Induksi persalinan adalah tindakan medis untuk membantu mempercepat proses melahirkan dengan obat atau metode tertentu. Yuk, kenali manfaat induksi persalinan dan serta risiko agar Bunda lebih siap menghadapinya!
Manfaat Induksi Persalinan
Induksi persalinan bisa dilakukan dengan obat (oksitosin, prostaglandin) maupun metode lain, seperti balon kateter, sweeping membran, atau pemecahan ketuban.
Jika dokter merekomendasikan induksi, biasanya ada alasan medis penting demi kesehatan Bunda dan bayi. Berikut adalah beberapa manfaat induksi persalinan untuk ibu hamil:
1. Mengurangi Risiko pada Bayi
Manfaat induksi persalinan bisa membantu melindungi janin di dalam kandungan, terlebih ketika kondisi kehamilan sudah berisiko.
Sebagai contoh, ibu hamil dengan kondisi medis tertentu, seperti diabetes gestasional, hipertensi, hingga infeksi, berisiko membahayakan perkembangan janin.
Dengan induksi, persalinan bisa dilakukan lebih cepat sebelum risiko komplikasi pada bayi semakin meningkat.
2. Mengurangi Risiko pada Ibu
Ibu hamil dengan kondisi medis seperti diabetes gestasional, hipertensi, infeksi ketuban (chorioamnionitis) bisa mengalami komplikasi serius yang mengancam nyawa.
Induksi persalinan akan membantu mencegah agar kondisi ibu hamil tidak semakin memburuk, bahkan bisa dilakukan penanganan yang lebih baik setelah bayi dilahirkan.
3. Memudahkan Proses Persalinan Terencana
Manfaat induksi persalinan juga membantu Bunda menentukan persalinan yang terencana meski tidak memiliki indikasi medis khusus. Ini disebut induksi elektif.
Induksi persalinan elektif ini umumnya jadi pilihan bila ibu hamil tinggal jauh dari rumah sakit atau punya riwayat melahirkan dalam waktu yang cepat sebelumnya.
Sebelum memilih induksi elektif, dokter akan memastikan dulu kalau usia kehamilan Bunda sudah mencapai 39 minggu. Di masa ini, janin sudah matang dan kemungkinan komplikasinya kecil.
4. Mengurangi Risiko Komplikasi Kelahiran
Jika ibu hamil punya riwayat mengalami komplikasi kehamilan atau kelahiran karena kondisi medis tertentu, maka manfaat induksi persalinan bisa membantu menurunkan risiko ini.
Penelitian menemukan bahwa melakukan induksi persalinan di usia kehamilan 39-40 minggu dapat menurunkan risiko beberapa komplikasi, seperti lahir mati (stillbirth), bayi lahir besar (makrosomia), dan tekanan darah tinggi.
Baca Juga: Bayi Sungsang, Bagaimana Mengatasinya?
5. Tetap Memungkinkan Persalinan Normal
Memilih melahirkan dengan metode induksi akan memungkinkan Bunda melahirkan melalui persalinan normal.
Artinya, meskipun proses persalinan dipercepat dengan obat atau metode tertentu, ibu tetap bisa menjalani persalinan pervaginam, bukan operasi caesar.
National Institutes of Health (NIH) menemukan bahwa ibu hamil yang melahirkan dengan metode induksi di usia kehamilan 39 minggu punya risiko lebih rendah untuk menjalani operasi caesar dibandingkan ibu hamil yang menunggu kontraksi alami.
6. Mengurangi Risiko Kematian Janin dalam Kandungan
Pada usia kehamilan lebih dari 42 minggu, fungsi plasenta bisa mengalami penurunan dan cairan ketuban semakin berkurang, sehingga pasokan oksigen dan nutrisi janin menurun.
Ibu hamil juga berisiko melahirkan bayi yang ukuran tubuhnya lebih besar dari rata-rata atau disebut makrosomia janin. Kondisi ini dapat menyebabkan trauma pada bayi saat persalinan.
Semua risiko tersebut dapat meningkatkan komplikasi pada bayi selama persalinan, bahkan menempatkan pada risiko lahir mati (stillbirth).
Dengan menjalani induksi persalinan, Bunda bisa segera melahirkan normal dan risiko tersebut dapat dihindari.
7. Mendukung Pemulihan yang Lebih Cepat
Jika dilakukan sesuai indikasi, induksi dapat mencegah terjadinya komplikasi serius, seperti preeklamsia atau infeksi, yang biasanya membuat proses pemulihan pasca melahirkan jadi lebih lama.
Melalui induksi persalinan, proses melahirkan bisa dipercepat tanpa harus menunggu kontraksi alami muncul, terutama jika ibu hamil memiliki risiko bila kehamilan dibiarkan lebih lama.
8. Menghindari Pecah Ketuban Terlalu Lama
Ketuban pecah dini (KPD) terjadi ketika cairan ketuban bocor lebih dulu sebelum persalinan dimulai. Pecahnya air ketuban ini biasanya tidak disertai dengan munculnya kontraksi.
Jika ketuban sudah pecah tapi kontraksi alami belum kunjung muncul, maka risiko infeksi dan komplikasi lainnya pada ibu dan bayi akan meningkat karena jalan lahir sudah terbuka.
Di momen inilah dokter dapat mempertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan agar proses persalinan bisa segera dimulai sekaligus meminimalisir risiko infeksi.
Baca Juga: 18 Tanda Persalinan Tinggal Menghitung Hari
Proses Induksi Persalinan Step by Step
Setiap rumah sakit mungkin memiliki prosedur berbeda, tergantung dari kondisi kehamilan ibu. Namun, secara umum induksi persalinan dilakukan melalui tahapan berikut:
1. Pemeriksaan Serviks (cervical check)
Dokter atau bidan akan menilai kesiapan leher rahim dengan metode skoring (Bishop score). Jika serviks masih keras dan tertutup, biasanya induksi diawali dengan obat untuk melunakkan serviks.
2. Pemberian Obat atau Metode Induksi
Induksi dapat dilakukan dengan pemberian obat atau metode tertentu, tergantung dari rekomendasi dokter atas kondisi atau perkembangan kehamilan Bunda.
Jika dengan obat prostaglandin, dokter akan memasukkan obat ke vagina untuk membantu melunakkan dan membuka serviks. Obat oksitosin diberikan melalui infus untuk merangsang kontraksi rahim.
Induksi lewat metode mekanis seperti balon kateter atau sweeping membran dapat dilakukan untuk memicu pembukaan serviks.
Selain itu, dokter dapat melakukan amniotomi, yaitu prosedur memecahkan selaput ketuban agar kontraksi lebih cepat muncul.
3. Monitoring Janin dan Ibu
Selama induksi, detak jantung bayi dan kontraksi ibu akan terus dipantau dengan alat CTG (cardiotocography) untuk memastikan kondisi aman.
4. Munculnya Kontraksi
Bila metode berhasil, kontraksi akan semakin kuat dan teratur hingga persalinan berlangsung normal.
Jika kontraksi tidak muncul atau terjadi komplikasi, dokter dapat menyarankan tindakan lain, termasuk operasi caesar.
Kapan Induksi Persalinan Tidak Diperbolehkan?
Ada beberapa kondisi medis yang membuat induksi persalinan tidak dianjurkan karena justru bisa meningkatkan risiko komplikasi. Di antaranya:
1. Ada Plasenta Previa
Jika plasenta menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir, persalinan normal tidak memungkinkan. Dalam kasus ini, induksi tidak aman dan operasi caesar lebih disarankan.
2. Posisi Bayi Sungsang atau Melintang
Bila bayi tidak berada dalam posisi kepala di bawah, persalinan normal bisa berisiko. Induksi tidak dianjurkan karena dapat menyulitkan proses lahir.
3. Riwayat Operasi Caesar dengan Sayatan Tertentu
Ibu dengan riwayat caesar klasik (sayatan vertikal pada rahim) berisiko tinggi mengalami robekan rahim jika menjalani induksi.
4. Kondisi Medis Lain
Misalnya, adanya kelainan bentuk rahim atau masalah tali pusat tertentu. Dokter akan mempertimbangkan secara menyeluruh sebelum memberi rekomendasi.
Risiko dan Efek Samping Induksi Persalinan
Selayaknya prosedur medis pada umumnya, di balik manfaat induksi persalinan, ada beberapa risiko atau efek samping yang perlu Bunda ketahui, yakni:
1. Kontraksi Terlalu Kuat
Obat yang diberikan untuk memulai induksi persalinan dapat menimbulkan rasa sakit yang sangat mengganggu dan membuat Bunda tidak nyaman.
Pasalnya, obat ini memang bekerja untuk merangsang terjadinya kontraksi rahim. Kontraksi yang timbul bisa sangat menyakitkan, terasa seperti kram menstruasi yang sangat kuat.
2. Gagal Induksi hingga Berakhir Caesar
Tidak semua induksi persalinan bisa berhasil. Induksi dikatakan gagal ketika proses persalinan tidak berjalan sebagaimana mestinya setelah 24 jam atau lebih sejak dilakukan.
Dalam hal ini, misalnya tidak muncul kontraksi rahim sehingga persalinan normal tidak dapat dimulai. Jika hal ini terjadi, maka operasi caesar mungkin diperlukan.
Baca Juga: Melahirkan di Air: Proses, Syarat, dan Keuntungan Water Birth
3. Infeksi pada Ibu atau Bayi
Metode induksi persalinan tertentu, seperti pemecahan ketuban (membrane rupture), yang berlangsung terlalu lama dapat meningkatkan risiko infeksi pada ibu hamil maupun bayinya.
Jika persalinan tidak kunjung mulai, risiko komplikasi seperti infeksi intraamnion dan solusio plasenta dapat meningkat terutama di usia kehamilan cukup bulan.
4. Risiko pada Bayi (Detak Jantung Melemah dan Stres Janin)
Sebelumnya sempat dijelaskan bahwa obat-obatan yang dipakai dalam induksi persalinan dapat menimbulkan kontraksi berlebihan.
Kontraksi yang tidak biasa ini bisa menurunkan persediaan oksigen untuk bayi serta menurunkan denyut jantungnya. Hal ini berisiko menimbulkan stres pada janin.
Itulah penjelasan lengkap tentang manfaat dan risiko efek samping induksi persalinan.
Daftar jadi member Klub Generasi Maju sekarang untuk dapatkan akses gratis ke ratusan artikel parenting yang terverifikasi ahli, fitur pendukung tumbuh kembang anak, hingga konsultasi 24 jam bersama para ahli. Dengan jadi member, Bunda juga berkesempatan dapat hadiah menarik dari setiap pembelian produk SGM!