Facebook Pixel Code Urutan Imunisasi Bayi 0–24 Bulan Sesuai IDAI 2024 + Manfaat Lengkap

Urutan Imunisasi Bayi 0–24 Bulan Sesuai IDAI 2024 + Manfaat Lengkap

Disusun oleh: Tim Penulis

Diterbitkan: 21 Oktober 2021

Diperbarui: 06 November 2025

0 - 3 Bulan
Kesehatan
Cover Image of Urutan Imunisasi Bayi 0–24 Bulan Sesuai IDAI 2024 + Manfaat Lengkap

Urutan imunisasi bayi perlu diberikan tepat sesuai jadwal dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Dengan begitu, bayi mendapatkan perlindungan maksimal dari penyakit menular berbahaya. 

Urutan Imunisasi Bayi 0-24 Bulan Berdasarkan Pedoman IDAI 2024

Dibandingkan tahun sebelumnya, jenis vaksin wajib rekomendasi IDAI tahun 2024 lebih beragam. IDAI menambahkan Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV), vaksin rotavirus, dan vaksin varisela.

Berikut urutan vaksinasi berdasarkan anjuran IDAI.

Usia Bayi

Imunisasi Dasar

Imunisasi Tambahan/Booster/Opsional

Catatan

Sebelum 24 jam

Vaksin HB-0 (Hepatitis B)

-

  • Berat bayi kurang dari 2000 gram: vaksin saat usia 1 bulan
  • Ibu positif HBsAg: vaksin HB-0 dan Hepatitis B imunoglobulin (HBIg) saat 24 jam setelah lahir

Baru lahir sebelum pulang dari klinik/RS

Polio-0

-

Vaksin diberikan melalui mulut

Baru lahir–sebelum 1 bulan

BCG

-

  • Ibu positif TBC: vaksin ditunda sampai bayi dinyatakan negatif

2 bulan

  • HB-1
  • Polio-1
  • DTP-1
  • Hib-1
  • PCV-1
  • Rotavirus-1

-

  • DTP: cegah difteri, tetanus, dan batuk rejan
  • Hib: cegah bakteri Haemophilus Influenzae tipe b
  • PCV: cegah bakteri Streptococcus pneumoniae
  • Rotavirus: cegah diare akibat rotavirus

3 bulan

  • HB-2
  • Polio-2
  • DTP-2
  • Hib-2

-

Memperkuat dan memperpanjang perlindungan imunisasi sebelumnya

4 bulan

  • HB-3
  • Polio-3
  • DTP-3
  • Hib-3
  • PCV-2
  • Rotavirus-2

-

Memperpanjang dan memperkuat durasi perlindungan vaksinasi sebelumnya

6 bulan

  • PCV-3
  • Rotavirus-3
  • Influenza

-

  • Memperkuat dan memperpanjang perlindungan imunisasi
  • Influenza mulai diberikan

9 bulan

  • Influenza
  • MR

Vaksin JE-1 di wilayah endemis

  • MR: cegah campak dan rubella
  • JE: cegah infeksi Japanese encephalitis

12 bulan

  • Influenza
  • Varisela-1
  • Hepatitis A-1

Booster PCV-1

  • Varisela: cegah cacar air
  • Hepatitis A-1: vaksin pencegah hepatitis A dosis pertama

15 bulan

  • Influenza
  • Varisela-2
  • Hepatitis A-2
  • Booster PCV-2
  • Booster MR

Perpanjang manfaat vaksin

18 bulan

  • Influenza
  • Varisela-3
  • Hepatitis A-3
  • Booster hepatitis B-4
  • Booster polio-4
  • Booster DTP-4
  • Booster Hib-4
  • Booster MR

Memperkuat imun jangka panjang

24 bulan

  • Influenza
  • Hepatitis A-4
  • Tifoid

JE di wilayah endemis

Tifoid: cegah tifus

Alasan Mengapa Urutan Imunisasi Bayi Harus Benar

Di Indonesia, imunisasi wajib dan tambahan diberikan sejak bayi lahir hingga usia 18 tahun. Urutannya harus sesuai jadwal agar proteksi tubuh optimal saat dibutuhkan.

Bayi lahir dengan kekebalan alami dari ibu, tapi perlahan menurun. Imunisasi diperlukan sebagai cara memperkuat perlindungan alami tersebut terhadap penyakit menular.

Karena penting bagi keselamatan manusia, WHO mendorong setiap negara punya program imunisasi sendiri. Setiap negara menyesuaikan jadwal dan jenis imunisasi sesuai kebutuhan warganya.

Baca juga: Curiga Vaksin Palsu? Ini yang Bisa Bunda Lakukan

Manfaat dari Setiap Jenis Imunisasi

Pada dasarnya, imunisasi meningkatkan fungsi imun agar tak mudah terinfeksi berbagai virus dan bakteri. Lantas, bagaimana peran setiap jenis imunisasi yang diberikan?

1. Imunisasi HB (Hepatitis B)

Urutan imunisasi bayi pertama adalah Imunisasi HB. Gunanya, untuk melindungi bayi dari infeksi virus hepatitis B. Penyakit ini menyebabkan pengerasan hati sehingga terjadi kegagalan fungsi hati dan kanker hati. 

Sebelum vaksinasi, bayi terlebih dahulu diberi suntikan vitamin K1 minimal 30 menit sebelumnya. Bila berat bayi kurang dari 2000 gram, imunisasi sebaiknya ditunda hingga bayi berusia 1 bulan atau lebih. 

Ketika Bunda positif terinfeksi virus hepatitis B, bayi harus segera imunisasi HB dan HBlg (imunoglobulin hepatitis B) maksimal 7 hari setelah lahir. Namun suntikan ini tidak dianggap sebagai vaksin dosis pertama. 

2. Imunisasi Polio

Masih di hari yang sama, urutan imunisasi bayi selanjutnya adalah imunisasi polio. Vaksinasi ini mencegah infeksi virus polio yang menyebabkan lumpuh layu permanen hingga kematian.

Virus polio dapat menyerang usia berapapun, tetapi anak-anak dengan usia di bawah 5 tahun lebih rentan terhadap virus ini. 

Imunisasi polio merupakan cara terbaik untuk melindungi si Kecil dari virus ini sebab tidak ada obat untuk penyakit polio.

3. Imunisasi BCG

Imunisasi BCG (Bacillus Calmette and Guerin) digunakan untuk melindungi si Kecil dari infeksi tuberkulosis (TBC) berat, seperti pada radang selaput otak.

Vaksin BCG merupakan jenis bakteri hidup yang telah dilemahkan. Sebaiknya, urutan imunisasi bayi yang satu ini diberikan segera setelah bayi lahir hingga sebelum berusia 1 bulan.

4. Imunisasi DPT

Imunisasi DPT digunakan untuk mencegah tiga jenis penyakit yaitu difteri, pertusis dan tetanus.

Difteri adalah infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyerang bagian dalam hidung dan tenggorokan. Infeksi ini menyebabkan gangguan pernapasan hingga kerusakan saraf.

Pertusis dikenal dengan nama batuk rejan, yaitu batuk yang disebabkan infeksi Bordetella pertussis dan menular dengan sangat cepat. Batuk rejan bisa menghentikan napas dan menyebabkan kematian.

Tetanus adalah infeksi akibat bakteri Clostridium tetani yang menyebabkan otot kaku dan lama-lama menyempitkan saluran pernapasan. Urutan imunisasi bayi DPT diberikan saat usia 2 bulan.

5. Imunisasi MR/MMR

Imunisasi MR digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi campak (measles) dan campak Jerman (rubella) yang sangat menular. 

Sementara itu, imunisasi MMR terdiri dari tiga komponen vaksin yaitu gondongan (mumps), campak (measles), dan campak Jerman (rubella). 

Vaksin MR menggantikan vaksin MMR yang kini sudah tidak tersedia di fasilitas kesehatan Indonesia. 

6. Imunisasi Hib

Imunisasi Hib digunakan untuk mencegah infeksi Haemophilus influenza tipe B.

Ini adalah bakteri penyebab beberapa penyakit, seperti pneumonia (radang paru), meningitis (radang selaput otak), infeksi telinga (otitis media), dan lain-lain.

Penyakit ini kerap menyerang anak-anak di bawah usia 5 tahun. Dapatkan imunisasi ini secara gratis di Posyandu terdekat. Urutan imunisasi bayi Hib dimulai pada usia 2 bulan, lalu 3, dan 4 bulan. 

7. Imunisasi PCV

Berdasarkan urutan imunisasi bayi dari IDAI 2024, imunisasi PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine) diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada usia 2, 4, dan 6 bulan.

Vaksin ini digunakan untuk mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae. Umumnya, penyakit ini menyerang anak-anak dibawah usia 5 tahun. 

8. Imunisasi Rotavirus

Imunisasi rotavirus diberikan untuk mencegah si Kecil terjangkit diare berat dan komplikasi yang disebabkan oleh virus Rota, seperti muntaber atau gastroenteritis. 

Guna memberikan perlindungan yang tinggi dan merata, urutan imunisasi bayi yang satu ini dilakukan sebanyak 3 kali yakni saat bayi berusia 2, 3 dan 4 bulan. 

Vaksinasi RV diberikan melalui tetes mulut, bukan dengan suntikan.

9. Imunisasi JE (Japanese Encephalitis)

Japanese encephalitis adalah penyakit radang otak yang disebabkan infeksi virus dari gigitan nyamuk. Radang otak ini mewabah pada beberapa provinsi di Indonesia, yakni provinsi:

  • Bali
  • Kalimantan Barat
  • Nusa Tenggara Timur
  • Sulawesi Utara
  • Yogyakarta
  • Jawa Barat
  • Jakarta

Imunisasi JE penting untuk si Kecil sebab virus ini dapat menyebabkan gejala gangguan saraf hingga kematian. 

Gangguan saraf yang umumnya muncul adalah kelumpuhan gangguan motorik halus, epilepsi, kebutaan, penurunan kemampuan kognitif, dan lain sebagainya.

10. Imunisasi Varisela

Ketika masih anak-anak, Bunda pasti sering melihat teman sekelas atau malah mengalami sendiri penyakit cacar air.

Nah, imunisasi varisela digunakan untuk mencegah si Kecil terkena cacar air yang sifatnya sangat mudah menular. Urutan imunisasi bayi varisela dimulai sejak usia 12 bulan.

11. Imunisasi Hepatitis A 

Imunisasi hepatitis A digunakan untuk mencegah infeksi virus hepatitis A yang dapat menyebabkan peradangan pada organ hati. 

Hepatitis A ditularkan dari kontak antarmanusia atau mengonsumsi asupan yang terkontaminasi. 

12. Imunisasi Tifoid

Vaksin tifoid adalah vaksin yang digunakan untuk mencegah demam tifoid yang disebabkan oleh Salmonella typhi

Demam yang disebabkan oleh virus ini dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pendarahan saluran cerna, meningitis, pneumonia, dan delirium.

Urutan imunisasi bayi tifoid diberikan pada usia 24 bulan.

13. Imunisasi Influenza

Influenza merupakan penyakit yang sangat sering menjangkiti anak-anak. 

Influenza memiliki gejala yang lebih berat dari batuk-pilek biasa dan memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadi komplikasi seperti pneumonia. 

Nah, vaksin influenza berfungsi secara efektif untuk mencegah penularan serta menekan risiko komplikasi influenza yang berat.

Baca juga: Mengatasi Anak Demam Setelah Imunisasi

Apa Risikonya Jika Tidak Memvaksinasi Anak?

Jika tidak mendapatkan imunisasi, bayi bisa lebih mudah terserang penyakit. Si Kecil akan sakit lebih lama, gejalanya pun lebih berat, bahkan komplikasinya semakin berat hingga menyebabkan kematian. 

Efek samping imunisasi relatif ringan, yakni demam pasca imunisasi dan bengkak di area bekas suntikan, tapi kondisi ini akan hilang dalam beberapa hari. 

Manfaat imunisasi berupa pencegahan penyakit jauh lebih besar daripada kemungkinan efek sampingnya pada anak. 

Bagaimana Kalau Bayi Terlambat Mendapatkan Imunisasi Sesuai Jadwal?

Tidak perlu khawatir, urutan imunisasi bayi rekomendasi IDAI tahun 2024 juga mencantumkan jadwal untuk mengejar ketertinggalan. Jadwal imunisasi kejar menyesuaikan usia si Kecil.

Jadwal mengejar keterlambatan vaksin bisa dimulai sejak usia 1 bulan hingga 18 tahun. Jangan hentikan imunisasi karena vaksin tetap bisa melindungi si Kecil meskipun pemberiannya terlambat.

Apa Risiko Jika Imunisasi Bayi Tidak Lengkap?

Tidak melengkapi urutan imunisasi bayi akan mengurangi kemampuan perlindungan. Jadi, bayi yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap akan lebih rentan sakit daripada yang sudah divaksin lengkap.

Bahkan, WHO menyatakan, anak yang tidak diimunisasi lengkap memiliki angka harapan hidup yang lebih rendah. Pasalnya, infeksi akan lebih mudah menjangkiti.

Baca Juga: 7 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Imunisasi Dasar Anak

Apakah Bayi Perlu Imunisasi Tambahan Selain Imunisasi Dasar?

Ya, semakin beragam jenis vaksin, semakin luas perlindungan untuk mencegah bermacam penyakit infeksi.

Bahkan, IDAI pun menambahkan beberapa daftar vaksinasi agar wajib sejak 2024, yakni:

  • PCV
  • Vaksin rotavirus
  • Vaksin varisela
  • Vaksin dengue
  • Vaksin human papillomavirus (HPV).

Imunisasi tidak berhenti hingga usia 2 tahun. Ada 2 jenis vaksin yang diperlukan saat si Kecil menginjak usia 6 dan 9 tahun, yakni vaksin dengue dan vaksin HPV.

Bagaimana Cara Agar Jadwal Imunisasi Bayi Tidak Terlewat?

Hindari melewatkan urutan imunisasi dengan cara berikut:

  • Catat jadwal vaksinasi di buku atau kalender.
  • Pasang alarm di ponsel pada tanggal-tanggal imunisasi.
  • Cari tahu jadwal di Puskesmas atau Posyandu.
  • Gunakan aplikasi kesehatan anak dan pasang pengingat imunisasi.

Pastikan urutan imunisasi dijalankan dengan tepat waktu dan lengkap. Jika tidak, hal ini akan mengurangi kemampuan perlindungan vaksin.

Imunisasi merupakan perlindungan utama karena sifatnya sebagai pencegahan. Ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati. 

Informasi yang Wajib Bunda Ketahui

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Bunda

Temukan Topik Lainnya