Facebook Pixel Code Kenali Gejala, Penyebab, dan Pencegahan Stunting pada Anak

Stunting pada Anak: Penyebab, Dampak, dan Penanganannya

Foto Reviewer dr. Marlisye Marpaung, M.Ked(Ped), Sp.A(K)

Disusun oleh: Tim Penulis

Ditinjau oleh: dr. Marlisye Marpaung, M.Ked(Ped), Sp.A(K)

Diterbitkan: 12 November 2018

Diperbarui: 26 Juni 2025

0 - 3 Bulan
Tumbuh Kembang
Cover Image of Stunting pada Anak: Penyebab, Dampak, dan Penanganannya

 

Stunting pada anak masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia, 19,8% anak mengalami stunting akibat kekurangan gizi kronis pada 2024. 

Apa itu Stunting?

Stunting adalah gangguan tumbuh kembang anak yang terjadi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (sejak bayi masih dalam kandungan hingga usia 2 tahun).

Kementerian Kesehatan RI mendefinisikan stunting sebagai gangguan tumbuh kembang yang disebabkan kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan sanitasi lingkungan yang buruk selama 1.000 HPK anak.

Menurut WHO, stunting didefiniskan sebagai tinggi badan anak yang lebih rendah dari standar usianya (PB/U atau TB/U). 

Baca Juga: Cara Membaca Grafik Pertumbuhan Anak dari WHO

Mengapa Stunting Menjadi Masalah Serius di Indonesia?

Menurut survey Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) dari Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting pada anak di Indonesia turun dari 21,6% pada tahun 2022 menjadi 19,8% di tahun 2024.

Meski telah mengalami penurunan, prevalensi stunting di Indonesia masih terbilang tinggi sehingga tetap jadi masalah serius di masyarakat.

Stunting dapat berdampak pada penurunan prestasi belajar, produktivitas, dan kesehatan anak. Anak yang mengalami stunting umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah dan lebih mudah terserang penyakit.

Terlebih, stunting tidak dapat disembuhkan sepenuhnya jika usia anak sudah di atas 2 tahun. Dalam jangka panjang, stunting akan berpengaruh besar pada kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. 

Perbedaan Stunting dengan Gizi Buruk

Banyak orang masih salah mengira stunting sama dengan gizi buruk, padahal keduanya memiliki perbedaan yang jelas.

Gizi buruk lebih mengarah pada kondisi kekurangan gizi akut yang menyebabkan tubuh sangat kurus akibat penurunan berat badan drastis dalam waktu singkat.

Sedangkan stunting bersifat kronis dan terjadi perlahan dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Stunting menyebabkan tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya.

Baca Juga: Penyebab Weight Faltering pada Bayi, Akibat, & Cara Mengatasi

Penyebab Utama Stunting pada Anak

Stunting disebabkan oleh banyak faktor, seperti gizi ibu saat hamil, asupan anak, infeksi, dan sanitasi buruk. Semua faktor ini saling berkaitan dan memengaruhi tumbuh kembang anak.

Lalu, apa penyebab anak terkena stunting? 

1. Kurangnya Asupan Gizi Sejak dalam Kandungan

Gizi ibu selama kehamilan berperan penting dalam perkembangan janin. Jika ibu hamil kekurangan zat gizi penting seperti zat besi, protein, dan asam folat, pertumbuhan janin bisa terganggu.

Kondisi ini membuat bayi lahir dengan berat badan rendah dan berisiko tinggi mengalami stunting sejak awal kehidupannya.

2. Infeksi Berulang dan Sanitasi yang Buruk

Infeksi yang terjadi berulang kali, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan, dapat mengganggu penyerapan nutrisi anak. Anak menjadi lebih sulit tumbuh optimal meskipun asupan gizinya mencukupi.

Kondisi lingkungan yang kotor dan sanitasi yang tidak memadai turut memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi.

Kebiasaan cuci tangan yang buruk dan akses air bersih yang terbatas memperburuk kondisi kesehatan anak.

3. Pola Asuh yang Tidak Tepat

Pola pengasuhan yang kurang responsif dan minim pengetahuan gizi menjadi salah satu penyebab stunting pada anak sejak usia bayi.

Ibu yang tidak tahu cara menyajikan makanan bergizi seimbang berisiko memberi asupan yang kurang sesuai.

Selain itu, pemberian ASI eksklusif yang tidak optimal serta keterlambatan pemberian MPASI juga berkontribusi terhadap kekurangan nutrisi anak di masa krusial pertumbuhannya.

4. Faktor Sosial dan Ekonomi Keluarga

Keluarga dengan kondisi ekonomi lemah kerap mengalami kendala dalam menyediakan asupan makanan yang bergizi bagi anggota keluarganya.

Keterbatasan penghasilan membuat orang tua lebih memilih makanan murah yang kurang nilai gizinya.

Di sisi lain, kurangnya akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan informasi gizi juga memperparah kondisi anak yang rentan mengalami stunting.

Apa Ciri-Ciri Stunting pada Anak?

Stunting ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih rendah daripada standar usianya. Namun, stunting juga bisa mengganggu perkembangan kognitif bayi dan masalah tumbuh kembang lainnya.

1. Tinggi Badan Tidak Sesuai Usia

Tanda paling umum dari stunting adalah tinggi badan anak yang jauh di bawah rata-rata usianya. Anak terlihat lebih pendek dibanding teman sebayanya meski usia mereka sama.

Ciri ini bisa diukur secara medis menggunakan kurva pertumbuhan WHO. Jika hasil pengukuran menunjukkan tinggi badan < -2 SD dari standar, anak berpotensi mengalami stunting.

2. Pertumbuhan Melambat Dibandingkan Anak Sebaya

Anak dengan kondisi stunting umumnya berkembang dengan kecepatan lebih lambat dibandingkan anak-anak lain pada usia yang sama. Berat badan dan tinggi badan bertambah sangat perlahan atau bahkan stagnan dalam waktu lama.

Hal ini dapat terlihat jelas ketika anak tidak menunjukkan kemajuan ukuran tubuh yang signifikan selama beberapa bulan. Keterlambatan ini sering kali luput dari perhatian jika tidak dimonitor secara rutin.

3. Penurunan Aktivitas dan Konsentrasi

Anak stunting cenderung lebih pasif, mudah lelah, dan kurang aktif bermain dibanding anak lain. Energinya tampak rendah meski tidak sedang sakit.

Selain itu, anak juga menunjukkan kesulitan dalam menjaga fokus dan konsentrasi saat belajar atau beraktivitas. Hal ini terjadi akibat kekurangan nutrisi yang secara langsung memengaruhi kinerja otak.

Kapan Stunting Mulai Terlihat?

Ciri stunting biasanya terlihat saat anak berusia 2 tahun, terutama tinggi badan yang lebih pendek daripada anak seusianya.

Namun, beberapa gejala awal mungkin sudah bisa terdeteksi sejak anak berusia dini, bahkan saat masih dalam kandungan jika Bunda mengalami kekurangan gizi selama masa kehamilan.

Stunting yang terlambat terdeteksi biasanya tampak jelas setelah usia 2 tahun, namun masih bisa dikurangi dampaknya lewat intervensi medis.

Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang Stunting

Stunting bukan hanya soal tinggi badan. Dampaknya jauh lebih luas dan dapat dirasakan hingga anak dewasa nanti.

1. Gangguan Pertumbuhan Fisik

Anak dengan stunting mengalami pertumbuhan tulang yang terganggu sehingga tinggi badannya sulit mencapai potensi maksimal. Tubuh anak tampak lebih kecil dan kurus dibanding anak lain seusianya.

Dalam waktu dekat, masalah pertumbuhan ini menyebabkan anak menjadi lebih mudah terserang infeksi dan berbagai penyakit. Tubuh yang tidak berkembang optimal juga berisiko terhadap berbagai komplikasi kesehatan.

2. Hambatan Perkembangan Otak dan Kognitif

Stunting memengaruhi perkembangan otak anak secara langsung. Kekurangan nutrisi kronis di masa awal kehidupan menghambat pembentukan koneksi saraf di otak.

Akibatnya, anak mengalami kesulitan belajar, kurang responsif, dan memiliki IQ lebih rendah. Dalam jangka panjang, hal ini berdampak pada prestasi akademik dan produktivitas kerja saat dewasa.

3. Risiko Penyakit Kronis di Masa Dewasa

Anak yang mengalami stunting memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Hal ini terjadi karena sistem tubuh tidak berkembang optimal sejak dini.

Selain itu, stunting juga berhubungan dengan penurunan kapasitas kerja dan potensi penghasilan.

Dengan kata lain, dampak ekonomi dari stunting bisa dirasakan secara personal maupun nasional dalam jangka panjang.

Apakah Stunting Bisa Sembuh?

Stunting pada anak yang sudah melewati usia 2 tahun umumnya tidak bisa dipulihkan sepenuhnya. Namun, kondisi si Kecil masih bisa diperbaiki agar tidak memburuk dan kualitas hidupnya tetap terjaga. 

Penanganan utama difokuskan pada pemenuhan gizi dan pengobatan penyakit penyerta, terutama saat anak masih di bawah usia 2 tahun. Penelitian menunjukkan pemulihan stunting lebih efektif jika dilakukan sebelum usia 2 tahun.

Lalu, jika anak sudah stunting, apa yang harus dilakukan?

Penanganan Stunting pada Anak

Hal pertama membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan status gizi dan tumbuh kembang. Dokter akan mengevaluasi penyebab dan merancang strategi pemulihan yang sesuai.

Mengacu pada Kementerian Kesehatan, penanganan stunting mencakup perbaikan pola makan, pengobatan infeksi, serta edukasi pengasuhan.

Selain itu, Bunda perlu lebih membekali diri dengan cara-cara stimulasi kognitif untuk bayi, cara menyusui yang tepat, cara pemberian MPASI yang sehat bergizi, hingga kebersihan lingkungan.

Anak stunting butuh asupan gizi tambahan dan pemantauan rutin. Penanganan efektif memerlukan kerja sama orang tua, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat.

Cara Mencegah Stunting Sejak Dini

Stunting pada anak dapat dicegah sejak usia bayi sedini mungkin. Berikut ini adalah beberapa cara mencegah stunting yang bisa dilakukan sejak usia bayi:

1. Perbaiki Gizi Bunda Selama Menyusui

Pencegahan stunting yang paling krusial harus sudah dilakukan sejak sebelum merencanakan kehamilan dan dilanjutkan sampai bayi lahir.

Kecukupan nutrisi Bunda selama menyusui juga memegang peranan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Bunda perlu menjaga asupan gizi seimbang selama masa menyusui, termasuk zat besi, asam folat, dan protein agar kualitas ASI tetap optimal dalam memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.

Dapatkan panduan lengkap menyusui eksklusif, solusi untuk tantangan menyusui, serta panduan nutrisi bagi Bunda dan si Kecil selama masa menyusui dengan mengunduh Panduan Bunda Menyusui. Download GRATIS, sekarang!

2. Pentingnya ASI Eksklusif dan MPASI

Memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama merupakan langkah penting untuk mencegah stunting pada anak sejak usia bayi.

ASI memberikan perlindungan imun dan nutrisi terbaik untuk bayi. Lalu setelah enam bulan, asupan gizi dari ASI harus diseimbangkan dengan pemberian MPASI.

MPASI pertama harus diberikan tepat waktu dalam bentuk makanan kaya gizi dan tekstur sesuai usia. MPASI yang terlalu encer atau kurang protein dan zat besi bisa menghambat pertumbuhan anak.

Untuk mempermudah perjalanan MPASI Bunda dan si Kecil nanti, download buku resep eksklusif Inspirasi Resep MPASI Kaya Zat Besi sekarang! Buku resep ini berisi kumpulan resep lezat bergizi dan mudah dibuat di rumah ala Chef Devina Hermawan dan dr. Brenda Shahnaz, CB, CIMI. Gratis!

Baca Juga: Kebutuhan ASI Bayi 0-6 Bulan dan Jadwal Menyusuinya

3. Imunisasi dan Kebersihan Lingkungan

Imunisasi dasar lengkap membantu mencegah berbagai penyakit infeksi yang bisa memengaruhi penyerapan nutrisi. Anak yang mengalami penyakit, khususnya diare dan infeksi saluran pernapasan, memiliki resiko besar terkena stunting.

Kebersihan lingkungan juga tidak kalah penting. Sanitasi buruk, seperti air yang tercemar dan kurangnya fasilitas MCK, meningkatkan risiko infeksi usus yang memperburuk kondisi gizi anak.

4. Edukasi Gizi dan Konseling Keluarga

Orang tua memiliki peran utama dalam pengasuhan dan pemberian gizi anak. Sayangnya, banyak dari mereka yang kurang informasi tentang cara menyusun pola makan sehat yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Melalui konseling gizi, keluarga bisa mendapatkan arahan tentang makanan yang tepat, porsi seimbang, serta jadwal makan yang ideal. Ini membantu memastikan anak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup dan tepat setiap hari.

Masih punya pertanyaan seputar nutrisi dan tumbuh kembang si Kecil? Yuk, hubungi Sahabat Bunda Generasi Maju! Tim Careline kami siap membantu dengan pengetahuan dan informasi terpercaya tentang nutrisi dan perkembangan anak.

Informasi yang Wajib Bunda Ketahui

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Bunda

Temukan Topik Lainnya