Kekurangan zat besi tidak hanya berdampak pada fisik dan kognitif anak, tapi juga pada perilaku dan kemampuan sosial si Kecil. Apa saja manfaat zat besi terhadap perilaku anak dan akibat kekurangannya?
Pengaruh Zat Besi Terhadap Perkembangan Otak dan Regulasi Emosi Anak
Zat besi merupakan salah satu mikronutrien yang terlibat dalam perkembangan otak, terutama terkait daya ingat dan proses pembelajaran. Berikut kaitan zat besi dengan perkembangan otak hingga emosi anak:
1. Mendukung Pembentukan dan Fungsi Neurotransmiter
Zat besi berperan penting dalam produksi beberapa enzim, seperti serotonin, dopamin, serta norepinefrin.
Semua enzim tersebut dibutuhkan tubuh untuk membentuk serta mendukung kerja neurotransmitter di otak anak.
Neurotransmitter ini yang nantinya berdampak pada perkembangan sosial emosional hingga kemampuan daya ingat anak.
2. Memfasilitasi Perkembangan Area Otak Tertentu
Penelitian menunjukkan bahwa salah satu manfaat zat besi adalah membantu pembentukan struktur otak, terutama pada korteks prefrontal dan hipokampus.
Korteks prefrontal berkaitan erat dengan pengambilan keputusan, perencanaan, hingga pemecahan masalah.
Sementara hipokampus merupakan bagian penting dari otak terkait daya ingat dan proses belajar.
Baca Juga: 5 Penyakit Akibat Kekurangan Zat Besi pada Anak, Yuk Bunda Waspadai!
3. Memengaruhi Regulasi Emosi dan Perilaku
Kekurangan zat besi pada anak dapat berdampak pada kondisi mudah merasa cemas, sedih, dan depresi. Bahkan, anak bisa mengalami susah fokus dan sulit berteman dengan orang lain.
Hal ini bukan hanya berdampak pada interaksi sosial dengan teman sebaya, tapi juga dapat mengganggu proses belajar dan adaptasi di lingkungan sekolah atau bermain.
Akibat Kekurangan Zat Besi terhadap Perilaku Sosial Anak
Defisiensi zat besi pada masa bayi dapat berakibat pada gangguan perilaku dan kesulitan dalam berinteraksi sosial pada masa kanak-kanak dan remaja. Berikut penjelasannya:
1. Gangguan Emosi dan Sosial
Penelitian menemukan bahwa defisiensi zat besi saat bayi, baik dengan maupun tanpa anemia, dapat meningkatkan risiko kecemasan, PTSD, hingga ADHD di masa depan si Kecil.
Selain itu, anak-anak prasekolah dengan anemia defisiensi besi juga menunjukkan perubahan emosi dan perilaku.
Seperti perilaku terlalu waspada atau ragu-ragu saat dihadapkan dengan hal baru. Hal ini menunjukkan adanya gangguan dalam interaksi sosial dan respons terhadap rangsangan baru.
2. Sangat Hati-hati, Cemas, atau Mudah Takut
Penelitian menemukan bahwa anak-anak yang kekurangan zat besi tampak mudah cemas dan takut, bahkan cenderung mencari perlindungan saat menghadapi sesuatu yang baru.
Anak juga menunjukkan tanda tidak terlalu ekspresif, seperti jarang tersenyum dan ragu-ragu saat bermain maupun berinteraksi.
3. Penurunan Konsentrasi dan Respon Sosial
Anak prasekolah yang mengalami defisiensi zat besi sering mengalami kesulitan berkonsentrasi, sehingga memengaruhi proses belajar serta interaksi mereka sehari-hari.
Selain susah fokus, anak juga mudah teralihkan dan susah mengingat, sehingga anak kesulitan mengikuti pelajaran dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial.
Baca Juga: 10 Makanan Pencegah Anemia pada Anak yang Kaya Zat Besi
4. Sering Salah Bertindak
Kekurangan zat besi memengaruhi bagian otak yang bertugas mengatur perhatian dan kontrol emosi, sehingga anak kesulitan mengendalikan dorongan dan membuat keputusan yang tepat.
Hal ini bisa membuat mereka bereaksi berlebihan, bersikap impulsif, atau salah paham dalam berbagai situasi sosial.
5. Keterlambatan Perkembangan Bahasa dan Komunikasi
Anak-anak dengan anemia defisiensi zat besi cenderung memiliki perkembangan bahasa yang lebih lambat dibandingkan anak-anak dengan status zat besi normal.
Jika tidak ditangani segera, kondisi ini dapat mempersulit perkembangan komunikasi dan proses belajar anak.
Lakukan konsultasi awal dengan spesialis gangguan bicara (phoniatric) untuk memastikan deteksi dan penanganan gangguan bahasa dilakukan secepat mungkin.
6. Efek Jangka Panjang Bila Tidak Ditangani
Penelitian menemukan, anak-anak yang mengalami kekurangan zat besi kronis berisiko mengalami gangguan perkembangan jangka panjang.
Ini termasuk masalah dalam kemampuan berpikir, perilaku, hingga interaksi secara emosional. Anak juga mungkin mengalami gangguan kecemasan saat berada di lingkungan sosial.
Agar semua dampak negatif ini bisa terhindari, Bunda perlu cek lebih dulu apakah kebutuhan zat besi (iron) anak sudah cukup atau belum di Kalkulator Zat Besi hanya dengan menjawab 7 pertanyaan singkat. Gratis!
Jangan lupa juga selalu penuhi kebutuhan zat besi harian si Kecil dengan makanan sumber zat besi tinggi serta dampingan susu pertumbuhan tinggi zat besi yang diperkaya vitamin C.
Baca Juga: Merk Susu Formula Terbaik untuk Kecerdasan Otak Anak
SGM Eksplor 1+, satu-satunya susu pertumbuhan anak 1-3 tahun dengan IronC™, kombinasi unik antara zat besi dan vitamin C yang membantu penyerapan zat besi lebih optimal hingga 2x lipat. Dilengkapi juga dengan DHA 100% Berkualitas, Minyak Ikan Tuna, omega 3&6, vitamin D, kalsium, zinc, dan nutrisi penting lainnya untuk dukung tumbuh kembang maksimal si Kecil.
Tanpa penanganan yang tepat, dampak kekurangan zat besi bisa berlangsung dalam jangka panjang dan menghambat kemampuan belajar serta prestasi si Kecil di kemudian hari.
Daftar jadi member Klub Generasi Maju sekarang untuk dapatkan akses gratis ke ratusan artikel parenting yang terverifikasi ahli, fitur pendukung tumbuh kembang anak, hingga konsultasi 24 jam bersama para ahli. Dengan jadi member, Bunda juga berkesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk SGM!