Sarapan tinggi zat besi penting untuk tumbuh kembang dan prestasi di sekolah. Apa saja efeknya bila kebutuhannya tidak terpenuhi?
Mengapa Sarapan Pagi Penting untuk Anak Sekolah?
Sarapan merupakan asupan pertama anak sebelum ia memulai beraktivitas. Saat tidur, si Kecil sebenarnya berpuasa, alias tidak makan atau minum sama sekali.
Sarapan memberikan asupan glukosa atau sumber energi yang bisa digunakan segera untuk otak dan tubuhnya.
Bila kadar glukosa tidak segera terisi setelah bangun tidur, anak akan merasa lapar, sulit konsentrasi, dan kelelahan. Akibatnya, si Kecil kesulitan belajar, bahkan memengaruhi prestasi di sekolah.
Pentingnya Sarapan Tinggi Zat Besi untuk Prestasi Anak di Sekolah
Kekurangan zat besi pada fase tumbuh kembang bisa menimbulkan dampak bagi kecerdasan anak. Bahkan, efeknya bisa bersifat permanen meskipun sudah diberikan suplemen di kemudian hari.
Berikut peran sarapan tinggi zat besi untuk anak:
1. Mempercepat Proses Pembelajaran
Zat besi penting dalam proses mielinisasi atau pembentukan selubung mielin di sekitar serabut saraf.
Selubung ini mempercepat proses kerja saraf di otak sehingga proses belajar, daya ingat, melihat berbagai sudut pandang, dan pengambilan keputusan juga turut jadi lebih cepat.
2. Meningkatkan Fokus dan Menjaga Perilaku Anak
Sarapan tinggi zat besi berguna untuk menghasilkan dan menjaga fungsi senyawa di otak atau neurotransmitter, seperti dopamin, noradrenalin, adrenaline, dan 5-hydroxytryptamine.
Berbagai neurotransmitter berguna untuk menjaga fungsi kognitif anak, seperti konsentrasi, emosi, gerak tubuh, hingga perasaan senang dan puas sehingga menimbulkan motivasi.
Studi juga menunjukkan asupan zat besi bantu kelola perilaku pada anak usia 3 tahun dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
3. Meningkatkan Daya Ingat dan Kemampuan Beradaptasi
Sarapan tinggi zat besi penting untuk pertumbuhan dan fungsi sinapsis atau penghubung sel saraf dengan sel tubuh lainnya.
Sinaps berperan penting dalam proses pembelajaran, pembentukan ingatan, dan adaptasi pada kehidupan awal anak. Jumlah pertumbuhan sinapsis paling banyak pada saat anak berusia 2-3 tahun.
Tak hanya itu, makan pagi yang kaya zat besi juga penting untuk pembentukan dendrit atau cabang saraf. Dengan dendrit, anak lebih fleksibel mempelajari hal baru.
4. Menunjang Metabolisme Energi Otak
Otak anak memerlukan oksigen dalam jumlah besar untuk mengatur proses metabolisme. Agar pasokan oksigen terpenuhi, anak memerlukan sarapan yang kaya zat besi.
Zat besi meningkatkan kadar sel darah merah yang membawa pasokan oksigen ke seluruh tubuh.
Dengan begitu, proses metabolisme bisa berlangsung dan otak mendapatkan energi yang cukup. Energi ini penting untuk fungsi kognitif dan tingkah laku anak.
Baca Juga: 10 Makanan untuk Kecerdasan Otak Anak yang Mengandung DHA
Bunda bisa cek apakah kebutuhan zat besi (iron) anak sudah cukup atau belum di Kalkulator Zat Besi, gratis! Hanya dengan menjawab 7 pertanyaan singkat, Bunda bisa langsung tahu seberapa besar risiko kekurangan zat besi pada si Kecil.
Risiko Kekurangan Zat Besi pada Anak Usia Sekolah
Sarapan tinggi zat besi penting dalam fungsi otak dan kemampuan belajar anak. Jika zat besi tak terpenuhi, prestasi anak di sekolah akan menurun.
1. Menurunnya Konsentrasi dan Fokus Belajar
Kekurangan zat besi bisa menyebabkan anak sulit fokus dalam mendapatkan pelajaran baru.
Ia juga lebih sering mengalami sluggish cognitive tempo atau kondisi yang membuat mereka lamban, sering melamun, dan susah berkonsentrasi.
2. Daya Ingat yang Lemah
Studi sementara dari Perhimpunan Dokter Spesialis Mata indonesia (Perdami) menunjukkan, anak anemia defisiensi zat besi kesulitan mengingat informasi dalam waktu singkat.
Berbagai studi lain juga menunjukkan, anak anemia defisiensi zat besi kesulitan menghafal informasi yang berkaitan dengan gambar dan ruangan.
Anak pun lebih lambat dalam mengingat kembali informasi yang telah ia dapatkan sebelumnya, sekaligus susah mengikuti instruksi yang diberikan padanya.
3. Lambat dalam Memproses Informasi
Studi terbitan Pediatrics (2022) memaparkan, anak yang kekurangan zat besi memiliki skor kognitif 6-7 poin lebih rendah daripada anak dengan zat besi cukup.
Anak jadi lebih lamban dalam merespon informasi. Padahal, ini merupakan indikator penting dalam skor IQ anak di kemudian hari.
Baca Juga: Manfaat Kalsium dan Zat Besi untuk Anak & Cara Konsumsinya
4. Prestasi Akademik Menurun
Anak anemia defisiensi zat besi memiliki rata-rata nilai ujian yang lebih rendah daripada anak dengan zat besi cukup.
Jumlah anak dengan nilai matematika yang rendah cenderung dijumpai pada anak dengan anemia defisiensi zat besi. Ingatan si Kecil pun cenderung tidak akurat.
5. Mudah Lelah Secara Mental dan Fisik
Melewatkan sarapan tinggi zat besi menyebabkan tubuh kesulitan mengangkut oksigen ke otak dan otot, membuat anak cepat lelah saat beraktivitas.
Jika mudah lelah, ia tidak akan punya energi untuk memperhatikan pelajaran di kelas, mengerjakan PR, atau bahkan bermain dengan teman-temannya.
6. Perubahan Perilaku dan Emosi
Riset terbitan The Journal of Nutrition (2012) menemukan, anak anemia defisiensi zat besi cenderung ragu-ragu dan khawatir. Hal ini membuatnya sulit mengeksplorasi hal baru.
Anak juga tampak murung, sulit tersenyum ceria, dan ingin terus-terusan bersama ibunya.
7. Keterlambatan Perkembangan Kognitif
Kekurangan zat besi sejak dini bisa menimbulkan keterlambatan kognitif yang permanen selama 2 tahun pertama anak.
Memang, suplemen zat besi tambahan bisa mengatasi anemia defisiensi besi, tetapi tidak bisa meningkatkan fungsi kognitif anak.
Hal ini berdampak pada kemampuan akademik secara keseluruhan dan perkembangan potensi intelektual anak di masa depan.
Untuk memastikan anak mendapatkan asupan zat besi yang mencukupi, lengkapi sarapan anak dengan susu tinggi zat besi yang diperkaya vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi lebih optimal hingga 2x lipat.
Baca Juga: 10 Akibat Kekurangan Zat Besi pada Anak
Rekomendasi Menu Sarapan Tinggi Zat Besi untuk Anak
Sarapan kaya zat besi bisa dibuat dengan mudah di rumah. Bahan-bahannya pun sederhana, bisa ditemukan di sekitar. Berikut inspirasi menu sarapan penuh gizi:
1. Nasi Goreng Hati Ayam
Hati ayam merupakan makanan tinggi zat besi yang cocok untuk sarapan.
Pastikan Ayah dan Bunda melengkapi seporsi nasi goreng hati ayam dengan sayur dan lauk lain, seperti telur mata sapi dan brokoli.
Diketahui, brokoli merupakan sayuran kaya vitamin C yang membantu penyerapan zat besi ke tubuh.
2. Nasi Telur Dadar dan Sarden
Telur dan sarden merupakan sumber makanan yang kaya akan zat besi.
Untuk menambah citarasa sarapan yang tinggi zat besi ini, tambahkan saus tomat yang sudah ditumis bersama bawang bombay.
Tomat merupakan sumber vitamin C, sedangkan bawang bombay kaya antioksidan untuk kesehatan si Kecil.
3. Sup Daging
Daging sapi kaya akan zat besi. Sup juga berisi berbagai macam sayuran, seperti wortel, brokoli, kubis, dan buncis. Sayuran ini kaya vitamin C untuk memaksimalkan manfaat zat besi.
Tak hanya itu, sayur-sayuran juga mengandung serat dan berbagai vitamin dan mineral untuk melengkapi kebutuhan gizi harian anak.
Susu tinggi zat besi dan vitamin C juga bisa diberikan sebagai pendamping sarapan tinggi zat besi yang melengkapi kebutuhan harian si Kecil.
Daftar jadi member Klub Generasi Maju sekarang untuk dapatkan akses gratis ke ratusan artikel parenting yang terverifikasi ahli, fitur pendukung tumbuh kembang anak, hingga konsultasi 24 jam bersama para ahli. Dengan jadi member, Bunda juga berkesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk SGM!