Zat besi memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan otak anak. Nutrisi ini terlibat dalam pembentukan jaringan saraf, produksi neurotransmitter sebagai pengantar sinyal antar sel, serta membantu penyaluran oksigen ke otak. Proses tersebut berkontribusi langsung pada kemampuan kognitif anak, seperti fokus, daya ingat, proses belajar, hingga perkembangan motorik dan bahasa.
Kenapa Zat Besi Sangat Penting untuk Otak Anak?
Zat besi berperan penting dalam perkembangan otak anak sejak dini. Nutrisi ini membantu menjaga fungsi kognitif seperti fokus, daya ingat, dan kemampuan belajar agar berkembang optimal.
Zat besi membantu mengangkut oksigen ke otak melalui hemoglobin dalam darah. Pasokan oksigen yang cukup dibutuhkan agar sel saraf dapat bekerja dengan baik dan efisien.
Selain itu, zat besi berperan dalam pembentukan neurotransmitter dan mielin. Keduanya penting untuk mempercepat kerja saraf serta mendukung konsentrasi dan respons anak.
Zat besi juga mendukung pertumbuhan sinaps dan jaringan saraf di otak. Proses ini membantu anak belajar, beradaptasi, dan mengolah informasi baru dengan lebih baik.
Baca Juga: Ciri Anak Kekurangan Zat Besi dan Cara Penuhi Kebutuhannya
Peran Penting Zat Besi untuk Perkembangan Otak Anak
Zat besi (iron) dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin, yaitu protein pada sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Berikut adalah manfaat zat besi untuk perkembangan otak:
1. Memenuhi Kebutuhan Oksigen Otak
Sel-sel otak memerlukan aliran darah kaya oksigen agar dapat berfungsi dengan baik, dan zat besi bisa memastikan darah tersebut sampai ke otak.
Dengan oksigen, otak dapat membangun saraf, memproduksi dan memecah zat kimia yang penting untuk komunikasi antar saraf, serta menjaga kinerjanya tetap optimal.
Sebaliknya, kekurangan zat besi (iron) dapat mengganggu fungsi otak, yang membuat anak prasekolah kesulitan berkonsentrasi saat mengikuti aktivitas di PAUD atau taman bermain.
2. Mendukung Pembentukan Mielin
Salah satu peran penting zat besi untuk perkembangan otak anak adalah mendukung proses mielinisasi.
Mielinisasi adalah pembentukan lapisan pelindung di sekitar serabut saraf otak (mielin) yang membantu sinyal saraf berjalan cepat dan efisien, seperti isolasi kabel listrik.
Proses ini penting untuk pengiriman impuls listrik antar sel saraf, yang memengaruhi fungsi motorik, sensorik, dan kognitif anak.
Zat besi (iron) mendukung pembentukan kolesterol dan lipid untuk menyusun mielin. Tanpa zat besi, proses mielinisasi terganggu sehingga pengiriman sinyal saraf menjadi lambat dan tidak efisien.
3. Mengoptimalkan Pembentukan Jaringan Saraf
Otak anak berkembang pesat pada usia 0-2 tahun, salah satunya melalui pembentukan sinaps antar neuron, yang dikenal dengan sinaptogenesis.
Sinaps berfungsi sebagai "koneksi" informasi di otak. Semakin banyak koneksi atau sinaps yang terbentuk, semakin banyak dan kuat jaringan saraf untuk mengalirkan informasi baru ke otak dan menyimpannya sebagai ingatan.
Zat besi (iron) memiliki peran penting dalam memastikan pasokan oksigen yang cukup, sehingga proses pembentukan jaringan saraf dapat berlangsung dengan baik.
4. Mendukung Perkembangan Kognitif Anak
Di usia 0-8 tahun, anak harus belajar banyak hal dengan cepat untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, motorik, sosial, dan perilaku agar si Kecil tumbuh cerdas.
Studi menunjukkan bahwa suplementasi zat besi (iron) dapat mendukung perkembangan kognitif anak. Jadi, jangan sepelekan peran penting zat besi untuk perkembangan otak anak.
5. Mengoptimalkan Fungsi Ganglia Basal
Ganglia basal adalah pusat kontrol di otak yang mengatur gerakan tubuh, pembelajaran motorik, motivasi, dan emosi anak. Di area ini terdapat konsentrasi zat besi yang berfungsi sebagai bahan bakar energi otak.
Zat besi (iron) di ganglia basal meningkat pesat selama dua dekade pertama kehidupan. Proses ini mendukung perkembangan otak yang optimal.
6. Mendukung Produksi Neurotransmitter
Di dalam otak, ada pembawa pesan yang disebut neurotransmitter. Neurotransmitter adalah pembawa pesan yang menghubungkan otak dan tubuh, untuk membantu anak berpikir cepat, fokus, bergerak, dan merasa bahagia.
Kinerja neurotransmitter sangat bergantung pada peran penting zat besi untuk perkembangan otak.
Tanpa zat besi (iron), neurotransmitter kekurangan bahan bakar, sehingga pesan di otak tidak bisa diteruskan dengan cepat. Akibatnya, anak bisa jadi lambat berpikir dan mudah lelah.
7. Menjaga Kesehatan Otak
Zat besi (iron) berperan penting dalam kesehatan otak dengan membantu memproduksi hemoglobin, yang membawa oksigen ke otak agar otak bisa berfungsi dengan baik.
Anemia defisiensi besi pada anak dapat memengaruhi kesehatan otak dengan mengurangi pasokan oksigen ke otak, yang bisa menyebabkan kelelahan, kesulitan fokus, masalah memori, dan penurunan fungsi otak.
8. Menjaga Struktur Otak
Peran penting zat besi untuk perkembangan otak secara menyeluruh juga berdampak pada struktur organ yang meliputi beberapa aspek, seperti ukuran, fungsi, konektivitas antar saraf, hingga plastisitas otak.
Plastisitas otak adalah kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi, seperti membentuk atau memperkuat koneksi antara sel-sel saraf. Ini membantu anak belajar hal baru dan pulih dari cedera otak.
Zat besi (iron) juga penting untuk membantu pembentukan hipokampus (bagian otak yang menyimpan memori dan pembelajaran).
Baca Juga: Cek Berapa Kebutuhan Zat Besi Harian Anak untuk Cegah Anemia
Dampak Kekurangan Zat Besi terhadap Otak Anak
Zat besi berperan penting dalam pembentukan sel darah merah dan distribusi oksigen ke otak. Kekurangannya dapat memengaruhi fungsi kognitif, perilaku, hingga prestasi belajar anak secara signifikan.
1. Penurunan Fokus dan Konsentrasi
Kekurangan zat besi dapat menghambat pasokan oksigen ke jaringan otak. Kondisi ini membuat anak lebih cepat lelah dan sulit mempertahankan perhatian.
Studi dalam Journal of Pediatrics menunjukkan bahwa anak dengan kadar zat besi rendah cenderung memiliki rentang perhatian yang lebih pendek dibandingkan anak dengan status besi normal.
2. Keterlambatan Bicara
Zat besi berperan dalam perkembangan neurotransmiter yang mendukung kemampuan bahasa. Kekurangannya dapat memengaruhi proses ini sejak usia dini.
Penelitian yang dipublikasikan di BMC Pediatrics menemukan bahwa defisiensi zat besi pada balita berkaitan dengan keterlambatan perkembangan bahasa ekspresif.
3. Sulit Memproses Informasi
Anak yang kekurangan zat besi dapat mengalami gangguan pada kecepatan berpikir dan pemrosesan informasi. Hal ini berdampak pada kemampuan memahami instruksi atau pelajaran.
WHO menjelaskan bahwa defisiensi zat besi memengaruhi fungsi kognitif karena menurunnya aktivitas enzim di otak.
4. Penurunan Prestasi Belajar
Masalah fokus dan pemrosesan informasi dapat berujung pada prestasi akademik yang menurun. Anak menjadi lebih sulit mengikuti pembelajaran di sekolah.
Menurut IDAI, kekurangan zat besi pada usia sekolah sering dikaitkan dengan nilai akademik yang lebih rendah dan kesulitan belajar.
Baca Juga: Hubungan Konsumsi Zat Besi dengan Prestasi Belajar Anak
5. Gangguan Perilaku (Gelisah, Tantrum Lebih Sering)
Anak dengan kadar zat besi rendah dapat menunjukkan perubahan perilaku seperti mudah gelisah atau tantrum. Kondisi ini dipicu oleh gangguan regulasi emosi.
Penelitian di The Lancet melaporkan hubungan antara defisiensi zat besi dan meningkatnya masalah perilaku pada anak usia dini.
6. Risiko Anemia Defisiensi Besi
Kekurangan zat besi yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi anemia defisiensi besi. Kondisi ini berdampak sistemik, termasuk pada fungsi otak.
Kemenkes RI menyebut anemia defisiensi besi sebagai salah satu masalah gizi utama pada anak Indonesia yang perlu pencegahan sejak dini.
Nah, apakah Bunda tahu kebutuhan zat besi si Kecil sudah optimal atau belum? Yuk, cek kecukupan zat besi anak sekaligus mengetahui seberapa besar risiko si Kecil mengalami kekurangan zat besi lewat Kalkulator Zat Besi. Gratis!
Sumber Zat Besi yang Baik untuk Perkembangan Otak Anak
Anak usia 1-3 tahun butuh 7 mg zat besi setiap hari dan anak usia 4-8 tahun perlu asupan 10 mg zat besi per hari. Kebutuhan ini bisa dipenuhi dari menu makan anak yang tinggi zat besi.
Zat besi sendiri dalam makanan terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu heme dan non-heme. Keduanya memiliki karakteristik penyerapan yang berbeda oleh tubuh.
Zat besi heme berasal dari sumber hewani dan lebih mudah diserap tubuh. Sementara itu, zat besi non-heme berasal dari tumbuhan dan membutuhkan kombinasi makanan yang tepat agar penyerapannya optimal.
|
Jenis Zat Besi
|
Contoh Makanan
|
Kelebihan
|
|
Heme
|
Daging sapi, hati ayam, telur, ikan, kerang
|
Diserap tubuh 3–4× lebih baik
|
|
Non-heme
|
Bayam, brokoli, kacang-kacangan, tahu, tempe, oatmeal fortifikasi
|
Mudah divariasikan, kaya serat
|
|
Fortifikasi
|
Susu pertumbuhan tinggi zat besi, sereal fortifikasi
|
Praktis, kandungannya terukur
|
IDAI menyarankan kombinasi sumber zat besi heme dan non-heme untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan otak anak secara optimal.
Cara Memaksimalkan Penyerapan Zat Besi Anak
Penyerapan zat besi dapat ditingkatkan dengan mengatur kombinasi makanan, waktu konsumsi, dan pilihan asupan harian anak.
- Kombinasikan dengan vitamin C: Vitamin C membantu meningkatkan penyerapan zat besi non-heme dari makanan nabati agar lebih optimal diserap tubuh.
- Hindari susu atau teh saat makan: Kalsium dan tanin dapat menghambat penyerapan zat besi sehingga perlu jeda 1–2 jam dari waktu makan utama.
- MPASI hewani 2× sehari: Berikan makanan sumber zat besi dari protein hewani 2x per hari yang dikombinasikan dengan protein nabati.
- Pilih susu fortifikasi zat besi
Susu fortifikasi zat besi membantu memenuhi kebutuhan harian anak saat asupan dari makanan belum optimal.
Baca Juga: Cara Tepat dan Efektif Menambah Asupan Zat Besi Anak
Lalu, jangan lupa lengkapi kebutuhannya dengan memberikan susu yang bagus untuk perkembangan otak dengan kandungan zat besi 5x lipat, DHA 100%, minyak ikan tuna, dan double protein. Dukung si Kecil cepat tanggap dan tumbuh tinggi.
Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter?
Anemia defisiensi besi sering berkembang perlahan sehingga orang tua perlu mengenali tanda peringatan sejak dini. Berikut adalah beberapa tanda anemia defisiensi besi pada anak yang perlu diwaspadai:
- Anak tampak pucat: Warna kulit atau bagian dalam kelopak mata terlihat lebih pucat dan tidak kunjung membaik.
- Mudah lelah: Anak cepat lelah, kurang aktif, atau tampak lemas meski aktivitas ringan.
- Tidak fokus saat bermain: Anak sulit berkonsentrasi dan kurang tertarik bermain seperti biasanya.
- Nafsu makan menurun: Porsi makan berkurang atau anak sering menolak makan dalam beberapa waktu.
- Pertumbuhan melambat: Berat atau tinggi badan tidak sesuai grafik pertumbuhan anak seusianya.
Segera bawa si Kecil ke dokter jika Bunda mencurigai satu atau lebih tanda di atas. Sebuah tinjauan di The Lancet Child & Adolescent Health menyebutkan bahwa intervensi zat besi yang tepat dapat menurunkan risiko gangguan kognitif.
Daftar jadi member Klub Generasi Maju sekarang untuk dapatkan akses gratis ke ratusan artikel parenting yang terverifikasi ahli, fitur pendukung tumbuh kembang anak, hingga konsultasi 24 jam bersama para ahli. Dengan jadi member, Bunda juga berkesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk SGM!