Flek kehamilan umumnya terjadi di trimester pertama. Meski umumnya tidak berbahaya, kondisi ini kerap menimbulkan kekhawatiran. Ketahui lebih lanjut tentang flek hamil di sini!
Berbagai Macam Penyebab Flek saat Hamil
Sekitar 15 - 20% ibu hamil mengalami flek pada trimester pertama, paling sering terlihat pada minggu keenam dan ketujuh. Berikut beberapa penyebab flek darah saat hamil:
1. Perdarahan Implantasi
Flek saat hamil muda umumnya muncul karena perdarahan implantasi. Dalam hal ini, embrio menempel di dinding rahim.
Lantas, flek hamil muda seperti apa? Biasanya, muncul bercak darah berwarna merah muda, merah cerah, atau cokelat tua. Terkadang, juga berupa darah merah segar atau gumpalan.
Darah ini tentu berbeda dengan menstruasi. Berikut perbedaan flek hamil dan haid.
- Warna darah: haid berwarna merah terang hingga gelap, flek tanda hamil pink atau cokelat gelap
- Tekstur: menstruasi sering menggumpal, flek tidak menunjukkan gumpalan
- Jumlah darah: darah haid bisa memenuhi pembalut, flek hamil hanya bercak ringan
Lantas, kapan flek tanda hamil muncul? Kondisi ini biasanya muncul pada 6–12 hari setelah pembuahan. Berapa hari flek tanda hamil? Perdarahan implantasi berlangsung selama beberapa jam atau hingga 3 hari dan akan berhenti dengan sendirinya.
2. Perubahan Serviks
Perubahan hormon terjadi saat hamil dan memengaruhi leher rahim atau serviks.
Dalam hal ini, serviks menjadi lebih sensitif untuk mempersiapkan kehamilan. Akibatnya, flek coklat saat hamil muda pun muncul. Tidak perlu khawatir, perubahan serviks ini normal.
Baca Juga: 6 Jenis Imunisasi Ibu Hamil serta Manfaatnya
3. Infeksi Serviks
Penyebab flek kehamilan bisa juga terjadi karena adanya infeksi pada serviks.
Selain flek, biasanya akan muncul gejala lain seperti terasa nyeri, bengkak, merah, dan iritasi pada vagina.
Kondisi ini kerap terjadi di trimester pertama kehamilan. Jadi, Bunda harus segera konsultasi dengan dokter.
4. Kehamilan Ektopik
Penyebab flek darah saat hamil lainnya adalah kehamilan ektopik. Kondisi ini terjadi jika sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim.
Flek akibat kehamilan ektopik biasanya disertai gejala lain, yaitu nyeri perut atau panggul, pusing, hingga pingsan. Kehamilan ektopik biasanya terjadi pada usia kehamilan 12 minggu.
5. Hamil Anggur
Hamil anggur merupakan kondisi yang sangat langka, yaitu ketika munculnya jaringan abnormal yang tumbuh di dalam rahim.
Selain flek kehamilan, gejala lainnya yaitu mual dan muntah yang parah, serta pembesaran rahim yang cepat.
6. Keguguran
Hampir semua ibu hamil mengalami flek atau perdarahan sebelum keguguran. Umumnya keguguran terjadi di usia hamil 13 minggu. Flek biasanya berwarna cokelat atau merah cerah.
Disertai gejala nyeri pada perut bagian bawah, lendir putih atau merah muda dari vagina, kram atau kontraksi, dan keluar gumpalan atau jaringan dari vagina.
Jika Bunda curiga flek diakibatkan keguguran, segera pergi ke dokter, ya!
Baca Juga: 10 Daftar Makanan yang Dilarang untuk Ibu Hamil
7. Plasenta Previa
Flek kehamilan juga dapat disebabkan oleh plasenta previa. Kondisi ini terjadi ketika letak plasenta sangat rendah, bahkan hingga menutupi seluruh atau sebagian jalan lahir.
Ibu hamil yang mengalami plasenta previa berisiko tinggi melahirkan prematur atau sebelum usia kehamilan 37 minggu.
8. Solusio Plasenta
Solusio plasenta sering terjadi saat kehamilan trimester kedua atau ketiga. Dalam hal ini, plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum atau selama persalinan.
Solusio plasenta sangat berbahaya bagi ibu dan bayi. Tanda-tanda solusio plasenta adalah nyeri perut, nyeri punggung, dan keluarnya flek atau gumpalan darah dari vagina.
Risiko solusio plasenta tinggi bila pernah cedera traumatis, punya riwayat hipertensi, pernah mengalami komplikasi kehamilan (infeksi rahim, masalah tali pusat, atau cairan ketuban berlebih).
9. Plasenta Akreta
Plasenta akreta terjadi saat plasenta tumbuh terlalu dalam ke dinding rahim. Kondisi ini dapat menyebabkan flek selama masa kehamilan.
Ibu dengan riwayat operasi caesar berisiko mengalami kondisi ini. Meski demikian, plasenta akreta sangat jarang terjadi.
10. Robek pada Rahim
Flek kehamilan bisa terjadi akibat adanya robekan pada rahim. Kondisi ini dapat terjadi jika Bunda memiliki bekas luka di rahim dari operasi caesar sebelumnya.
Robek pada rahim ini bisa berbahaya bagi Bunda dan janin sehingga membutuhkan operasi darurat.
Baca Juga: Bayi Sungsang, Bagaimana Mengatasinya?
11. Tanda Mau Melahirkan
Munculnya flek di trimester ketiga kehamilan juga bisa jadi tanda-tanda persalinan. Beberapa hari sebelum persalinan, biasanya vagina mengeluarkan lendir berwarna cokelat atau merah.
Namun, jika tanda-tanda ini muncul sebelum 37 minggu kehamilan, segera hubungi dokter karena Bunda bisa mengalami kondisi persalinan prematur.
Untuk mengetahui penyebab flek atau pendarahan yang pasti, Bunda perlu melakukan pemeriksaan vagina atau panggul, USG, atau tes darah untuk mengecek kadar hormon.
Cara Mengatasi Flek Saat Hamil
Untuk dapat mengatasi flek saat hamil, Bunda perlu melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Namun, ada beberapa cara sederhana yang bisa Bunda lakukan di rumah.
1. Hindari Hubungan Intim untuk Sementara
Menunda berhubungan badan bisa mengurangi risiko perdarahan akibat gesekan pada serviks yang sedang sensitif di trimester 1.
Jika flek kehamilan terjadi akibat plasenta previa, solusio plasenta, infeksi, atau luka di serviks, menunda berhubungan intim juga mengurangi keparahan gejala.
Berhenti berhubungan intim memudahkan dokter mencari tahu apakah perdarahan disebabkan oleh aktivitas seksual atau komplikasi kehamilan.
2. Pemeriksaan Rutin Kehamilan
Dengan periksa rutin, dokter segera menemukan berbagai risiko kehamilan yang bisa memicu flek kehamilan yang berbahaya.
Jadi, komplikasi kehamilan bisa diminimalisir atau bahkan diatasi.
3. Konsumsi Asupan yang Bergizi dan Seimbang
Vitamin K dari sayur-sayuran hijau berperan dalam menghentikan perdarahan, sedangkan zat besi mengembalikan darah yang hilang.
Asupan gizi lainnya juga penting untuk mendukung kesehatan ibu hamil dan menurunkan risiko komplikasi, seperti protein, folat, vitamin C, vitamin D, dan vitamin E.
Bunda juga perlu mengonsumsi susu kehamilan seperti SGM Bunda High-Iron. SGM Bunda High-Iron adalah susu untuk ibu hamil dan menyusui yang tinggi zat besi & asam folat, juga diperkaya DHA, minyak ikan tuna, sekaligus sumber protein. Dukung nutrisi lengkap mengoptimalkan pertumbuhan & perkembangan janin, lezatnya tidak bikin mual.
4. Perbaiki Gaya Hidup
Bunda juga bisa memperbanyak minum air putih, membatasi aktivitas fisik, menghindari mengangkat beban yang berat, dan memperbanyak istirahat.
Jika mengalami flek, kenakan pembalut agar Bunda bisa memeriksa dan mencatat warna flek. Cek banyaknya flek serta apakah ada gumpalan atau tidak. Lalu, konsultasikan ke dokter!
Baca Juga: Operasi Caesar: Dapatkah Meningkatkan Risiko Alergi pada Anak?
Kapan Flek Saat Hamil Perlu Diwaspadai?
Bunda mesti waspada jika memiliki salah satu dari gejala berikut ini:
- Nyeri hebat atau kram di bagian bawah perut.
- Perdarahan hebat.
- Keluar gumpalan dari vagina.
- Pusing dan pingsan.
- Demam tinggi atau menggigil.
Segeralah ke rumah sakit atau tenaga kesehatan lainnya jika mengalami kondisi di atas atau perdarahan pada kehamilan trimester 2 atau trimester 3.
Daftar jadi member Klub Generasi Maju sekarang untuk dapatkan akses gratis ke ratusan artikel parenting yang terverifikasi ahli, fitur pendukung tumbuh kembang anak, hingga konsultasi 24 jam bersama para ahli. Dengan jadi member, Bunda juga berkesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk SGM!