Facebook Pixel Code Jenis Imunisasi Saat Hamil yang Aman dan yang Perlu Ditunda

Jenis Imunisasi Saat Hamil yang Aman dan yang Perlu Ditunda

Disusun oleh: Tim Penulis

Diterbitkan: 19 Oktober 2021

Diperbarui: 20 Oktober 2025

Trimester 1
Tips
Cover Image of Jenis Imunisasi Saat Hamil yang Aman dan yang Perlu Ditunda

 

Ada jenis imunisasi ibu hamil yang dianjurkan diberikan di masa kehamilan, tapi ada juga yang perlu ditunda atau bahkan dihindari. Agar kehamilan aman, Bunda perlu tahu daftar imunisasi ini!

Apakah Ibu Hamil Boleh Vaksin?

Ibu hamil boleh melakukan vaksinasi selama vaksin yang diberikan mengandung virus mati (inactivated virus), dan bukan virus hidup. 

Ada beberapa jenis imunisasi ibu hamil yang aman dan memang disarankan untuk diberikan saat hamil guna melindungi kesehatan ibu hamil dan janin di dalam kandungan. 

Misalnya vaksin flu yang tidak mengandung virus hidup serta vaksin pertusis (batuk rejan/Tdap). Vaksin tetanus juga aman diberikan selama masa kehamilan.

Pentingnya Imunisasi saat Hamil

Imunisasi ibu hamil melindungi Bunda dari infeksi serius yang bisa berdampak fatal. Antibodi dari vaksinasi juga membantu membentuk perlindungan pasif bagi janin.

Pasalnya, selama hamil, sistem imun ibu mengalami perubahan yang membuatnya lebih rentan terhadap penyakit. 

Jika tidak dicegah, beberapa jenis infeksi menular berisiko membahayakan janin dan menimbulkan komplikasi kehamilan, seperti keguguran, bayi lahir mati (stillbirth), kelahiran prematur, maupun menyebabkan tuli. 

Sistem imun bayi saat lahir juga masih belum matang, sehingga perlindungan dari antibodi ibu sangat dibutuhkan. Jadi, vaksinasi saat hamil dapat mencegah komplikasi serius pada bayi.

Jenis Imunisasi yang Dianjurkan untuk Ibu Hamil

Beberapa jenis vaksin terbukti aman dan dianjurkan saat kehamilan. Berikut daftar imunisasi yang bisa Bunda dapatkan sesuai rekomendasi medis:

1. Vaksin Tetanus (TT atau Tdap/DPT)

Vaksin TT bertujuan mencegah tetanus neonatal dan infeksi serius pada ibu. Ini penting terutama saat persalinan berlangsung di lingkungan yang tidak steril.

Vaksin Tdap/DPT sebaiknya didapatkan di antara minggu ke-27 hingga minggu ke-36 kehamilan. Dosis diberikan 2 kali selama kehamilan dengan jeda minimal 4 minggu.

Vaksin kombinasi Tdap/DPT juga melindungi dari difteri dan pertusis (batuk rejan). Pertusis sangat berbahaya bagi bayi baru lahir.

2. Vaksin Influenza

Vaksin influenza inaktif dinilai aman diberikan untuk ibu hamil di trimester kehamilan berapa pun. 

Imunisasi ibu hamil ini membantu mencegah komplikasi berat seperti pneumonia, infeksi bakteri, dan sindrom gangguan pernapasan akut. 

Vaksin ini juga menurunkan risiko kelahiran prematur dan berat badan bayi rendah saat lahir.

3. Vaksin Hepatitis B

Vaksin hepatitis B direkomendasikan terutama bagi ibu hamil dengan risiko tinggi infeksi, misalnya seorang tenaga kesehatan, punya riwayat penyakit hati, atau suami memiliki hepatitis B. 

Vaksin ini aman dan efektif bagi ibu hamil. Perlu diingat, bayi baru lahir tetap harus divaksin hepatitis B meski ibunya sudah divaksin, untuk mencegah penularan saat persalinan.

Pemberian vaksin hepatitis B biasa dilakukan dalam 3 dosis dengan jeda per 6 bulan. Jika diberikan dalam 2 dosis, jaraknya jadi sekitar 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua. 

4. Vaksin Hepatitis A

Vaksin hepatitis A bisa diberikan pada ibu hamil bila punya riwayat penyakit hati kronis, berisiko tinggi terkena virus hepatitis A, atau berdampak parah bila terinfeksi. 

Imunisasi ibu hamil ini dibuat dari virus yang sudah dilemahkan (inactivated virus), sehingga risikonya terhadap janin sangat rendah. 

Maka itu, dokter biasanya akan mempertimbangkan lebih besar risiko atau manfaatnya untuk ibu hamil dengan mendapatkan imunisasi ini. 

5. Vaksin COVID-19 (Pfizer, Moderna, atau vaksin mRNA lain)

Panduan terbaru dari CDC menyatakan vaksin COVID-19 berbasis mRNA aman untuk ibu hamil. Vaksin ini terbukti menurunkan risiko gejala berat dan perawatan intensif dari COVID-19. 

Vaksinasi COVID-19 juga mengurangi kemungkinan kelahiran prematur akibat infeksi COVID-19.

Efektivitas imunisasi ibu hamil ini tinggi dan tidak meningkatkan risiko keguguran. Antibodi dari vaksin justri dapat diteruskan ke janin di dalam kandungan melalui plasenta. 

Baca Juga: Pantangan Ibu Hamil Trimester 2 dan Tips agar Kehamilan Sehat

Jenis Imunisasi yang Perlu Ditunda atau Dihindari

Tidak semua vaksin aman untuk ibu hamil karena kandungan virus hidup atau data keamanan yang terbatas. Berikut beberapa jenis imunisasi yang sebaiknya dihindari ibu hamil:

1. Vaksin MMR (Campak, Gondongan, Rubella)

Vaksin MMR mengandung virus hidup yang dilemahkan. Komponen ini dapat menimbulkan risiko infeksi meski kemungkinannya rendah.

Imunisasi dengan vaksin MMR selama kehamilan tidak direkomendasikan karena potensi risiko terhadap janin, salah satunya yakni dapat menimbulkan congenital rubella syndrome (CRS).

Idealnya, vaksin ini diberikan minimal 1 bulan sebelum kehamilan dimulai. Ini memberi waktu tubuh membentuk antibodi tanpa membahayakan kehamilan.

2. Vaksin Varisela (Cacar Air)

Vaksin varisela termasuk dalam kategori vaksin hidup yang dilemahkan. Jenis ini tidak dianjurkan sebagai imunisasi saat hamil karena risikonya pada janin.

Jika diberikan saat hamil, vaksin ini dapat memicu komplikasi serius pada perkembangan janin. Oleh karena itu, sebelum menerima vaksin, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. 

Imunisasi varisela sebaiknya dilakukan sebelum kehamilan, terutama bila ibu belum memiliki kekebalan terhadap virus ini.

3. Vaksin HPV (Human Papillomavirus)

Vaksin HPV tidak dianjurkan sebagai imunisasi saat hamil karena belum cukup data tentang keamanannya. Vaksin ini sebaiknya ditunda hingga setelah persalinan.

Jika rangkaian vaksin sudah dimulai sebelum hamil, sisa dosis tidak perlu diulang. Dosis lanjutan cukup diberikan setelah Bunda melahirkan.

4. Vaksin Dengue (Dengvaxia)

Sejauh ini, belum ada cukup studi untuk menjamin manfaat imunisasi vaksin dengue untuk ibu hamil.

Salah satu risiko utama adalah reaksi serius jika vaksin diberikan pada ibu yang belum pernah terinfeksi dengue sebelumnya. Ini bisa meningkatkan kemungkinan komplikasi.

Vaksin dengue hanya boleh diberikan jika Bunda sudah pernah terinfeksi dengue sebelumnya. Sebelum mendapatkan vaksin, dibutuhkan konfirmasi dari laboratorium terlebih dahulu.

5. Vaksin BCG (Tuberkulosis)

Vaksin BCG digunakan untuk mencegah tuberkulosis pada anak maupun orang dewasa. Namun, vaksin ini mengandung bakteri hidup yang dilemahkan.

Oleh karena itu, imunisasi saat hamil dengan BCG tidak dianjurkan. Ada potensi risiko terhadap janin meskipun buktinya masih terbatas.

Baca Juga: 10 Cara Ampuh Mengatasi Sakit Punggung saat Hamil

Daftar Vaksin yang Aman dan Dilarang untuk Ibu Hamil

Untuk memudahkan Bunda dalam mencari tahu imunisasi ibu hamil apa saja yang disarankan dan yang sebaiknya tidak diberikan, berikut daftar rangkumannya:

Jenis Vaksin

Status saat Hamil

Waktu Pemberian Ideal

Manfaat/Alasan

Tetanus/DPT (Tdap)

Dianjurkan

Usia 27–36 minggu (setiap kehamilan)

Melindungi ibu & bayi dari tetanus, difteri, pertusis.

Influenza (Flu)

Dianjurkan

Bisa kapan saja (trimester berapa pun)

Mencegah komplikasi flu, risiko prematur, dan berat lahir rendah

Hepatitis B

Dianjurkan bila berisiko

Sesuai jadwal dokter, biasanya 3 dosis dalam 6 bulan

Cegah penularan hepatitis B dari ibu ke bayi

Hepatitis A

Dianjurkan dalam kondisi tertentu

Sesuai pertimbangan dokter

Lindungi ibu dengan riwayat penyakit hati kronis

COVID-19 (mRNA)

Dianjurkan

Sebelum hamil atau selama hamil

Kurangi risiko gejala berat & komplikasi COVID-19

MMR (Campak, Gondongan, Rubella)

Tidak dianjurkan

Minimal 1 bulan sebelum hamil / setelah melahirkan

Vaksin hidup, berisiko menyebabkan cacat lahir

Varisela (Cacar Air)

Tidak dianjurkan

Sebelum hamil

Vaksin hidup, berisiko pada janin

HPV

Ditunda

Setelah melahirkan

Belum cukup data keamanan saat hamil

Dengue (Dengvaxia)

Ditunda

Hanya jika pernah infeksi dengue (butuh tes lab)

Risiko komplikasi jika diberikan pada yang belum pernah kena

BCG (Tuberkulosis)

Tidak dianjurkan

Sebelum atau setelah hamil

Vaksin hidup, berisiko pada janin

Baca Juga: 9 Cara Mengatasi Pusing saat Hamil yang Aman

Tips Penting Sebelum Imunisasi saat Hamil

Sebelum mendapatkan imunisasi ibu hamil, tips berikut sebaiknya Bunda terapkan:

  • Meski sudah dinyatakan aman, sebaiknya tetap konsultasi dengan dokter kandungan sebelum menerima vaksin apa pun termasuk yang dianjurkan selama kehamilan.
  • Lakukan skrining kesehatan bila diperlukan, misalnya tes hepatitis B.
  • Jika memungkinkan lengkapi vaksinasi sebelum hamil, terutama untuk MMR dan varisela.
  • Pantau efek samping ringan, seperti demam dan nyeri di bekas suntikan, yang biasanya hilang dalam 1–2 hari.

Selama melengkapi imunisasi, Bunda juga perlu memenuhi kebutuhan gizi selama kehamilan untuk jaga kesehatan dari makanan bergizi dan dampingan konsumsi susu hamil yang tepat.

SGM Bunda

Susu untuk Ibu Hamil dan Menyusui
Tinggi Zat Besi dan Asam Folat
Dengan Rasa yang Lezat 

Cari Tahu di Sini!

SGM Bunda High-Iron adalah susu untuk ibu hamil dan menyusui yang tinggi zat besi & asam folat, juga diperkaya DHA, minyak ikan tuna, sekaligus sumber protein. Dukung ​nutrisi lengkap mengoptimalkan pertumbuhan & perkembangan janin, lezatnya tidak bikin mual.

Tertarik mencoba? Daftar jadi member Klub Generasi Maju sekarang untuk berkesempatan mendapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk SGM pertama Bunda! Dengan jadi member, Bunda juga mendapat akses gratis ke ratusan artikel parenting yang terverifikasi ahli, fitur pendukung tumbuh kembang anak, hingga konsultasi 24 jam bersama para ahli. 

Informasi yang Wajib Bunda Ketahui

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Bunda

Temukan Topik Lainnya