Facebook Pixel Code 8 Cara Diagnosis Anemia pada Anak di Dokter

8 Cara Diagnosis Anemia pada Anak di Dokter

Disusun oleh: Tim Penulis

Diterbitkan: 08 Mei 2025

1 Tahun
Kesehatan
Cover Image of 8 Cara Diagnosis Anemia pada Anak di Dokter

Diagnosa anemia perlu dilakukan sedini mungkin karena gejala anemia pada anak seringkali sulit terdeteksi hanya lewat pemeriksaan fisik umum. Lalu, bagaimana cara mengetahui anak anemia?

Anak Anemia, Kapan Waktu yang Tepat Periksa ke Dokter?

Secepatnya bawa anak ke dokter untuk mendapatkan diagnosa anemia jika ia sudah menunjukkan tanda-tanda umum seperti lemas, tidak berenergi, pucat, atau gejala lain seperti sesak napas, jantung berdebar, atau pusing.

Bunda juga perlu secepatnya ke dokter apalagi jika si Kecil mengalami gejala anemia serius berupa keinginan makan benda non-makanan atau mengunyah benda tak biasa seperti es, kertas, pensil, atau tanah. Kondisi ini disebut pica. 

Bunda juga bisa pastikan dulu risiko kekurangan zat besi pada si Kecil dengan menggunakan Kalkulator Zat Besi secara gratis. Hasilnya bisa dikonsultasikan bersama dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Baca juga: Waspadai Penularan TBC pada Anak dan Cara Pencegahannya

Harus ke Dokter Apa Jika Anak Mengalami Anemia?

Bunda bisa ke dokter umum atau dokter anak untuk mendapatkan diagnosis anemia pada anak.

Jika diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis jenis anemia yang lebih spesifik, dokter dapat merujuk Bunda ke dokter anak spesialis Hemato-Onkologi. 

Dokter anak hemato-onkologi dapat mendiagnosis dan menangani gangguan pada darah dan sumsum tulang, anemia, dan kanker yang khusus terjadi pada anak-anak.

Dalam beberapa kasus, spesialis penyakit pencernaan (gastroenterolog) juga bisa dilibatkan jika penyebab anemia pada anak berkaitan dengan penyerapan nutrisi.

Apa Kriteria Anemia pada Anak?

Diagnosis anemia pada anak dapat ditegakkan jika kadar hemoglobin (Hb) lebih rendah dari batas normal untuk usia dan jenis kelaminnya.

Secara umum, anak di bawah usia 2 tahun dianggap anemia jika kadar Hb-nya kurang dari 11 g/dL. Untuk anak usia 2–6 tahun, batasnya adalah 11,5 g/dL. 

Batas kadar Hb yang menentukan anemia bisa berbeda-beda tergantung usia, jenis kelamin, dan faktor lainnya, sesuai pedoman dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Berikut adalah kriteria anemia pada anak berdasarkan kadar Hb:

  • Anemia ringan: Hb antara 9–10 g/dL.
  • Anemia sedang: Hb antara 7–8 g/dL.
  • Anemia berat: Hb di bawah 7 g/dL.

Bagaimana Cara Mendiagnosis Anemia pada Anak?

Agar tidak terlambat melakukan penanganan, ini berbagai cara diagnosa anemia pada anak di dokter yang harus Bunda pahami: 

1. Pemeriksaan Fisik oleh Dokter

Dokter akan melihat warna kulit, mata, dan kondisi kuku anak, apakah tampak pucat atau mudah patah. Lidah tampak rata tanpa papil juga bisa menjadi tanda anemia berat akibat kekurangan zat besi

Jika anak memiliki faktor risiko dan gejala khas anemia seperti pucat tanpa tanda perdarahan atau pembesaran organ, dokter akan mencurigai adanya anemia defisiensi besi. 

Pemeriksaan ini menjadi diagnosa anemia awal sebelum tes lanjutan jika diperlukan.

2. Tes Darah Lengkap (Complete Blood Count/CBC)

Tes darah lengkap atau complete blood count (CBC) adalah pemeriksaan laboratorium dasar untuk mengetahui kadar sel darah merah, hemoglobin, dan hematokrit. Ketiga komponen ini penting untuk mengevaluasi kondisi darah secara umum. 

Nilai yang rendah pada hasil tes bisa bantu menegakkan diagnosis anemia pada anak, karena menandakan tubuhnya mungkin kekurangan oksigen akibat jumlah sel darah merah yang tidak mencukupi.

Tes CBC juga mengukur mean corpuscular volume (MCV), yaitu ukuran rata-rata sel darah merah, yang bisa membantu mengidentifikasi jenis anemia tertentu.

3. Tes Apusan Darah (Blood Smear)

Tes apusan darah biasanya dapat menjadi cara diagnosa anemia lanjutan jika hasil tes CBC menunjukkan ketidaknormalan.

Tes apusan darah dilakukan dengan melihat bentuk sel darah merah secara mikroskopik. Tes ini bisa membantu mengidentifikasi kelainan bentuk atau ukuran sel darah merah yang tidak terdeteksi lewat tes darah biasa. 

Tes apusan darah penting untuk mengetahui apakah ada masalah struktural pada sel darah merah anak. Hasil tesnya bisa menunjukkan anemia hemolitik, infeksi, atau bahkan kanker darah.

Baca Juga: Ini Nutrisi Pengganti Susu Sapi untuk Dukung Si Kecil yang berusia di atas 1 Tahun

4. Pemeriksaan Kadar Zat Besi dan Feritin

Pemeriksaan kadar zat besi dan feritin dilakukan untuk mengetahui jumlah cadangan zat besi dalam tubuh anak. 

Tes ini mencakup pemeriksaan serum iron, feritin, dan kapasitas total pengikatan zat besi (TIBC). 

Feritin adalah protein yang menyimpan zat besi, dan hasilnya bisa menunjukkan apakah anak memiliki cukup cadangan untuk membentuk sel darah merah yang sehat. 

5. Tes Sumsum Tulang

Tes ini digunakan pada kasus anemia yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan tes darah biasa. Sumsum tulang akan diperiksa untuk melihat kemampuan tubuh memproduksi sel darah merah. 

Pemeriksaan ini dapat mendeteksi apakah ada gangguan serius seperti infeksi, toksin, atau bahkan kanker yang menekan fungsi sumsum tulang. 

Diagnosis anemia lewat tes sumsum tulang memerlukan rujukan ke dokter spesialis hematologi. Tes ini biasanya hanya dilakukan jika semua tes lain tidak memberikan jawaban yang jelas.

6. Hitung Retikulosit

Hitung retikulosit adalah tes untuk mengukur jumlah sel darah merah muda yang diproduksi oleh sumsum tulang.

Tes ini bisa memperkirakan seberapa keras kerja sumsum tulang untuk mengganti sel darah merah yang hilang akibat anemia.

Bila retikulosit rendah, bisa jadi sumsum tulang tidak bekerja dengan baik. Sebaliknya, retikulosit tinggi menunjukkan adanya proses penghancuran sel darah merah yang cepat.

Meskipun tidak terlalu spesifik, persentase retikulosit memberikan gambaran terbaik tentang aktivitas sumsum tulang dari sampel darah. Ini menjadi kunci dalam menentukan jenis anemia yang dialami anak.

7. Pemeriksaan Genetik

Jika dokter mencurigai anemia bawaan seperti talasemia atau anemia sel sabit, maka tes genetik perlu dilakukan untuk diagnosis anemia. 

Pemeriksaan ini membantu mendeteksi kelainan genetik pada hemoglobin atau struktur sel darah merah. 

Beberapa kondisi, seperti defisiensi enzim tertentu atau kelainan membran sel darah, hanya bisa diketahui lewat tes ini. 

Tes genetik juga penting untuk penanganan jangka panjang, karena sifatnya bawaan dan bisa diturunkan. Biasanya dilakukan atas indikasi dari dokter spesialis.

8. Tes Urine 

Tes urine dapat membantu mendeteksi adanya perdarahan atau masalah pada saluran kemih, yang merupakan sistem pengeluaran urine dari tubuh. Pemeriksaan ini juga dapat menunjukkan apakah ginjal berfungsi dengan baik. 

Selain itu, tes urine bisa mengidentifikasi keberadaan hemoglobinuria atau hemosiderinuria, yang bisa menjadi tanda adanya hemolisis intravaskular (penghancuran sel darah merah di dalam pembuluh darah). 

Tes ini bisa menjadi bahan pertimbangan tambahan dalam proses penegakan diagnosa anemia pada anak.

Baca Juga: Anak Tidak Mau Makan Nasi Hanya Minum Susu, Wajarkah?

Mendapatkan diagnosis anemia sejak dini sangat penting untuk menjaga kesehatan si Kecil. Jadi, jangan ragu berkonsultasi ke dokter jika anak menunjukkan gejala yang mencurigakan.

Bunda juga bisa langsung hubungi Sahabat Bunda Generasi Maju secara gratis tanpa perlu membuat janji. Tim Careline kami siap membantu dengan pengetahuan dan informasi terpercaya tentang nutrisi dan perkembangan anak.

Lalu, jangan sampai ketinggalan daftar jadi member Klub Generasi Maju untuk dapatkan akses gratis ke ratusan artikel parenting yang terverifikasi ahli, fitur pendukung tumbuh kembang anak, hingga konsultasi 24 jam bersama para ahli. Dengan jadi member, Bunda juga berkesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk SGM!

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Bunda

Temukan Topik Lainnya

SGM Eksplor Lebih Banyak Nutrisi

Image Banner SGM Eksplor Lebih Banyak Nutrisi