Bayi ASI kurang zat besi bisa menjadi masalah serius jika tidak segera dikenali dan ditangani. Yuk, kenali penyebab dan langkah pencegahan kondisi ini agar tumbuh kembang si Kecil tetap optimal!
Mengapa Bayi ASI Bisa Kekurangan Zat Besi?
Meskipun ASI adalah sumber gizi terbaik untuk bayi, kandungan zat besinya terbatas dan bisa tak cukup untuk kebutuhan bayi yang terus tumbuh. Berikut penyebabnya:
1. Kandungan Zat Besi ASI Terbatas
ASI hanya mampu mencukupi sekitar 0,3 mg zat besi harian bayi. Jumlah ini terbilang sedikit dan cukup untuk memenuhi kebutuhan si Kecil hingga usia 4-6 bulan.
Setelah itu, risiko bayi ASI kurang zat besi mulai meningkat jika tidak ditambah dengan asupan MPASI tinggi zat besi mulai usia 6 bulan.
2. Cadangan Zat Besi Bayi Menurun
Selama dalam kandungan, bayi menyerap zat besi dari sang ibu dan menyimpannya sebagai cadangan untuk kebutuhan setelah lahir. Tapi cadangan ini mulai menipis ketika bayi memasuki usia 6 bulan.
Jika asupan tidak ditambah, kondisi bayi ASI kurang zat besi bisa terjadi karena kebutuhan zat besinya makin besar seiring pertumbuhan.
Risiko bayi ASI mengalami kekurangan zat besi semakin tinggi saat mereka memasuki usia 9-24 bulan.
Baca Juga: 10 Ciri Bayi Kekurangan Zat Besi dan Cara Mengatasinya
3. Kebutuhan Zat Besi Meningkat
Kebutuhan zat besi bayi akan meningkat pesat seiring dengan pertumbuhannya yang cepat saat ia mulai usia 6 bulan. Itu kenapa ASI saja tidak cukup sebagai asupan zat besi bayi setelah 6 bulan.
Tanpa MPASI yang kaya zat besi, bayi bisa mengalami defisiensi. Hal ini terutama terjadi pada usia 6-12 bulan.
4. Konsumsi MPASI Tinggi Zat Besi Kurang dari 2 Kali per Hari
Risiko bayi ASI kurang zat besi dapat meningkat apabila ia hanya minum ASI dan tidak mendapatkan tambahan zat besi dari makanan sumber iron seperti daging, hati, atau MPASI fortifikasi mulai usia 6 bulan.
Pada usia tersebut, bayi membutuhkan asupan zat besi sebanyak 11 mg setiap hari. Namun jika si Kecil tidak terbiasa makan makanan kaya zat besi kurang dari dua kali sehari, ia lebih berisiko kekurangan zat besi.
5. Bayi Lahir dari Ibu Penderita Anemia
Ibu yang mengalami anemia selama hamil cenderung melahirkan bayi dengan kadar hemoglobin dan ferritin yang lebih rendah.
Akibatnya, sejak lahir bayi sudah memiliki cadangan zat besi yang minim. Sehingga, bayi ASI lebih rentan mengalami defisiensi zat besi, terutama bila asupan tambahan tidak diberikan secara optimal.
6. Faktor Risiko Lainnya
Kondisi seperti lahir prematur, berat rendah, atau bayi kembar juga memicu risiko bayi ASI kurang zat besi.
Pada kondisi ini, bayi memerlukan perhatian ekstra terkait pemenuhan kebutuhan zat besinya sejak dini.
Baca Juga: Dampak Bayi Kekurangan Zat Besi dan Cara Mengatasinya
Gejala Kekurangan Zat Besi pada Bayi
Agar kondisi kekurangan zat besi bisa segera diatasi, Bunda perlu kenali gejalanya di bawah ini:
- Bayi tampak lebih rewel tanpa sebab jelas.
- Napas pendek atau cepat saat beraktivitas ringan.
- Nafsu makan menurun atau tidak mau makan.
- Terlihat lesu, cepat lelah, atau kurang aktif dibanding biasanya.
- Mengalami pica, yaitu keinginan makan benda aneh seperti kertas atau tanah.
- Bagian putih mata tampak pucat atau kebiruan.
- Warna kulit terlihat lebih pucat dari biasanya.
- Kuku menjadi rapuh dan mudah patah.
Ingin tahu apakah si Kecil sudah cukup zat besi? Cek langsung secara gratis di Kalkulator Zat Besi! Hanya dengan menjawab 7 pertanyaan singkat, Bunda bisa langsung tahu seberapa besar risiko kekurangan zat besi pada si Kecil.
Jika risiko si Kecil tinggi, sebaiknya segera konsultasi ke dokter untuk menjalani pemeriksaan kadar zat besi dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Cara Mencegah dan Mengatasi Kekurangan Zat Besi pada Bayi ASI
Tenang Bun, bayi ASI kurang zat besi bisa dicegah dan diatasi dengan cara-cara di bawah ini:
1. Meningkatkan Asupan Zat Besi Ibu Menyusui
Untuk membantu mencukupi kebutuhan zat besi bayi yang disusui, penting bagi ibu menyusui mengonsumsi makanan tinggi zat besi, seperti daging sapi, ayam, ikan, telur, dan sayuran hijau.
Selain itu, Bunda juga bisa minum susu yang tinggi zat besi tinggi, seperti SGM Bunda High-Iron untuk bantu lengkapi asupan harian Bunda.
Susu SGM Bunda High-Iron tinggi zat besi dan asam folat, serta diperkaya DHA, minyak ikan, dan protein. Kandungan zat besi dalam setiap sajian susu SGM Bunda bisa bantu cukupi hingga 25% kebutuhan zat besi harian selama menyusui. Lezatnya tidak bikin mual.
2. Pastikan MPASI Kaya Zat Besi 2x Sehari
Setelah bayi berusia 6 bulan, kebutuhan zat besinya meningkat dan tidak lagi dapat dipenuhi hanya dari ASI.
MPASI harus mencakup makanan kaya zat besi seperti hati ayam, daging merah, sayuran hijau, kacang-kacangan, atau makanan yang telah difortifikasi zat besi. Zat besi hewani lebih mudah diserap tubuh dibandingkan dengan yang bukan.
Mengingat sulitnya bayi mengonsumsi porsi besar daging, pemberian MPASI fortifikasi bisa membantu mencukupi kebutuhan harian bayi.
Baca Juga: Tips Tepat Memilih Makanan Bayi dengan Kandungan Tinggi Zat Besi
3. Kombinasikan dengan MPASI Tinggi Vitamin C
Agar penyerapan nutrisi ini lebih maksimal, bayi ASI kurang zat besi harus diberikan makanan kaya vitamin C.
Nutrisi ini bisa menggandakan penyerapan zat besi, terutama dari sayur dan serealia.
Coba tambahkan jeruk, stroberi, paprika, atau brokoli ke dalam menu MPASI si Kecil untuk meningkatkan manfaatnya.
4. Berikan Suplemen Zat Besi untuk Bayi
Jika bayi ASI kurang zat besi dan mengalami gejala, dokter mungkin akan merekomendasikan suplemen zat besi untuk bayi.
IDAI merekomendasikan suplemen zat besi 3 mg/kgBB sebelum makan atau 5 mg/kgBB setelah makan, dibagi dua dosis. Tambahan vitamin C 2x50 mg/hari bisa membantu penyerapan.
Tetap konsultasikan dengan dokter agar dosisnya tepat dan aman, serta untuk mencegah efek samping seperti sembelit atau overdosis.
Dengan memberikan MPASI tinggi zat besi, memastikan asupan zat besi ibu tercukupi, serta memantau tumbuh kembang bayi secara rutin, bayi bisa tetap sehat dan tumbuh optimal. Jaga selalu kesehatan si Kecil ya, Bun!