Facebook Pixel Code Anemia pada Bayi: Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Anemia pada Bayi: Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Foto Reviewer dr. Yuli Ariani, Sp.A(K)

Disusun oleh: Tim Penulis

Ditinjau oleh: dr. Yuli Ariani, Sp.A(K)

Diterbitkan: 23 Desember 2024

Diperbarui: 02 Februari 2026

7 - 9 Bulan
Kesehatan
Cover Image of Anemia pada Bayi: Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

 

Anemia pada bayi adalah kondisi kurang sel darah merah yang ditandai kulit pucat, lemas, rewel, sulit menyusu, serta napas atau detak jantung cepat. Penyebab paling umum adalah kekurangan zat besi, meski bisa juga dipicu proses fisiologis saat lahir, perdarahan, atau kerusakan sel darah akibat ketidakcocokan golongan darah ibu dan bayi. Penanganannya mencakup ASI eksklusif, asupan makanan kaya zat besi yang dibantu vitamin C, serta suplementasi zat besi terutama jika gejalanya berat.

Apa Itu Anemia pada Bayi?

Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin dalam tubuh lebih rendah dari normal. Anemia biasanya ditandai dengan kadar Hb yang rendah pada pemeriksaan darah.

Menurut IDAI, anemia paling sering terjadi pada bayi saat baru lahir dan saat mulai MPASI akibat kurangnya asupan zat besi.

Kekurangan sel darah merah menyebabkan, oksigen yang dibawa ke seluruh tubuh menjadi kurang, sehingga bayi bisa merasa lemas, pucat, mudah lelah, atau sesak napas.

Jenis-Jenis Anemia pada Bayi

Ada beberapa jenis anemia yang dapat terjadi pada bayi dan anak, di antaranya:

1. Anemia Defisiensi Zat Besi

Anemia defisiensi zat besi adalah jenis anemia yang paling umum terjadi. Sesuai namanya, ini terjadi karena si Kecil kekurangan asupan zat besi.

Bayi yang mengonsumsi ASI eksklusif bisa lebih berisiko karena kandungan zat besi pada ASI yang terhitung sedikit. Itu sebabnya, asupan nutrisi perlu ditambah saat ia berusia 6 bulan. 

Selain itu, saat anak mulai MPASI, makanan dan minuman yang kurang zat besi juga jadi penyebab anemia.

2. Anemia Fisiologis

Pada usia 6-8 minggu, bayi baru lahir kemungkinan akan mengalami anemia. 

Ini karena pertumbuhan si Kecil sangat cepat pada awal kehidupannya, tapi belum diimbangi dengan kemampuannya dalam memproduksi sel darah merah.

Selain itu, menurut IDAI, umur sel darah merah anak pada saat baru lahir juga cenderung lebih pendek. Kondisi ini normal dan disebut dengan anemia fisiologis.

Barulah ketika si Kecil berusia 2 bulan, kemampuan produksi sel darah merah mulai meningkat.

3. Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik adalah kondisi yang menyebabkan sel darah merah lebih cepat hancur, dibandingkan kemampuan tubuh memproduksinya.

Ciri bayi anemia hemolitik umumnya bervariasi tergantung seberapa parah kondisinya. 

4. Anemia Aplastik

Anemia aplastik terjadi saat tubuh kekurangan sel darah merah akibat kerusakan sumsum tulang. Sumsum tulang adalah “pabrik” penghasil berbagai komponen darah.

Itu sebabnya, anemia aplastik pada bayi tidak hanya menyebabkannya kekurangan sel darah merah, tapi juga komponen darah lain, seperti trombosit dan leukosit.

Baca Juga: 10 Manfaat Zat Besi untuk Bayi dan Cara Penuhi Kebutuhannya

Penyebab Anemia pada Bayi yang Perlu Diketahui

Penyebab anemia adalah kurangnya sel darah merah. Kekurangan sel darah merah bisa karena kurang asupan nutrisi tertentu ataupun kondisi lain yang menyebabkan “pabrik”-nya terganggu.

1. Bayi Lahir Prematur 

Penyebab bayi anemia salah satunya kelahiran prematur. Bayi yang lahir prematur cenderung punya cadangan zat besi yang lebih rendah dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan.

Ditambah, usia sel darah bayi yang lahir prematur cenderung lebih pendek dibandingkan bayi cukup bulan. Rata-rata, cadangan zat besi bayi prematur menurut penelitian hanya cukup sampai ia berusia 2 bulan. 

Penelitian dalam jurnal Pediatrics and Child Health (2024) menyebutkan, penurunan hemoglobin pada bayi prematur bisa hingga 6,5-8 g/dL. Sementara, kadar normalnya adalah 9,5-13 g/dL.

2. Kehilangan Darah 

Dirawat di NICU saat baru lahir bisa juga jadi penyebab Hb rendah pada bayi. Sebab, sering kali, anak yang dirawat di NICU perlu menjalani pemeriksaan darah berulang kali.

Apabila selama prosesnya si Kecil tidak mendapatkan darah pengganti, ia lebih berisiko mengalami anemia.

3. Asupan Zat Besi Kurang

Kekurangan zat besi juga jadi penyebab anemia pada bayi yang paling umum. Ini karena si Kecil tidak mendapatkan asupan zat besi yang cukup, baik dari ASI ataupun MPASI.

Bayi ASI kurang zat besi disebabkan karena sering kali ASI hanya mengandung sedikit zat besi. Itu sebabnya, CDC (2025) menyebutkan asupan zat besi perlu dipenuhi dari makanan saat ia berusia 6 bulan lewat MPASI.

Bayi yang minum susu formula tanpa fortifikasi zat besi juga sama berisikonya mengalami anemia seperti bayi ASI yang kurang zat besi.

Baca Juga: 10 Cemilan Bayi Kaya Zat Besi yang Mudah Dibuat

4. Produksi Sel Darah Merah Terganggu

Terganggunya produksi sel darah merah bisa menyebabkan bayi anemia. Umumnya, ini terjadi pada bayi yang mengalami anemia aplastik.

Sebab, anemia aplastik menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang yang mengganggu produksi sel darahnya. 

Dokter dapat mencurigai si Kecil mengalami anemia jika penurunan sel darah merah juga diikuti penurunan komponen darah lainnya.

5. Pemecahan Sel Darah Merah Terlalu Cepat 

Normalnya, sel darah merah tua akan dipecah dan digantikan dengan yang baru. Namun, ada kondisi yang menyebabkan pemecahan sel darah merah (hemolisis) jadi lebih cepat dan jadi penyebab anemia.

Ini dapat terjadi ketika rhesus golongan darah Bunda tidak sesuai dengan si Kecil. Kondisi ini dikenal dengan inkompatibilitas rhesus.

Hemolisis yang terlalu cepat bisa menyebabkan kadar bilirubin meningkat. Kulit bayi kuning bisa jadi salah satu ciri bayi anemia yang disebabkan oleh hemolisis atau inkompatibilitas rhesus.

Berikut ini adalah tabel perbandingan penyebab anemia pada bayi agar Bunda lebih mudah mengenalinya:

Penyebab Anemia pada Bayi

Terjadi karena…

Kelahiran prematur

Cadangan zat besi bayi prematur sangat sedikit dibandingkan bayi cukup bulan.

Kekurangan asupan zat besi

Kurangnya asupan zat besi dari makanan bayi, baik itu ASI ataupun menu MPASI yang kurang zat besi.

Hemolisis

Pemecahan sel darah merah terlalu cepat karena ketidakcocokkan darah Bunda dan bayi (inkompatibilitas rhesus).

Anemia aplastik

Sumsum tulang, sebagai pabrik sel darah, tidak memproduksi sel darah.

Risiko Anemia pada Bayi ASI Eksklusif

ASI adalah makanan terbaik untuk si Kecil karena tinggi antibodi. Namun, bayi ASI kurang zat besi umum terjadi karena ASI sendiri hanya mengandung sedikit zat besi.

Studi dalam The Journal of Pediatrics (2021) menyimpulkan, setelah usia 4-6 bulan ASI saja tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan zat besi bayi

Karena itu, pastikan kebutuhan nutrisi si Kecil terpenuhi optimal. Daftar sebagai member Klub Generasi Maju dan dapatkan panduan gizi lengkap serta rekomendasi menu harian.

Baca Juga: 4 Cara agar Bayi ASI 4 Bulan Tidak Kekurangan Zat Besi

Ciri-Ciri Bayi Anemia yang Perlu Bunda Waspadai

Gejala anemia bisa bervariasi, dari ringan hingga berat, tergantung tingkat keparahan kondisinya. Berikut ini adalah ciri bayi kekurangan zat besi yang perlu Bunda waspadai:

  • Kulit pucat
  • Lemas dan cepat lelah
  • Napas cepat atau sesak napas
  • Lebih rewel
  • Tidur tidak nyenyak
  • Lidah perih atau bengkak
  • Gusi pucat
  • Kuku rapuh
  • Mudah memar
  • Kulit kuning (jaundice)
  • Warna urine pekat
  • Perut (limpa) membengkak

Berdasarkan tingkat keparahannya, Bunda bisa merujuk ke ciri bayi anemia dari tabel di bawah ini:

Tingkat Anemia

Ciri yang Tampak

Ringan

Pucat, mudah lelah, lemas, kurang aktif, mudah memar

Sedang 

Napas cepat, rewel, susah tidur

Berat

Sesak napas, detak jantung cepat, kulit kuning, warna urine pekat

Selain dari gejalanya, Bunda juga bisa mengecek apakah kebutuhan zat besi anak sudah cukup atau belum dengan dengan mencoba Kalkulator Zat Besi secara gratis. 

Hanya dengan menjawab 7 pertanyaan singkat, Bunda dapat mengetahui seberapa besar risiko bayi mengalami anemia. 

Cara Mengatasi Anemia pada Bayi 

Tanpa penanganan yang tepat, dampak anemia pada bayi bisa menyebabkan gangguan tumbuh kembang, sistem imun yang lemah, ataupun gangguan motorik. Berikut beberapa cara mengatasi anemia pada bayi sesuai penyebabnya:

1. Suplementasi Zat Besi

Kekurangan zat besi adalah penyebab anemia pada bayi yang paling umum terjadi. Untuk mengatasi anemia defisiensi besi, dokter akan meresepkan si Kecil suplemen zat besi.

Pastikan Bunda berkonsultasi dan tidak memberikan suplemen zat besi secara sembarangan. Dosis hanya boleh diberikan oleh dokter untuk menghindari komplikasi.

2. Pengobatan Penyebab Infeksi

Selain kekurangan zat besi, anemia bayi dan anak-anak juga disebabkan oleh pemecahan sel darah merah (hemolisis) yang terlalu cepat.

Kondisi ini bisa terjadi karena genetik ataupun infeksi tertentu, atau kondisi yang menyebabkan golongan darah tidak cocok dan akhirnya saling menghancurkan.

Untuk mengatasi berbagai gejala bayi anemia, dokter akan mengobati infeksi atau kondisi yang menyebabkan hemolisis terjadi lebih cepat.

Baca Juga: 10 Sayuran Tinggi Zat Besi untuk Bayi dan Ide Resepnya

3. Transfusi Darah

Salah satu penyebab Hb rendah pada bayi adalah kelahiran prematur yang cukup jauh dari HPL-nya. 

Dalam kondisi ini, jika ciri bayi anemia yang muncul cukup berat, transfusi darah mungkin diperlukan untuk dapat meningkatkan jumlah Hb dengan cepat.

Sebab, pada awal kehidupannya, tubuh si Kecil belum mampu memproduksi sel darah merah dengan cepat, terlebih pada anak yang lahir secara prematur.

4. Berikan Makanan Tinggi Zat Besi

Untuk anak yang sudah memasuki usia MPASI, Bunda bisa memberikannya makanan tinggi zat besi, seperti dari daging merah ataupun ayam. Ada banyak juga sayur dan buah tinggi zat besi.

Beberapa makanan kaya zat besi (iron) yang bisa Bunda berikan, antara lain:

  • Daging sapi
  • Ayam 
  • Hati ayam
  • Ikan
  • Makanan laut, seperti tiram
  • Sayuran berdaun hijau gelap, seperti bayam, sawi, dan brokoli
  • Kacang-kacangan, seperti kacang polong, kacang merah, buncis
  • Roti gandum utuh
  • Sereal terfortifikasi
  • Umbi-umbian, seperti ubi jalar dan singkong
  • Buah tinggi vitamin C untuk bantu penyerapan zat besi

Kapan Bunda Perlu Membawa Bayi ke Dokter?

Pada kebanyakan kasus, anemia bayi ringan mungkin tidak membutuhkan pengobatan khusus. Akan tetapi, anemia yang dibiarkan juga bisa menimbulkan komplikasi pada si Kecil.

Bunda perlu segera membawa si Kecil ke dokter jika melihat ciri bayi anemia padanya, terutama jika:

  • Bayi tampak pucat, lemas, dan tidak aktif
  • Bernapas cepat atau sesak
  • Kulit dan bagian putih mata bayi tampak kuning
  • Minum ASI atau makan MPASI berkurang
  • Tidur terus-menerus
  • Tidak naik berat badan atau bahkan turun

Jika Bunda masih punya pertanyaan mengenai anemia pada bayi atau masalah kesehatan lainnya, Bunda bisa hubungi Sahabat Bunda Generasi Maju.

Layanan interaktif ini tersedia selama 24/7 secara gratis agar Bunda dapat menghubungi kapan saja dan di mana saja saat membutuhkan konsultasi dengan tenaga ahli. Yuk, hubungi sekarang!

Informasi yang Wajib Bunda Ketahui

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Bunda

Temukan Topik Lainnya