Facebook Pixel Code 8 Dampak Anemia Pada Anak dan Pencegahannya

8 Dampak Anemia Pada Anak dan Pencegahannya

Foto Reviewer dr. Yuli Ariani, Sp.A(K)

Disusun oleh: Tim Penulis

Ditinjau oleh: dr. Yuli Ariani, Sp.A(K)

Diterbitkan: 10 April 2025

1 Tahun
Kesehatan
Cover Image of 8 Dampak Anemia Pada Anak dan Pencegahannya

 

Pada tahun 2022, Kemenkes mencatat sekitar 3 dari 10 anak di Indonesia mengalami anemia. Dampak anemia pada anak itu sangat serius, lho, Bun. Yuk, cari tahu cara mencegah dan mengatasinya!

Apa itu Anemia?

Anemia adalah kondisi tubuh yang kekurangan sel darah merah karena rendahnya jumlah hemoglobin. Hal ini menyebabkan distribusi oksigen ke seluruh tubuh jadi terganggu.

Anemia pada anak paling sering disebabkan oleh kekurangan zat besi. Namun, anemia juga dapat disebabkan penyakit bawaan, pola makan yang tidak seimbang, atau penyakit autoimun.

Anak berusia 6–23 bulan memiliki risiko tertinggi untuk mengalami anemia dibanding kelompok usia lainnya.

Baca juga: 8 Cara Diagnosis Anemia pada Anak di Dokter

Dampak Anemia pada Tumbuh Kembang Anak

Anemia bisa berdampak serius terhadap pertumbuhan anak dalam jangka pendek maupun panjang. Berikut penjelasannya.

1. Gangguan Pertumbuhan Fisik

Anemia yang terjadi dalam jangka waktu panjang (kronis) dapat menghambat pertumbuhan anak. 

Pasalnya, kekurangan sel darah merah dan hemoglobin dapat menyebabkan penyaluran oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh menjadi terhambat.

Terhambatnya asupan oksigen dan darah bernutrisi ini dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat.

2. Gangguan Kognitif

Dampak anemia pada anak dalam jangka panjang dapat memengaruhi perkembangan otak, termasuk penurunan fungsi hippocampus yang berperan dalam kemampuan belajar.

Studi menunjukkan bahwa anak yang mengalami anemia sejak bayi bisa mengalami kesulitan berpikir, mengingat, dan memahami informasi dengan baik.

Selain itu, anemia pada anak juga bisa meningkatkan risiko masalah perilaku hingga usia 6–12 tahun, yang berpengaruh pada prestasi akademik dan sosialnya.

Baca juga: Waspadai Penularan TBC pada Anak dan Cara Pencegahannya

3. Risiko Stunting

Dampak anemia defisiensi zat besi dikaitkan juga dengan stunting pada anak. Anemia defisiensi zat besi dapat menghambat pertumbuhan anak karena zat besi penting untuk produksi energi dan sintesis DNA.

Kekurangan zat besi juga dapat menurunkan nafsu makan, sehingga anak tidak mendapatkan nutrisi yang cukup.

Selain itu, anemia dapat melemahkan sistem imun, membuat anak lebih rentan terhadap infeksi. Infeksi yang sering terjadi dapat memperburuk malnutrisi dan berkontribusi pada stunting.

Sebuah studi di Indonesia menemukan, bayi usia 6–9 bulan yang mengalami anemia berisiko lebih tinggi terhadap stunting dibandingkan dengan bayi tanpa anemia.

4. Penurunan Daya Tahan Tubuh

Zat besi sangat penting untuk menjaga daya tahan tubuh anak. Zat besi diperlukan untuk menjaga jumlah dan fungsi sel T (sel darah putih) yang berperan penting dalam melawan infeksi dan penyakit.

Anak yang mengalami anemia defisiensi zat besi cenderung lebih rentan terkena infeksi, dan proses penyembuhan luka mereka juga lebih lambat.

5. Keterlambatan Perkembangan Motorik

Anemia dapat menghambat perkembangan motorik anak di berbagai tahap usia.

Anak dengan anemia akibat kekurangan zat besi (ADB = anemia defisiensi besi) berpotensi mengalami keterlambatan dalam kemampuan gerak dan koordinasi tubuh.

6. Risiko Penyakit Kronis di Masa Depan

Dampak anemia yang parah akan memaksa jantung bekerja lebih keras untuk menyuplai oksigen ke tubuh. 

Hal ini dapat menambah risiko penyakit serius di kemudian hari seperti gangguan jantung, infeksi, dan gangguan saraf.

Baca Juga: Ini Nutrisi Pengganti Susu Sapi untuk Dukung Si Kecil yang berusia di atas 1 Tahun

7. Keterlambatan Berbahasa dan Komunikasi

Selain dampak pada kehidupan sosial dan kognitif, suatu penelitian menemukan adanya keterkaitan antara anemia dengan perkembangan bahasa pada anak usia 12-18 bulan.

Anak yang mengalami anemia akibat kekurangan zat besi cenderung menerima dan mencari lebih sedikit stimulasi dari pengasuhnya, yang dapat menyebabkan mereka menjadi lebih terisolasi.

Isolasi tersebut akhirnya berdampak pada perkembangan kemampuan verbal anak di kemudian hari.

8. Perilaku Pasif dan Tidak Bersemangat

Anak yang mengalami anemia sejak bayi cenderung lebih mudah marah, cepat frustrasi, dan kurang menunjukkan emosi positif. Mereka juga lebih pasif dan tidak seaktif anak lainnya.

Perilaku ini bisa menunjukkan bahwa dampak anemia membuat anak lebih waspada, cenderung menarik diri, dan merasa ragu saat berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan sekitarnya.

Cara Mencegah dan Mengatasi Anemia pada Anak

Ada beberapa cara agar Bunda dapat mencegah dan mengatasi anemia pada anak, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Pola Makan Tinggi Zat Besi

Zat besi sangat berperan dalam memproduksi hemoglobin, yang membawa oksigen dalam darah. Jadi, selalu pastikan si Kecil mengonsumsi makanan kaya zat besi, seperti:

Untuk memenuhi kebutuhan zat besi anak, utamakan memberikan makanan kaya zat besi, dari protein hewani minimal 2 kali sehari karena zat besi heme di dalamnya mudah diserap. 

Namun, asupan zat besi dari sumber nabati seperti bayam dan brokoli juga tetap penting untuk lengkapi gizi si Kecil.

Bunda juga dapat memberikan susu untuk anak anemia, sebagai pendamping suplemen zat besi. Susu yang diperkaya zat besi dan vitamin C dapat membantu dalam mencukupi asupan gizi si Kecil.

2. Hindari Makanan yang Menghambat Penyerapan Zat Besi

Makanan dan minuman tertentu yang mengandung fitat, polifenol, tanin, dan kalsium tinggi dapat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh.

Beberapa contoh makanan yang dapat menghambat penyerapan zat besi adalah:

  • Biji-bijian utuh, kedelai, dan kacang-kacangan.
  • Teh, kopi, anggur, kakao.
  • Beberapa sayuran berserat tinggi seperti lobak.

Untuk mengoptimalkan penyerapannya, sebaiknya batasi makanan ini atau hindari mengonsumsinya pada waktu yang bersamaan dengan makanan tinggi zat besi. 

3. Perkaya Asupan Vitamin C 

Vitamin C dapat membantu tubuh menyerap zat besi dengan lebih baik.

Vitamin C membantu penyerapan zat besi dengan mengubah bentuk zat besi non-heme (dari sumber nabati) menjadi bentuk yang lebih mudah diserap oleh tubuh.

Selain itu, vitamin C juga mencegah zat besi berikatan dengan senyawa penghambat seperti fitat dan tanin, sehingga meningkatkan ketersediaan zat besi untuk diserap di usus.

4. Konsumsi Makanan Kaya Folat dan Vitamin B12

Folat dan vitamin B12 berperan penting dalam produksi sel darah merah. Pastikan anak mengonsumsi sayuran hijau, kacang-kacangan, telur, dan susu untuk mencegah anemia.

Baca Juga: 15 Rekomendasi Makanan untuk Anemia Pada Anak

5. Beri Suplemen Zat Besi Jika Diperlukan

Jika asupan makanan tidak mencukupi, Bunda mungkin dapat mempertimbangkan untuk memberi suplemen zat besi atau vitamin untuk anak

Jangan lupa konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu ya, Bun, untuk memastikan dosis yang tepat dan menghindari efek samping.

6. Tidur yang Cukup

Tidur yang cukup dan berkualitas membantu tubuh meregenerasi sel, termasuk sel darah merah.

Usahakan agar si Kecil mendapatkan tidur yang cukup sesuai usianya agar tetap sehat dan bertenaga.

7. Jaga Kebersihan untuk Mencegah Infeksi

Ajarkan anak menjaga kebersihan, seperti mencuci tangan sebelum makan dan setelah bermain.

Ini dilakukan untuk mencegah infeksi yang akan mengganggu produksi sel darah merah, sehingga berpotensi memperburuk kondisi anemia.

Semoga pembahasan di atas membantu Bunda memahami dampak anemia lebih baik agar dapat melakukan pencegahan yang lebih efektif, ya. 

Jangan lupa gabung jadi member di Klub Generasi Maju untuk dapatkan beragam artikel terbaru tentang pentingnya zat besi untuk anak dan cara mencegah anemia defisiensi zat besi secara gratis!

Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Bunda

Temukan Topik Lainnya

SGM Eksplor Lebih Banyak Nutrisi

Image Banner SGM Eksplor Lebih Banyak Nutrisi