Akibat kekurangan zat besi pada anak yang berlangsung lama dapat mengganggu kesehatan fisik, perkembangan kognitif, dan perilaku. Bagaimana cara mengatasi anak yang kekurangan zat besi (iron)?
Akibat Kekurangan Zat Besi pada Anak
Anak usia 1-3 tahun perlu asupan 7 mg zat besi per hari untuk mendukung tumbuh kembangnya. Lantas, apa yang terjadi ketika anak kekurangan zat besi?
1. Anemia Defisiensi Besi
Kekurangan zat besi dapat mengakibatkan terjadinya penyakit anemia defisiensi besi pada anak-anak.
Anemia defisiensi besi pada anak merupakan kondisi yang sangat berbahaya karena dapat memengaruhi hampir seluruh organ tubuh.
Anemia defisiensi zat besi yang parah dapat memicu komplikasi serius seperti takikardia atau gagal jantung akibat terganggunya fungsi pemompaan darah.
2. Stunting
Salah satu akibat kekurangan zat besi pada anak yang harus sangat Bunda waspadai adalah stunting.
Anemia defisiensi besi merupakan salah satu faktor risiko utama dari stunting pada anak, karena kurangnya hemoglobin menghambat oksigenasi dan metabolisme sel tubuh.
Gangguan metabolisme dapat menyebabkan pertumbuhan anak tidak optimal. Jika berlangsung terus-menerus, hal ini berisiko menyebabkan stunting di kemudian hari.
3. Kesulitan Belajar
Melansir dari IDAI, salah satu akibat dari anemia defisiensi besi pada anak adalah melemahnya daya tangkap, kesulitan memproses informasi, dan membuat keputusan yang tepat.
Para ahli mengkhawatirkan dampak negatif ini mungkin dapat terus berlanjut hingga dewasa.
Zat besi (iron) berperan dalam pembentukan selubung saraf otak dan neurotransmitter, yaitu zat kimia yang berperan sebagai penghantar pesan dari otak ke jaringan tubuh.
Keduanya sangat penting untuk membentuk koneksi baru di otak yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan belajar anak.
4. IQ Rendah
Akibat kekurangan zat besi kronis juga dapat memengaruhi perkembangan otak anak. Sebab, zat besi turut berperan penting untuk fungsi memori dan kognitif.
Selain itu, kurangnya zat besi (iron) dapat berdampak negatif pada kemampuan berpikir dan konsentrasi anak.
Sebuah studi bahkan melaporkan, anak yang kekurangan zat besi (iron) cenderung memiliki skor IQ yang lebih rendah daripada anak lainnya.
Baca Juga: Pengaruh Asupan Zat Besi Terhadap Peningkatkan Prestasi Anak
5. Sering Sakit
Salah satu akibat kekurangan zat besi pada anak yang jarang disadari adalah menurunnya kekebalan tubuh.
Kekurangan zat besi (iron) dapat membuat anak sering sakit karena zat besi berperan penting dalam produksi hemoglobin, yang membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Tanpa cukup oksigen, sistem kekebalan tubuh anak tidak dapat bekerja dengan optimal, sehingga si Kecil lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit.

6. Berat Badan Susah Naik
Rendahnya kadar zat besi (iron) dalam tubuh dapat mengganggu produksi hormon ghrelin yang berperan penting dalam merangsang rasa lapar. Akibatnya, si Kecil jadi tidak nafsu makan.
Kekurangan zat besi juga dapat mengganggu proses metabolisme tubuh dan penyerapan nutrisi.
Hal ini membuat anak kesulitan menaikkan berat badan atau malah mudah kehilangan berat badan karena tubuhnya tidak dapat memanfaatkan makanan dan energi dengan baik.
7. Gangguan Perilaku
Akibat kekurangan zat besi pada anak tidak hanya memengaruhi kesehatan dan prestasi belajar, tetapi juga pada masalah perilaku yang mungkin bertahan lama.
Kekurangan zat besi parah dalam jangka panjang dikaitkan dengan masalah perilaku seperti sulit mengendalikan diri (impulsif) dan bahkan risiko ADHD.
8. Kesulitan Mengatur Emosi
Kekurangan zat besi dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan neurotransmiter yang berperan dalam mengatur emosi, sehingga anak lebih mudah marah, tantrum, atau mudah cemas.
9. Keterlambatan Perkembangan Motorik
Kekurangan zat besi dapat menyebabkan keterlambatan dalam kemampuan motorik anak, seperti keterlambatan dalam berjalan atau koordinasi gerakan tubuh.
10. Kualitas Tidur Buruk
Penelitian menemukan bahwa kurangnya kadar zat besi dikaitkan dengan berbagai masalah dan gangguan tidur, termasuk sindrom kaki gelisah (restless leg syndrome) dan obstructive sleep apnea (OSA).
Restless leg syndrome adalah gangguan saraf yang menyebabkan timbulnya keinginan bawah sadar yang tidak terkendali untuk menggerak-gerakkan kaki, terutama pada malam hari selama tidur.
OSA adalah gangguan pernapasan yang menyebabkan anak mengorok, tiba-tiba tersedak, batuk, atau seperti orang mengambil napas setelah tenggelam yang terjadi saat tidur.
Kesulitan tidur dalam jangka panjang dapat mempengaruhi kualitas istirahat anak dan berdampak pada kesehatannya secara keseluruhan.
Baca Juga: 6 Cara Mudah Mencegah Anemia pada Anak
Bagaimana Cara Mengatasi Anak Kekurangan Zat Besi?
Apabila si Kecil sudah mengalami masalah kesehatan akibat kekurangan zat besi, jangan tunda konsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Sementara itu, Bunda bisa melakukan beberapa cara berikut untuk membantu mengatasi kekurangan zat besi pada anak:
- Pastikan anak mendapatkan cukup zat besi (iron) dari makanan seperti daging, ikan, sayur hijau, dan kacang-kacangan.
- Berikan makanan yang kaya vitamin C untuk membantu tubuh menyerap zat besi (iron), seperti buah-buahan sitrus, beri, paprika, tomat, dan sayuran berdaun hijau gelap.
- Untuk anak usia 1-5 tahun, hindari memberikan susu melebihi 710 mililiter.
- Hindari memberikan asupan zat besi (iron) bersamaan dengan susu, antasida, atau teh karena dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam menyerap zat besi (iron).
- Berikan anak suplemen zat besi (iron) atau vitamin untuk anemia atas rekomendasi dokter.
"Untuk anak yang rentan kekurangan zat besi, Bunda juga bisa bantu mencukupi kebutuhan zat besinya dengan makanan terfortifikasi seperti sereal gandum dan susu tinggi zat besi. Untuk memastikan apakah asupan zat besi anak sudah cukup atau belum, Bunda dapat langsung cek lewat Kalkulator Zat Besi secara gratis, ya.
Udah cek kalkulator zat besi tapi masih bingung langkah berikutnya untuk perlindungan ekstra si kecil? Tanya langsung dengan Expert di NutriCare Expert! Layanan 24 jam ini siap menjawab semua pertanyaan Bunda soal gizi anak dengan cepat dan jelas.