usia bayi. Periksa label nutrisinya untuk memastikan kandungan zat besi yang memadai.

4. Hindari Teh & Kombinasi Susu

Hindari memberikan bayi teh saat makan MPASI utama atau berdekatan dengan pemberian suplemen zat besi untuk bayi. Teh mengandung senyawa tanin yang menghambat penyerapan zat besi.

Tak hanya itu, sebaiknya hindari mengolah bahan makanan protein hewani dengan susu atau produk olahan susu sapi, seperti krim

Tingginya kalsium dalam susu sapi murni dapat menghambat proses penyerapan zat besi.

5. Pemeriksaan Hb Berkala

Pemeriksaan Hb dan Ht bertujuan mendeteksi anemia, terutama pada anak-anak yang berisiko tinggi.

The American Academy of Pediatrics (AAP) dan CDC merekomendasikan pemeriksaan hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) untuk bayi usia 9–12 bulan.

Pemeriksaan ulang dilakukan pada usia 15–18 bulan dan dilanjutkan pada setiap tahun jika si Kecil sudah berusia 2–5 tahun. Kelompok risiko tinggi meliputi:

  • Bayi prematur.
  • Berat lahir rendah.
  • Riwayat perawatan di NICU dalam waktu lama.
  • Infeksi kronis.
  • ASI eksklusif tanpa suplementasi zat besi.

Dengan pemenuhan kebutuhan zat besi yang tepat, si Kecil dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.

Butuh informasi tentang nutrisi dan perkembangan si Kecil? Hubungi Sahabat Bunda Generasi Maju. Tim Careline kami siap memberikan panduan yang akurat dan terpercaya untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Informasi yang Wajib Bunda Ketahui

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Bunda

Temukan Topik Lainnya

Diary Generasi Maju (DGM MPASI)

Image Banner Diary Generasi Maju (DGM MPASI)

Kalkulator Zat Besi

Image Banner Kalkulator Zat Besi